Sebagian besar pembelajar memandang belajar sebagai hal yang menakutkan. Belajar dipandang tidak menawarkan apa-apa selain rasa bosan, malas, dan capek. Tentu saja pandangan seperti ini sangat keliru. Namun itulah kenyataannya mungkin karena strategi kita yang kurang tepat, spirit kita yang kurang, atau stamina kita yang lemah. Akibatnya, kita dikalahkan oleh virus bosan dan kuman malas. (Khrisna Pabichara, 2013:15).
Kegiatan yang dilakukan berulang-ulang ada dua kemungkinan, apakah itu keterpaksaan atau kerelaan. Keterpaksaan selalu diatur bahkan dibuat hukuman, bila tidak dilakukan maka akan ada konsekuensi yang terjadi, akhirnya seseorang melakukannya dengan untuk mempertahankan hidup, atau mendapatkan sesuatu.
Sementara ada yang dilakukan dengan kerelaan ini bukan menjadi beban, tetapi justru dengan senang hati dilakukan apapun konsekuensi yang akan diterima kemudian.
Belajar dilakukan sepanjang hayat itu perintah, prinsip atau justru habit (kebiasaan dari dalam)? Bila kita belajar karena diperintah mungkin tepat jawaban ini untuk anak sekolah dasar.
Dalam hal ini sekolah formal membuat peraturan kapan harus belajar, boleh jadi sebagian anak sekolah masih memerlukan aturan sehingga mereka harus menerima beban belajar.
Bagaimana menumbuhkan belajar adalah prinsip hidup ini secara berangsur terjadi pada peserta didik sejak dari bangku sekolah lanjutan sampai perguruan tinggi. Sebagian mereka belajar menjadi rutinitas bahkan instrumen dirinya dalam mencapai apa yang ia harapkan.
Akhirnya bagaimana melahirkan belajar adalah habit, boleh jadi setelah menyelesaikan studi lanjut di program pendidikan tinggi, hal ini akan terus teruji mengapa mesti melanjutkan program pasca sarjana dan seterusnya.
Krisna Pabichara telah menemukan bahwa belajar yang dianggap beban justru akan menjadi masalah, tetapi belajar yang menjadi kebiasaan justru akan menjadi kebaikan.
Menurut beliau, ada rahasia pembelajar yang selalu siap untuk cerdas dalam belajar dan pembelajar yang kreatif dan sukses memahami pelajaran adalah;
1.Menemukan karakter belajar. Catat kebiasaan dalam beberapa waktu, maka ritme dari rutinitas akan mendapatkan hasilnya.
2.Berangkat dari kemauan kerja. Lakukan beberapa pemaksaan dalam belajar, khususnya disiplin waktu dan hasil tes yang ditargetkan, maka lama-lama akan mendapatkan hasilnya.
3.Menyusun rencana pelajaran. Membuat rencana boleh jadi selama satu tahun, satu bulan, atau satu pekan, boleh jadi rencana per harian itupun pasti bermanfaat.
4.Melatih kinerja otak. Mencari tantangan tidak perlu jauh, mengisi TTS, atau membuat jadwal rutin pekerjaan itupun bagian penting dari kinerja otak.
5.Menyimpulkan gagasan tertulis. Sampai sekarang kebiasaan menulis adalah penting, banyak bicara itu baik, tetapi menuliskannya itu yang paling utama.
6.Menangkap gagasan lisan. Berbicara menyampaikan pendapat itu adalah keterampilan, namun menangkap gagasan orang lain dengan mendengarkan secara saksama itulah awal dari keterampilan komunikasi lisan.
7.Bertanya dengan bijak. Mengetahui masalah dengan baik diawali dari bertanya, dan bertanya yang berbobot adalah mengetahui adanya perbedaan antara fakta dan cerita.
8.Berpikir lebih kritis. Tingkatan berpikir boleh jadi sampai pada melakukan koreksi terhadap satu pernyataan, namun memberi solusi sebagai alternatif jalan keluar itu adalah ciri kritis.
9.Mengatasi masalah belajar. Semua pasti pernah mengalami masalah, tetapi sikap kita terhadap apa yang sedang dihadapi menunjukkan kedewasaan dalam hidup ini.
10.Belajar bersama. Tidak semua harus diselesaikan sendiri, ternyata berbagai itu banyak hikmahnya, maka belajar bersama dengan mendengar lebih baik dari pada mendominasi ketika kita berkumpul dengan orang tercinta.
Membangun kebiasaan memang diawali dari pemaksaan, kemudian menjadi rutinitas yang menyenangkan, akhirnya habit timbul sebagai satu kebaikan.
Maka biasakanlah belajar dengan baik, awali hari dengan berdoa. lakukan belajar dengan baik iringi dengan target dan usaha, dan akhirnya serahkan semua kepada sang pencipta. Belajar dengan senang, akan mendapat berkah kalau tahu bahwa kegiatan ini ternyata juga bernilai ibadah.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.


















