Sekarang ini keadaan dunia makin sulit diprediksi, makin uncertainty, makin kompleks dan ambigu. Dibutuhkan lulusan yang memiliki kompetensi dan kemampuan soft skill, hard skill, sehingga kehadirannya menjadi jawaban dari kebutuhan zaman. Dan itu ada pada sarjana terapan. (Asep saefuddin, 2021).
Dunia terus berubah, tidak ada yang berhenti karena dengan berubah itulah maka ia disebut dengan dunia yang hidup. Berhenti bukan saja pasif, tetapi justru jadi masalah khususnya bagi kita yang terus berubah. Pilihannya ikut berubah atau tersingkir dibuang dan dihilangkan.
Sepertinya kejam, tetapi itulah dunia, bahkan masa depan perubahan dunia bukan saja tidak dapat diprediksi tetapi sulit diperkirakan dengan ilmu yang kita miliki hari ini. Tebak atau meraba dalam ketidak pastian menjadi alternatif terakhir bagi kita agar tetap bertahan.
Prof Asep Saifuddin menyadari bahwa boleh jadi kita hanya sekedar mempersiapkan diri, namun kenyataan yang terjadi kita sendiri memastikan tidak tahu persis. Namun agar tetap optimis beliau mencatat hal ini bahwa dalam lima tahun mendatang ada beberapa kompetensi yang menjadi ciri khas dan dibutuhkan dunia.
Sebagai akademisi kita harus terus melakukan yang terbaik dari kesepuluh yang dimaksud yakni;
1. Complex Problem Solving: ini adalah kemampuan seseorang dalam hal mengidentifikasi, menganalisis, dan menyelesaikan masalah yang kompleks dengan efektif. Hal ini dialkukan dengan melibatkan kemampuan untuk memahami masalah, mengidentifikasi solusi, dan mengimplementasikan solusi tersebut.
2. Critical Thinking: dalam kehidupan nyata maka ini adalah kemampuan untuk menganalisis informasi, mengidentifikasi pola, dan membuat keputusan yang logis dan berdasarkan bukti. Ini melibatkan kemampuan untuk mempertanyakan asumsi, mengidentifikasi bias, dan mempertimbangkan berbagai perspektif. Kemampuan seperti ini sangat pribadional, tetapi dapat dilakukan oleh siapa saja yang menginginkannya.
3. Creativity: seperti pada umumnya maka kemampuan ini adalah untuk menghasilkan ide-ide baru dan inovatif, serta menemukan solusi yang unik untuk masalah. Ini melibatkan kemampuan untuk berpikir di luar kotak, mengambil risiko, dan bereksperimen dengan ide-ide baru khususnya untuk terobosan terkait dengan bisnis dan lainnya.
4. People Management: Kemampuan untuk memimpin, memotivasi, dan mengelola tim orang untuk mencapai tujuan yang sama. Ini melibatkan kemampuan untuk memahami kebutuhan dan kekuatan individu, serta mengembangkan strategi untuk meningkatkan kinerja tim.
5. Coordinating with Others: adalah sangat penting untuk melihat kemampuan bekerja sama dengan orang lain dalam mencapai tujuan yang sama. Ini melibatkan kemampuan untuk berkomunikasi efektif, membangun hubungan, dan mengelola konflik.
6. Emotional Intelligence: perlu dipahami bahwa IQ penting, tetapi EQ juga penting, maka kemampuan untuk memahami dan mengelola emosi sendiri dan orang lain. Ini melibatkan kemampuan untuk mengenali emosi, memahami dampak emosi pada perilaku, dan mengembangkan strategi untuk mengelola emosi.
7. Judgement and Decision Making: inilah yang utama yakni kemampuan untuk membuat keputusan yang tepat dan efektif, berdasarkan analisis dan pertimbangan yang cermat. Model kemampuan ini adalah untuk mempertimbangkan berbagai opsi, mengidentifikasi risiko, dan membuat keputusan yang seimbang.
8. Service Orientation: adalah kemampuan untuk memahami dan memenuhi kebutuhan pelanggan atau orang lain. kemampuan seperti ini untuk mendengarkan, memahami kebutuhan, dan memberikan solusi yang sesuai baik keadaan maupun kebutuhan.
9. Negotiation: dalam hal kemampuan untuk bernegosiasi dengan efektif untuk mencapai kesepakatan yang saling menguntungkan. Dengan kemampuan ini Ini melibatkan bagian untuk memahami kebutuhan dan kepentingan pihak lain, serta mengembangkan strategi untuk mencapai kesepakatan yang seimbang.
10. Cognitive Flexibility: bagian terakhir ini adalah kemampuan untuk beradaptasi dengan situasi yang berubah dan mempertimbangkan berbagai perspektif.
Kemampuan ini melibatkan berpikir fleksibel, mengelola ketidakpastian, dan mengembangkan strategi untuk menghadapi tantangan baru.
Sarjana terapan mungkin saja memiliki sebagian dari kesepuluh hal di atas, tetapi paling tidak kesiapan mereka menghadapi masa depan itu lebih nyata.
Siapapun itu bagi orang yang masih memiliki kesadaran bahwa esok hari adalah rencana, maka soft skill dan hard skill bukan pilihan tetapi bagian yang harus dipersiapkan. Ternyata benar hidup di masa depan adalah juga pilihan mau tetap bertahan, atau justru kita disingkirkan.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.


















