Rajinlah mendengarkan suara batin.
Kepribadian itu penting dalam hidup ini jadi harus mendengarkan yang diucapkan oleh batin. (Kees Snoek, 2025).
Suara itu datang dari mana saja, dari alam semesta menawarkan suara angin, suara binatang, dan juga suara manusia. Dari kreasi manusia tercipta suara alat musik, tetapi suara apapun itu datang dari luar diri manusia.
Untuk itu telinga yang menghadap kanan dan kiri memberi isyarat kita harus seimbang mendengarkan antara suara alam yang alami dan suara manusia apalagi disengaja.
Dari alam semesta banyak pesan diberikan, dihimpun dikumpul bahkan diorkestra menjadi bisikan, atau teriakan kadang menjadi lagu atau kidung penyejuk hati. Hampir setiap saat kita mendengarkan apapun itu yang ada di sekeliling kita, namun ada hal yang berbeda apakah dengan mendengar kita semua menjadi pintar, bahagia dan selesai. Jawabannya belum tentu, karena justru sebagian saudara kita mencari suara lain untuk dijadikan jalan menemukan hakikat diri.
Prof Kees memberi pandangan berbeda tentang suara, beliau lebih mengutamakan suara dari dalam diri sendiri. Hal ini dimaknai bahwa apa yang ada dalam diri kita khususnya mahasiswa yang sedang belajar harus menjadikan dirinya sebagai sumber suara.
Dalam sebuah kesempatan diskusi ringan “Kopi Pahit” Edisi 38 di Medan Estate ada lima catatan penting yang dapat dijadikan inspirasi yakni:
Pertama, mahasiswa agar tetap rajin, karena pada masa kini mempercayai kemampuan mereka sendiri itu hal utama. Ini harus dilakukan utamanya untuk menyatakan diri agar tidak tergantung pada google, AI, dan teknologi lainnya.
Kedua, mahasiswa harus benar-benar tahu isi kuliah, dari pengetahuan yang sudah dibukukan dalam otak. Pesan tahu bukan sekadar menghafal, mengerti atau mencatat untuk ujian, lebih dari itu memahami, memaknai sampai pada kesiapan diri untuk mengamalkannya.
Ketiga, mahasiswa harus bisa menyampaikan lagi dalam kegiatan ujian bila dilakukan secara lisan. Prof Sejarah yang telah mengajar di Amerika Serikat, Selandia Baru dan Prancis ini percaya kemampuan lisan dalam ujian masih menjadi andalan untuk mengukur kompetensi.
Beliau serius tentang hal ini sampai-sampai memberi penegasan bahwa ujian lisan adalah cara terbaik untuk mendapatkan pengetahuan mengenai apa yang sudah dikuasai secara mendalam. Mahasiswa yang siap mengikuti ujian lisan menambah kompetensi bila ini menjadi kebijakan dari sebuah perguruan tinggi.
Keempat, dosen harus mengakui bahwa ekspresi mahasiswa untuk menulis juga penting. Bila ujian lisan salah satunya adalah untuk mengatasi ketergantungan pada teknologi, tetapi kreativitas mahasiswa menyampaikan kemampuannya juga harus diberi ruang. Namun beliau mengingatkan dosen harus selalu waspada dan harus kenal baik mahasiswa mereka.
Kelima, dosen harus ada hubungan pribadi dengan mahasiswa agar mampu menilai dan menganggap kualitas. Memberi layanan dengan cara mengenal lebih dalam tentang pribadi mahasiswa bukanlah hal yang dilarang, tetapi media untuk mengidentifikasi potensi apa yang dapat dikembangkan.
Profesor Kees memang ahli dalam sejarah, tetapi beliau tetap memberikan inspirasi bagaimana belajar di era yang penuh teknologi. Dalam catatan terakhir beliau memberikan pesan bahwa bicara sedikit itu tanda berkualitas, bicara banyak kadang hanya bunga untuk mempercantik halaman saja.
Kita tinggal pilih mau jadi ilmuwan atau mengerti kemampuan diri, jadi benarlah mendengarkan apa kata hati itu adalah jawabannya. Bila ini dilakukan dan menjadi kebiasaan, boleh jadi kata batin telah mendahului dari apa yang akan kita rasakan, semoga kebahagiaan menjadi ujung jalan yang kita harapkan.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.


















