Dalam melayani dan menyelamatkan bangsa ini, kaum inteligensia dari beragam latar identitas perlu terang pikir bahwa pelbagai kepedihan yang ditimbulkan oleh berbagai polarisasi dan bentrokan identitas hanya bisa diatasi (setidaknya dikurangi) manakala tata nilai, tata kelola dan tata sejahtera dari bangsa ini dijalankan secara tegak lurus dengan prinsip-prinsip Pancasila secara holistik dan konsisten. (Yudi Latif, 2021:28).
Sebagai kepala keluarga kita selalu mengerti posisi istri, posisi anak, bahkan anak sulung, anak tengah dan anak bungsu. Di sinilah seorang ayah memberi tanggung jawab dengan peran yang berbeda kepada anggota satu dengan lainnya.
Kepala keluarga harus menyadari ia akan menjadi seorang ayah ketika istrinya memilliki anak, dan istri akan menjadi seorang ibu ketika anaknya meminta sesuatu apakah itu kasih sayang, sentuhan dengan nasihat atau larangan.
Bayangkan ada anak sulung yang ingin menang sendiri, ada anak bungsu yang ingin dilayani, semua itu adalah tetap anak yang memerlukan bantuan dan bimbingan orang tua.
Inilah miniatur bangsa, di mana keluarga yang kuat terbangun dari peran ayah, ibu dan anak yang saling membutuhkan, saling menghargai dan saling berbagi peran sesuai dengan fungsinya.
Satu saja anggota keluarga memiliki tujuan yang berbeda tanpa restu dari pimpinan, maka akan terjadi hal yang pincang atau paling tidak sesuatu yang tidak direncanakan atau tidak diinginkan akan terjadi.
Prof Yudi memberi gambaran bagaimana suatu bangsa melayani seluruh anggotanya. Ternyata melayani masyarakat seperti anak bungsu itu perlu kasih sayang, tetapi menempatkan para bangsawan, atau kaum intelegensia justru harus bijaksana.
Dalam melayani dan menyelamatkan bangsa ini, adalah satu pernyataan seakan kita dalam keadaan berbahaya, harus segera diselamatkan dari kehancuran.
Betapa tidak apabila kita lihat atau menjadi tontonan sehari-hari perselisihan terbuka para elit bangsa, bukan saja muncul karena kepentingan, tetapi karena ragam latar belakang.
Oleh Prof Yudi sekali lagi ditegaskan bahwa; kaum inteligensia dari beragam latar identitas perlu terang pikir bahwa pelbagai kepedihan yang ditimbulkan oleh berbagai polarisasi dan bentrokan identitas hanya bisa diatasi (setidaknya dikurangi).
Polarisasi dimaksud ada yang bersifat formal tetapi ada yang laten karena akar budaya yang telah menjadi bagian dari kehidupan seseorang.
Perguruan tinggi sebagai lembaga formal yang resmi diharapkan memberi tempat untuk menyemai bibit kebangsaan lewat kebhinekaan, justru dari sana tumbuh sektarian.
Prof Yudi memberi gambaran ini secara nyata dalam tesisnya tentang sejarah peran kaum inteligensia di Indonesia.
Apa yang harus dilakukan, salah satu tawaran jalan keluarnya adalah manakala tata nilai, tata kelola dan tata sejahtera dari bangsa ini dijalankan secara tegak lurus dengan prinsip-prinsip Pancasila secara holistik dan konsisten. Kita setuju dengan harapan di tengah kegamangan jalan keluar ini;
Pertama tata nilai, ini sangat mendasar sekali. Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 perlu diinterpretasi lebih popular untuk generasi yang sedang berkuasa, sedang disiapkan dan sedang dimimpikan. Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) mungkin perlu ditulis ulang, sebelum kita mendapatkan tulisan yang lebih up date membumikan nilai-nilainya hari ini.
Kedua tata kelola, pemerintah yang bersih didasarkan pada hasil pemilu yang kredibel adalah langkah penting. Rakyat dan anak bangsa menunggu apa yang akan dilakukan, apakah tetap merujuk pada segala macam regulasi yang disepakati bersama, atau diam-diam ada ketentuan lain disidangkan ketika rakyat tidur kelelapan. Tata kelola pemerintahan yang baik bukan idealnya hubungan antara parlemen dengan pemerintah semata, tetapi segala sektor layanan terhadap anak bangsa adalah menjadi milik bersama, dijaga bersama, dan dihormati untuk dipatuhi.
Ketiga tata sejahtera yang menjadi mimpi bagi seluruh elemen anak bangsa. Tidak perlu atas alasan rakyat meka semua harus dikorbankan, sesungguhnya semua memiliki fungsi dan peran. Ketika rakyat mendapat kecukupan sandang, pangan dan papan, maka saat yang sama para kaum intelegensia leluasa berpendapat atas dasar kejujuran.
Sejahtera bukan semata diukur dari indeks harga beras murah terjangkau, tetapi juga kebebasan akademik yang terpelihara, terkontrol dan berkolaborasi membangun anak bangsa.
Tegak lurus, seperti orang tua dimana ayah menjadi pimpinan keluarga, maka anggota keluarga tetap mengidolakannya. Dengan itu kontrol nilai tetap memiliki otoritas karena ketauladanan yang dipertontonkan.
Mimpi tegak lurus menjalankan nilai Pancasila secara konsisten kita berharap bukan hanya jargon ketika memperingati hari lahirnya pancasila, tetapi secara konsisten hadir di tengah-tengah kehidupan kita.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.


















