
Energy Transition Readiness Index (ETRI) di India pertengahan November 2025 ini.
“Kami sangat bangga. Alhamdulillah, kami punya anggota dewan terpilih mewakili Indonesia di ajang internasional. Anggota dewan dimaksud, yaitu Pak Drs Abdul Halik,” kata Ali Amran Tanjung, Selasa (11/11/2025).
Menurut tokoh NU Provinsi Sumatera Utara ini, peluncuran ETRI di India tersebut merupakan ajang penting bagi Indonesia untuk menunjukkan komitmennya dalam transisi energi hijau dan memperkuat diplomasi energi di kancah global.
Pada acara yang digelar selama dua hari, 17-18 November 2025 tersebut, Abdul Halik akan berbagi pandangan tentang kesiapan Indonesia dalam menghadapi krisis energi global.
“Ini kesempatan emas bagi Indonesia menunjukkan potensinya dalam energi terbarukan. Disamping itu, memperkuat kerja sama internasional di bidang energi hijau,” tambah Ali Amran.
Politisi yang juga salah seorang senior KAHMI di Sumut mengapresiasi upaya Abdul Halik dalam meningkatkan citra Indonesia di mata internasional dan berharap kehadirannya dapat membawa manfaat bagi negara dan masyarakat Indonesia, khususnya Sulawesi Tenggara.
“Kami percaya, Partai Bulan Bintang melalui salah seorang kader terbaiknya, Pak Abdul Halik akan membawa pulang pengalaman berharga. Diharapkan pengalaman yang diperoleh dapat membantu Indonesia mencapai target energi terbarukan. Tentunya, akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” kata Ali Amran Tanjung.
Seperti diberitakan, Abdul Halik dijadwalkan berangkat ke India pertengahan November 2025. Kunjungannya ke India menghadiri undangan lembaga NGO Swaniti Initiative dalam kegiatan Peluncuran Energy Transition Readiness Index (ETRI) yang akan digelar di negara bagian Jarkhand, India.
Abdul Halik menjelaskan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya global memperkuat kesiapan negara-negara penghasil energi fosil dalam menghadapi transisi menuju energi terbarukan yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.
“Saya ke India bukan atas nama pribadi, tetapi mewakili lembaga DPRD. Undangan ini ditujukan kepada parlemen Indonesia, khususnya dari daerah penghasil energi fosil seperti nikel dan batu bara. Kami akan hadir untuk berbagi pandangan dan kesiapan Indonesia dalam menghadapi krisis energi global,” ujar Abdul Halik.
Abdul Halik menilai, forum tersebut juga merupakan momentum penting untuk memperkuat diplomasi energi Indonesia di kancah global, sekaligus mendorong percepatan pemanfaatan energi hijau di dalam negeri, terutama dalam sektor pembangkit listrik dan industri.
“Intinya, kita harus kembali ke alam. Energi terbarukan adalah masa depan dunia. Indonesia harus mampu memanfaatkan sumber daya yang melimpah dan menjadi bagian dari gerakan energi hijau global,” ujarnya.(UJ)


















