Apabila kita dilarang menyekutukan Allah dengan berhala, batu, kayu, pohon, binatang dan manusia, maka janganlah menyekutukan Allah dengan kekuatan diri sendiri, seolah-olah merasa sudah cukup kuat dan dapat berdiri sendiri tanpa pertolongan Allah, tanpa rahmat taufiq hidayat dan karunia Allah. (Ibnu Atha’illah as-Sakandari, 1980:11).
Konon kita adalah manusia memiliki predikat makhluk paling mulia di sisi Tuhan, sehingga sorga adalah alamat yang dapat kita pastikan untuk dapat satu bagian darinya.
Tetapi diantara makhluk ini ada pula sebagian yang merasa bangga bahwa kemampuannya memahami kehendak Tuhan, kepatuhannya menjalankan perintah Tuhan serta kesigapannya menghindari larangan Tuhan adalah menjadi alat untuk memastikan dirinya sampai ke surga.
Sejarah manusia, pada masa ia mengalami tunduk kepada alam, pelan tapi pasti ia kemudian mengenali lingkungan sekitar. ia belajar untuk mendapatkan pengetahuan dengan itu ia percaya kepada berhala, menyembah batu, bahkan bersujud kepada kayu, pohon.
Itulah makhluk manusia, ia berternak dimana hewan sebagian menjadi peliharaan, dan sebagian dikonsumsi serta dikorbankan untuk sesembahan.
Itulah sejarah manusia yang mengalami masa di mana alam yang ditakuti ternyata dapat dipelajari dan kemudian ia menyadari hal ini tidak mungkin dilanjutkan sampai mati.
Sampai pada titik tertentu, masa antrophosentris menjadi prestasi yang luar biasa dalam peradaban barunya. Manusia melihat batu di gunung dapat dicacah dipindah menjadi lantai granit, kayu di gunung dapat diukur menjadi pintu rumah yang indah, bahkan sungai yang dalam dapat dilewati dengan jembatan yang kuat.
Hewan di ternak, bukan sekadar untuk peliharaan, tetapi ekploitasi untuk lomba bahkan untuk mengangkut beban. Hampir-hampir manusia akan membuat bumi kedua, walaupun sudah ada yang mencoba membuat matahari kembar di negeri tetangga.
Itulah manusia yang memiliki naluri melebihi semua makhluk yang ada disekitarnya, seakan ia adalah pusat dari segala apa yang ada di muka bumi ini.
Pada tingkat tertentu ternyata manusia mendapatkan kebosanan, kebingungan, bahkan kekerdilan dirinya. Padahal pohon kayu sama dengan kayu lainnya, tetapi mengapa mesti ditakui karena suasana malam.
Begitu juga dengan dirinya mengapa tidak berani menyatakan sehat sampai mati, sakit datang tanpa diundang, bahkan tidak semua rencana dapat terselesaikan.
Manusia menyadari ada kekuatan lain yang lahir dari pengalaman selama ini, utamanya kelemahan dalam menaklukkan alam, terlebih menaklukkan diri sendiri. Masa ini disebut dengan theosentris.
Kepercayaan ada kekuatan lain diluar diri manusia menjadi sentral pemikiran, perasaan bahkan pengakuan terhadap apa yang ia yakini sebagai agama.
Kita bersyukur diingkatkan dalam agama bahwa, kita ada makhluk yang diciptakan maka memiliki sifat keterbatasan. Perintahnya jelas kita dilarang menyekutukan Allah dengan berhala, batu, kayu, pohon, binatang dan manusia.
Untuk itu makna yang lebih dalam adalah janganlah menyekutukan Allah dengan kekuatan diri sendiri, inilah ciri orang sombong terhadap kekuatan yang dimilikinya. Sekali lagi kita disadarkan bahwa hidup ini bukan untuk mencari siapa paling hebat, tetapi mensyukuri apa yang dimiliki.
Maka janganlah seolah-olah merasa sudah cukup kuat dan dapat berdiri sendiri tanpa pertolongan Allah, tanpa rahmat taufiq hidayat dan karunia Allah. Benar hidup ini intinya adalah mencari ridha Allah.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.


















