Dalam tradisi belajar mengajar di kalangan umat Islam, sanad ilmu menjadi salah satu unsur utama. Disiplin ilmu keislaman apa pun sanadnya akan bermuara kepada Nabi Muhammad saw. Sanad merupakan mata rantai transmisi yang berkesinambungan sampai kepada Nabi Muhammad SAW. (Zainul Milal Bizawie, 2022:19)
Gurunya guru pernah menjadi muridnya seorang murid, guru yang paling tinggi adalah Rasulullah Muhammad SAW, di atasnya Allah SWT. Seorang tua yang hafal Al Qur`an jualan buku bekas di depan kampus IAIN Jl. IAIN Sutomo tahun 1980-an selalu mengingatkan mahasiswa waktu itu, “Yang benar Allah yang Jujur Rasulullah”.
Sungguh siapapun dia telah memberikan petuah penting bagi kita, bahwa semua kita tidak ada yang paling benar apalagi merasa benar, dan kejujuran kita selama ini selalu diiringi dengan kesemuan seakan realistis.
Siapa sebenarnya gurunya guru, belau adalah mereka yang ada dibalik layar dari seorang guru yang mengajarkan langsung tentang ilmu pengetahuan, dan keterampilan.
Ketika kita terpesona melihat guru di depan mata, sesungguhnya ada nilai lain yang menjadi bagian dari sosok tersebut yakni keteladanan yang mengilhaminya sehingga dia menjadi guru.
Bagi guru hari ini sebaiknya kita harus menyadari bahwa apapun yang kita lakukan tidak lebih meneruskan perjuangan mereka tentang sosok seorang murid dimasa depan, itulah kita hari ini.
Sosok gurunya guru dia selalu sadar karena pernah menjadi murid dari seorang murid di atasnya. Sungguh jauh sekali kebelakang cerita guru ini, tetapi inilah keguruan, karena tak pernah berhenti untuk ditelusuri tentang sumber keteladanan sampai akhirnya berjumpa dengan sosok utama yang memiliki kejujuran tanpa cela. Dialah Rasulullah Muhammad SAW.
Benarlah maka seluruh muara ilmu pengetahuan maka pemiliknya adalah nabi yang memiliki gelar Al Amin. Untuk inilah maka sebagian ulama menyusun latar belakang keilmuan mereka, yaitu sanad keilmuan, dalam bentuk mu`jamusy syuyukh, yang menyenaraikan riwayat hidup dan latar belakang keilmuan para guru mereka.
Hari ini, saat ini, disini apakah kita sudah merasa menjadi seorang guru, tentu diukur dari kemampuan kita menelusuri siapa guru kita, apakah kita mengetahui, mengenal atau bersanad kepadanya.
Memang diakui di satu sisi semua guru akan bangga ketika muridnya dapat berjalan sendiri, belajar mandiri akhirnya ia mampu menjadi seorang guru yang dapat mencerahkan seluruh ummat melebih guru-gurunya dahulu. Tetapi nilai ketersambungan “kebenaran dan kejujuran” dalam bahasa lain “keberkahan” akan terputus bahkan terdinding.
Zainul Milal Bizawie memberi perhatian serius kepada kita tentang belajar kepada guru yakni; Berdasarkan kepentingan sanad keilmuan inilah, para ulama menghimpunkan sanad-sanad keilmuan mereka dan merangkum ilmu-ilmu agama dari sudut riwayah maupun dirayah, dari sudut manqul (yang dinukilkan) maupun ma`qul (yang dapat dipahami secara akal), dan sebagainya, dalam kitab kitab mereka.
Janganlah mentang-mentang telah menjadi guru tak mau belajar dengan muridnya, padahal guru kita saja pernah menjadi muridnya seorang murid yang terus belajar.
Mau itu guru besar, guru kecil, guru profesional, semuanya terusnya belajar, karena salah satu ciri guru adalah selalu mempelajari apapun yang ada dihadapannya. Sandarkanlah kebenaran yang kita sampaikan kepada Allah, dan teladankanlah diri mencontoh Rasulullah.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.

















