Pengetahuan teoretis-empiris menurut pandangan Islam adalah pengetahuan yang digali dari berbagai sumber; yaitu wahyu, alam dan akal. Pengetahuan ini (teoretis-empiris) tidak cukup mengandalkan informasi wahyu, melainkan harus didukung dengan penalaran akal serta tangkapan sistematis inderawi; artinya selain meneliti ayat-ayat Alquran yang berkenaan dengan gejala alamiah, masih penting dilanjutkan dengan penelitian-penelitian empiris. (Parluhutan Siregar, 2011:41).
Ketika kita bangun tidur mulailah beraktivitas, sepanjang hari penuh dengan berbagai hal, apakah itu kegiatan pemikiran, perasaan, boleh jadi masalah, dan mungkin juga istirahat sejenak.
Tidak ada yang persis sama, walaupun ada kegiatan rutin yang dilakukan setiap hari, atau setiap tanggal, semuanya sesungguhnya berbeda, oleh para pakar tidak ada hakikat sejarah yang berulang.
Di tengah-tengah kegiatan tersebut ada pula kegiatan yang menyatakan penyerahan diri yakni ibadah, boleh jadi karena ajaran atau pula memang tempat untuk mencari ketenangan, semua dilakukan ada yang rutin ada pula yang hanya saat kejadian.
Dari pengalaman sehari-hari tersebut sebagian orang mencari pengetahuan lewat catatan, atau perenungan, semuanya dianggap sah selagi itu tidak merugikan orang lain. Pengetahuan tersebut ada dari proses kepercayaan namanya agama, ada pula dari pengalaman namanya ilmu dan ada pula dari perasaan atau apresiasi namanya seni.
Ketiganya secara formal selalu dikaji oleh filsama dengan pembeda pada ontologi, epistimologi dan aksiologi, tapi intinya sama-sama untuk kemaslahatan hidup manusia.
Sudah sejak lama pengetahuan manusia tumbuh dan berkembang bahkan teruji, namun saat ini percabangan ilmu sepertinya tidak cukup untuk untuk memberi jawaban terhadap tuntutan hidup manusia. Apakah agama mampu memberi ketenangan secara totalitas pada ummatnya?
Apakah ilmu sudah lupa diri seakan ialah paling terdepat menyelesaikan masalah, padahal masalah itu selalu timbul dari teknologi sebagai cabang ilmu. Apakah seni dapat menenangkan jiwa orang sakit atau trauma yang dapat diandalkan? Inilah yang terjadi di dunia kita saat ini.
Parluhutan Siregar MA, telah melampaui pengetahuan yang kita kenal sampai saat ini, beliau menyadarkan bahwa tidak ada yang paling menonjol apalagi mendominasi untuk berperan menyelesaikan masalah.
Pengetahuan harus saling bersinergi inilah salah satu konsep transdisiplin menurut pandangan beliau., yang didasarkan pada tiga hal penting yakni;
Pertama; Pengetahuan teoretis-empiris menurut pandangan Islam adalah pengetahuan yang digali dari berbagai sumber; yaitu wahyu, alam dan akal. Awal dari pengetahuan adalah adanya dorongan transendental kepada kita sebagai makhluk Tuhan untuk melakukan kegiatan yang ditujukan mengabdi kepada Tuhan. Lewat instrumen wahyu, mengeksplorasi alam, dan kemudian bermodalkan akal adalah tiga rangkaian yang harus dijadikan sumber pengetahuan.
Kedua, pengetahuan ini (teoretis-empiris) tidak cukup mengandalkan informasi wahyu, melainkan harus didukung dengan penalaran akal serta tangkapan sistematis inderawi; artinya selain meneliti ayat-ayat Alquran yang berkenaan dengan gejala alamiah, masih penting dilanjutkan dengan penelitian-penelitian empiris. Jelaslah bahwa sinergitas antara pengetahuan agama, ilmu dan seni tidak dapat berjalan sendiri untuk menjelajahi hakikat yang ada. Transdisiplin saling berkolaborasi adalah kata kunci bukan hanya dalam mengembangkan pengetahuan masing-masing tetapi untuk merespon masalah-masalah keumatan dan kealamsemestaan yang ada.
Ketiga, secara konseptual perumusan teori-teori dalam sains Islam harus didasarkan pada wahyu, data empiris dan pemikiran logis. Namun demikian dalam tataran praktek penelitian terhadap wahyu (Al Qur`an) dan penelitian terhadap alam (empiris) sulit dilaksanakan sekaligus. Pengakuan akademik seperti ini memberi ruang bahwa dalam ilmu pengetahuan diskusi tetap saja mendapat tempat untuk dialog menuju kesempurnaan, namun yang pasti semua adalah untuk kebaikan. Sedangkan kesalahan saja bila disadari mendapat satu kebaikan, apalagi kebaikan, tentu kebaikan yang disadari.
Akhirnya salah satu kunci pengetahuan itu adalah berani melakukan sesuatu lewat penelitian. Penelitian adalah kegiatan yang didasarkan pada adanya kepedulian untuk melakukan sesuatu, apakah mengabstraksikan, mengelola, mengembangkan teori dan akhirnya mencari solusi.
Kita lihat selama ini penelitian selalu dilakukan bersifat formal harus dari pembiayaan yang ketat, terlebih protokoler dan template yang standar, padahal kadang kala menghilangkan makna dari tujuan penelitian itu sendiri.
Parluhutan Siregar, telah mewariskan satu pemikiran untuk terus kita tindaklanjuti, semangat penelitian dengan banyak catatan seperti selalulah mengamati catat dan jadikan itu pengetahuan, salinglah bersinergi tidak mesti berjalan sendiri justru bersama mencari pengetahuan akan mendapatkan perspektif yang lebih kaya.
Contoh kecil dari catatan beliau adalah mari tidak sungkan dan ragu untuk berpartisipasi bila ada google form yang menghampiri kita, karena itulah awal dari partisipasi kita menempatkan penelitian sebagai panglima ilmu pengetahuan di masa yang akan datang.
Kita setuju: “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.



















