Masalah umum para pelatih adalah dapat berbicara, namun tidak dapat melaksanakan. Pelatihannya mungkin ketat sekali, namun kehidupannya sendiri banyak cacat cela. Cara mengajar yang efektif adalah pelatih itu sendiri menjadikan dirinya sebagai teladan hidup untuk menyampaikan kebenaran. Ini merupakan cara yang paling berpengaruh. Kewibawaan seseorang terletak pada keselarasan antara teori dan praktik. (Sonny Y Soeharso dkk.2019:6).
Bila ingin mendapatkan wawasan maka perbanyak belajar, bila ingin memaknai satu nilai maka refleksi setiap sesi, dan bila ingin lebih terampil maka selalulah berlatih. Belajar, refleksi dan berlatih adalah tiga ranah yang berbeda secara spesifik dalam bidang masing-masing.
Namun demikian semuanya dapat dilakukan tetapi harus diketahui ada titik temu, titik tekan dan titik kelebihan dari setiap kegiatan di atas. Begitu juga halnya dengan wawasan, nilai dan keterampilan adalah kompetensi yang dapat diukur menjadi bekal bagi seseorang untu memperoleh pengakuan bahwa ia memiliki kemampuan dan keahlian dalam satu bidang.
Pendidikan dapat bertransformasi menjadi pembelajaran hal ini dilakukan agar peserta didik memilki pemahaman yang luas, dengan wawasan yang lebih jauh menjangkau berbagai bidang.
Ini artinya pendidikan dapat dijadikan instrumen penting bila kita ingin mendapatkan generasi yang berwawasan luas, memiliki kemampuan menjelaskan banyak hal, tentu bermanfaat untuk dirinya sendiri.
Materi pengajaran utama adalah tentang diri manusia, kedua tentang alam semesta dan yang ketiga adalah tentang eskatologi suatu yang tidak tampak tetapi penting.
Pendidikan juga dapat dilakukan sebagai instrumen untuk merefleksi sesuatu atau memaknai fenomena sehingga mendapatkan nilai dari apapun yang dikaji.
Setiap hal di dunia ini tidaklah sia-sia tetapi menjadi inspirasi bagi mereka yang mencarinya, bahkan menjadi peringatan bagi siapa saja yang melanggarnya, dari sinilah disadari bahwa kita membutuhkan kemampuan merefleksi setiap sesi dalam hidup ini.
Pendidikan boleh jadi gersang bila tidak memiliki arah yang jelas, dan arah yang baik adalah memiliki kaitan dengan pengalaman terlebih tujuan hidup manusia.
Pendidikan pada bagian berikutnya dapat dikembangkan dalam bentuk pelatihan, ini dimaksudkan agar apa yang diketahui dapat diamalkan dan akhirnya menjadi habit atau kebutuhan bahkan kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.
Apa saja yang harus dilatihkan, tentu sesuatu yang terkait dalam kehidupan sehari-hari , tujuan utama dari kegiatan pelatihan tidak lebih dari pengaruh yang kuat tentang orang tua serta kerjasama dengan seluruh stakeholders yang ada.
Sedikit berbeda antara belajar, merefleksi dan berlatih, dalam pelatihan kita membutuhkan model, contoh atau apa yang menjadi patron kita.
Maka tugas seorang pelatih adalah mereka yang telah lebih dahulu melakukan, mempunyai wawasan yang lebih luas untuk diajarkan, memiliki refleksi yang mendalam untuk menyampaikan kelebihan dan kelemahan, bahkan ia harus menjadi prototype materi pelatihannya. Walaupun pelatih sepak bola tidaklah pasti menang bila melawan tim yang dilatihnya.
Namun demikian catatan dari Sonny Soeharso memberi peringatan kepada kita, jangan menuntut orang lain melakukan sebelum kita sendiri menerapkannya.
Terlebih dalam dunia pendidikan keteladanan adalah strategi pembelajaran paling ampuh, sosok guru atau pelatih adalah media paling jitu menyampaikan semua pesan.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.


















Tulisan yg inspiratif…tmksh.