Manusia tidak bisa hidup sendiri. Pasti membutuhkan orang lain. Memiliki ketergantungan satu sama lain. Maka di sinilah fungsi akhlak; secara horizontal mengharmoniskan hubungan antar sesama individu, secara vertikal mendekatkan hubungan dengan Tuhan. Melalui akhlak, manusia terikat aturan dalam menjalin hubungan dengan sesama manusia maupun dengan Tuhan. ( Rifyal Novalia, 2024: 154).
Awalnya manusia itu satu yakni Nabi Adam, kemudian dilengkapi dengan Siti Hawa maka hidup mereka menjadi sejarah bagi seluruh anak manusia. Kita harus catat bahwa kehadiran Siti Hawa bukan menjadi saingan, tetapi adalah pelengkap walaupun statusnya sama-sama makhluk tetapi mereka memiliki perbedaan peran karena jenis kelamin. Adam laki-laki jadilah ia ayah, dan kakek, sementara Siti Hawa adalah perempuan jadilah ia ibu dan nenek.
Sebaik makhluk Adam dan Hawa selalu berdampingan untuk mengabdi kepada Sang Khalik yakni Tuhan. Pada bagian tertentu tata cara mengabdi sama persis di antara mereka, tetapi pada bagian lain terdapat perbedaan ini bukan hanya disepakati, tetapi adalah fitrah dan menjadi aturan tanpa harus dibanding-bandingkan.
Sadar akan perbedaan tersebut, maka Adam dan Hawa hidup harus bersama, saling berdampingan di satu sisi saling berhadapan pada waktu tertentu, dan saling mengisi untuk bagian lain, intinya saling melengkapi.
Bila sejak awal manusia sudah saling membutuhkan, justru mengapa hari ini ada di antara kita ingin menjadi berbeda khususnya tidak mau sama dengan lainnya? Kembali kepada hakikat posisi kita sebagai makhluk yang memaknai diri adalah ciptaan Tuhan.
Menurut Rifyal Novalia, bahwa akhlak merupakan sikap dan ekspresi dari jiwa. Jika jiwa baik maka sikap dan ekspresi akan baik. Jika jiwa buruk maka sikap dan ekspresi juga akan buruk. Untuk itu ia mengingatkan kita tentang empat kesadaran utama yakni sebagai berikut:
Pertama, sadar bahwa manusia tidak bisa hidup sendiri. Pasti membutuhkan orang lain, apabila kita berniat atau mencoba ingin menjadi berbeda dengan orang lain ini adalah tanda tanda atau bibit hidup yang egois dan akhirnya seakan ia bisa hidup tanpa orang lain. Sikap ini adalah sebuah kekeliruan dalam kehidupan di dunia ini..
Kedua, memiliki ketergantungan satu sama lain. Apapun ceritanya dari sejak lahir sampai mati kita membutuhkan orang lain, bahkan hari ini dari sejak bangun tidur sampai istirahat lagi pasti berinteraksi dengan orang lain. Jadikanlah itu ketergantungan yang dapat dikendalikan untuk saling membutuhkan.
Ketiga, di sinilah fungsi akhlak yakni secara horizontal mengharmoniskan hubungan antar sesama individu, secara vertikal mendekatkan hubungan dengan Tuhan. Keseimbangan antara hubungan dengan sesama manusia, kemudian menjadi tangga untuk menjadi bagian dari mengabdi kepada Tuhan. Maka cintailah saudaramu agar Tuhan mencintaimu.
Keempat, melalui akhlak, manusia terikat aturan dalam menjalin hubungan dengan sesama manusia maupun dengan Tuhan. Tidak ada yang dapat diselesaikan sendiri, apalagi keinginan tanpa orang lain, tanpa makhluk lain, maka semua yang ada dalam hidup ini adalah bersama untuk saling mengisi, mengingatkan dan melengkapi.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.

















