Menjelang akhir tahun sebagian kita sibuk dengan liburan, ada pula yang mengganti kalender, dan tidak jarang yang kerja lembur untuk laporan tahunan. Ragam kegiatan yang mewarnai aktivitas masyarakat seakan menjadi gambaran terulang di setiap tahun, apakah itu di tahun lalu, tahun ini, dan tak ada yang pasti mungkin juga tahun depan. Sungguh pergantian tahun selalu ada yang berbeda, tetapi pada dasarnya rutin dan berulang dilakukan, dilalui dan boleh jadi akan direncanakan lagi.
Mengganti kalender sebagai tanda waktu dari bentuk besar tempel di dinding, ada yang letak di atas meja, atau di ruang rapat atau tempat umum adalah penting. Sepertinya pergantian tahun, juga pergantian buku agenda, jadwal kegiatan, sampai perasaan di hati mungkin tahun ini sudah saatnya.
Saat apa saja yang anak tamat sekolah atau kuliah, jatuh tempo semakin dekat sampai sampai mikirin ada keluarga belum menikah. Hah…..pokoknya dari masalah kalender sampai rumah tangga, bahkan hati yang penuh berbagai rasa.
Beda di dalam rumah beda pula di luar rumah cerita tentang pergantian tahun. Di luar sebagian warga ada yang merayakan dengan berbagai aktivitas, apakah kumpul bersama keluarga, ada yang keluar kota dengan circle nya, atau sekadar bercengkerama di beranda rumah dengan tetangga.
Namun demikian suara rumah ibadah banyak pula membuat refleksi tentang kehidupan, mengundang penceramah memberi pencerahan dan lain sebagainya, pokonya ramai di luar.
Di sudut desa pinggir kota besar ada tiga besti yang selalu bercengkrama, kalau tahun 1980 an mereka diam duduk nonton TVRI acara kalaedoskop, namun malam ini beda. Dari sini rupaya ada cerita yang inspiratif tentang pergantian tahun.
Pak Marta; hah…..ganti tahun ganti kalender, saya lihat di banyak rumah apalagi kantor, banyak kali pun model-model kalender, semuanya sama saja, ada yang satu tahun satu lembar, ada yang empat bulan satu lembar, ada pula yang tiga bulan satu lembar dan paling banyak ada yang dua bulan satu lembar, ada pula yang satu bulan satu lembar.
Pak Marmuj; wah itu luar biasa pak, berarti banyak pilihan, kita tinggal pilih sesuai dengan kebutuhan dan kebiasaan kita.
Pak Marta; kebetuhannya cukup satu pak, hanya kebiasaan yang dimaskud apa ya?
Pak Marmuj; e…begini kadang kalender itu memang mencerminkan bagaimana kita memaknai hidup atau waktu.
Pak Markan; wah….ini biasanya ada yang baru ini Pak Marmuj, apa ada hubungan antara kalender dengan perilaku?
Pak Marmuj; memang kalender itu sendiri banyak istilahnya, bapak masih ingat zaman kita dulu, orang tua menyebutnya dengan “al manak”, “kalender” ada pula “ tanggalan”, nah yang nasional memang disebut dengan kalender.
Pak Markan; nah bisa jelaskan pak artinya?
Pak Marmuj; Ok lah menurut penelusuran AI dari sini (Pak Marmuj sambil menunjukkan telepon selulernya), ini kita baca dulu.
1. Almanak adalah buku atau tabel yang berisi informasi tentang penanggalan, astronomi, cuaca, dan lain-lain. Almanak biasanya diterbitkan setiap tahun dan berisi informasi tentang tanggal, hari, bulan, dan tahun, serta informasi lainnya seperti perayaan, hari libur, dan lain-lain.
2. Kalender: Kalender adalah sistem penanggalan yang digunakan untuk mengatur waktu dan tanggal. Kalender biasanya terdiri dari 12 bulan, dengan jumlah hari yang berbeda-beda pada setiap bulan. Kalender digunakan untuk menentukan tanggal, hari, dan bulan dalam satu tahun.
3. Tanggalan adalah sistem penanggalan yang digunakan untuk menentukan tanggal dan hari dalam satu bulan. Tanggalan biasanya terdiri dari 1-31 hari, tergantung pada bulan dan tahun.
Pak Marmuj; sabar-sabar ini bedanya ada pula:
Perbedaan antara Kalender, Almanak, dan Tanggalan
– Almanak adalah buku atau tabel yang berisi informasi tentang penanggalan dan lain-lain.
– Kalender adalah sistem penanggalan yang lebih luas, mencakup 12 bulan dan tahun.
– Tanggalan adalah sistem penanggalan yang lebih spesifik, hanya mencakup satu bulan.
Pak Marta; oh…..benar jadi yang saya lihat, ada tahunan, ada bulanan, ada pula harian. Lantas apa hubungannya dengan perilaku tadi pak?
Pak Marmuj;
Kalau kalender satu tahun satu lembar itu biasanya hidupnya berperilaku cepat sekali, ia hanya menghitung hari, bulan dalam tiga hal yakni, awal tahun, tengah tahun dan akhir tahun itulah berulang-ulang. Hal ini tampak seperti pekerja penjaga mercusuar, penjaga perbatasan dan lain sebagainya, ia tidak tahu pulang itu di awal tahun atau di akhir tahun.
Kalau kalender empat atau tiga bulan dalam satu lembar, perilaku mereka adalah orang yang bekerja dengan imbalan gaji tak terjadwal. Seperti pramusaji rumah makan mereka biasanya hitungan pendapatan empat atau tiga bulan sekali, katanya sertifikasi guru atau dosen di sebagian unit ada juga yang jangka waktunya seperti ini.
Di tengah perbincangan tampak langit cerah, waktu semakin larut, kali ini ketiga besti tak beranjak dari tempat duduknya. Cadangan seruput kopi disiapkan, kudapan sedikit berbeda. Panggang ikan ternyata kali ini lengkap dengan bumbu rujak oleh anak gadis dari sebelah beranda diantar lengkap dengan cuci tangan dan tissue. Hemm…..cerita pun dilanjutkan.
Pak Marmuj; tiba-tiba membacakan ini ada yang penting untuk kita-kita yang sudah tua.
Pak Marta; apa itu pak, lanjutkan.
Pak Marmuj; tentang fungsi kalender, kalender bukan sekadar angka di dinding; ia memiliki peran krusial dalam peradaban:
Pertama, pengorganisasian waktu yakni membantu kita merencanakan masa depan dan mengingat masa lalu.
Kedua, untuk dunia pertanian menentukan waktu terbaik untuk menanam dan memanen berdasarkan musim.
Ketiga, dalam hal agama & budaya untuk mnetapkan hari raya besar seperti Idul Fitri, Natal, atau Nyepi.
Keempat, ini penting tentang administrasi, yakni digunakan oleh pemerintah dan bisnis untuk laporan keuangan, tenggat waktu, dan kontrak.
Kelima, Kalender Masehi (Gregorian): Digunakan secara internasional untuk urusan sipil dan bisnis.
Keenam, Kalender Hijriah: Digunakan umat Muslim untuk menentukan hari besar keagamaan.
Dan ketujuh, Kalender Jawa: Sistem unik yang memadukan unsur Islam, Hindu-Buddha, dan tradisi lokal, sering digunakan untuk menentukan “hari baik” (primbon).
Semua terdiam sejenak, sama-sama meluruskan tangan ke atas, tampak ketiga besti ini tak dapat membohongi usia, capek, lelah walaupun semangat.
Pak Marta; pak itu ada taoke saya di kota saya lihat kalendernya satu hari sekali, wah bagaimana pula itu pak perilakuknya.
Pak Marmuj; oh…..sebenarnya itu bagus sekali, karena memang simbol “Lembaran Baru”: Setiap pagi saat menyobek lembaran lama, secara simbolis meninggalkan hari yang lalu dan memulai hari yang benar-benar baru. Ini adalah pengingat bahwa setiap hari adalah kesempatan baru yang bersih, kalau kita sudah tua tambah tobatlah…..
Semua tertawa hahahahahahahahha…..terdiam sambil berdiri.
Ternyata malam pergantian tahun tepat pukul 22.00 telah tiba, biasa sebagian warga ada yang mendahului merayakan kembang api tepat di depan rumah Pak Marmuj. Seuara gemuruh…… di langit malam….pun menjadikan ketiga besti beranjak dari tempat duduk, tak sadar mereka berjalan ke depan gerbang, siap-siap pulang.
Hem….pergantian, tahun, kalender, liburan dan macam-macam ternyata intinya adalah melihat ke depan dan melihat ke belakang. Dalam mitologi Romawi, dewa kalender adalah Janus.
Janus adalah dewa yang memiliki dua wajah, satu menghadap ke depan dan satu menghadap ke belakang. Ia dianggap sebagai dewa awal dan akhir, serta dewa pintu dan gerbang.
Ah…..memang cerita dengan AI tidak ada habis-habisnya.
Tiga hal hikmah yang dapat kita ambil dari cerita ini adalah:
Pertama; pergantian tahun adalah persoalan persepsi kita terhadap siklus waktu, bagaimana kita memaknai satu tahun, satu bulan, satu hari, atau satu jam bahkan satu detik sekalipun.
Kedua; sikap kita terhadap pergantian tahun tidaklah perlu berlebihan, yang utama adalah lihatlah ke belakang apa yang belum kita lakukan, dan rencana apa pula yang harus dijalankan untuk masa mendatang.
Ketiga; bersyukurlah kita masih mengalami apa yang disebut dengan tahun 2026, karena itu tingkatkah praktik baik, kurangilah kejahatan, intinya tobat dari berbagai kekhilafan.
Ketujuh kita setuju berkolaborasi mengeksplorasi sejarah, lewat kisah kita bercari ibrah.
Catatan; kisah ini diinspirasi dari berbagai sumber.



















