Matematika merupakan ilmu dan intuisi yang menguatkan keyakinan atau iman, yang sangat penting dan berguna dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam menunjang pembangunan sumber daya manusia serta memuat sarana berpikir untuk menumbuh kembangkan pola pikir logis, sistematis, obyektif, kritis dan rasional serta sangat kompeten membentuk kepribadian, sehingga perlu dipelajari setiap orang. (Hasratuddin, 2015: 52).
Ada ilmu murni ada pula ilmu terapan, taksonomi ini selalu memberikan kesan bahwa ilmu dapat berkembang dalam dua koridor baik melalui pengembangan ilmu di laboratorium untuk ilmu murni dan di lapangan untuk ilmu terapan.
Namun demikian batasan laboratorium dan lapangan juga berkembang boleh jadi tumpang tindih atau justru bertabrakan. Terus tidak ada yang berhenti, satu kali bersamaan saat yang sama bergantian tetapi keduanya tetap dikembangkan oleh para ilmuwan.
Ilmu ilmu murni selalu menghasilkan hal baru apakah itu konsep, definisi, bahkan dalil mungkin juga sampai hukum bahkan teori. Pengkajian ini boleh jadi dilakukan secara senyap di balik tembok laboratorium berhari-hari, bahkan sampai bertahun.
Setelah dihitung dan dipastikan maka baru dikeluarkan ke publik untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Jadi kita saat ini di dunia nyata sedang mengamalkan hasil pengembangan ilmu murni yang telah diuji beberapa tahun sebelumnya.
Sementara itu ada pula ilmu terapan yang digunakan secara langsung reeltime untuk menyelesaikan berbagai persoalan kehidupan. Persoalan tersebut boleh jadi di masyarakat, di kantor, di bank, atau bahkan di rumah tangga.
Dari fakta yang dikumpulkan dikumpul dan dianalisis, kemudian dilahirkan solusi dan secara langsung menyelesaikan masalah saat itu pula. Ilmu praktis tidak terlalu ketat dengan prosedur tetapi justru sangat bermanfaat untuk hal-hal yang sesaat.
Dalam hal ilmu matematika Hasratuddin menyoroti, bahwa ilmu murni dan terapan ini bukan hadir sendiri, tetapi diiringi oleh dunia pendidikan yang ada di sekolah kita.
Menurut beliau, visi pendidikan matematika masa kini adalah penguasaan konsep dalam pembelajaran matematika yang digunakan untuk menyelesaikan masalah-masalah. Bila cara ini bertahan boleh jadi kita sulit mempersiapkan generasi yang memiliki kemampuan analisis tentang masa depan.
Hasratuddin melihat visi pendidikan matematika masa depan adalah memberikan peluang mengembangkan pola pikir, rasa percaya diri, keindahan, sikap obyektif dan terbuka.
Ini adalah penting, karena masa depan itu pasti ada, maka mempersiapkan orang untuk dapat hidup bertahan bahkan mampu mengendalikan harus diawali dari cara belajar matematikanya.
Hari ini apakah kita belajar tentang ilmu murni atau terapan, tentu hanya ahli yang tahu, anak anak belajar di sekolah siap melaksanakan, masyarakat menunggu untuk solusi, bahkan para ahli haus mampu mengakomodir berbagai kepentingan.
Sungguh belajar matematika memerlukan ketelitian, keahlian, bahkan kemampuan menganalisis lebih dalam apakah memang angka-angkat tetap menjadi penentu tentang hari depan.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.


















