Revolusi itu bukan sebuah ide yang luar biasa, dan istimewa, serta bukan lahir atas perintah seorang manusia yang luar biasa. Kecakapan dan sifat luar biasa dari seseorang dalam membangun revolusi, melaksanakan atau memimpinnya menuju kemenangan, tak dapat diciptakan dengan otaknya sendiri. Sebuah revolusi disebabkan oleh pergaulan hidup, suatu akibat tertentu dari tindakan-tindakan masyarakat. (Tan Malaka, 1926).
Hebat supermen lebih dahsyat supertim, cerdas satu kepala tetapi luar biasa banyak kepala, sendiri bisa mati tetapi ramai pasti selalu mengingatkan untuk hidup lagi, ok satu lagi shalat sendiri di rumah pahalanya sudah pasti dan jemaah di masjid berkahnya tak terbagi.
Itulah kira-kira gambaran betapa pentingnya orang lain dalam hidup ini, bahkan untuk mengarungi kehidupan terlebih memecahkan masalah yang dihadapi.
Masalah kehidupan memang bisa terjadi karena kita berinteraksi di sana ada transaksi kemudian kita harus berbagi. Tetapi kita harus sadar ternyata masalah itu bukan datang dari orang lain tetapi adalah dari diri sendiri. Titik.
Bukti sejarah banyak memberikan fakta bahkan kisah, siapa saja yang tidak siap menghadapi orang lain, maka dirinya bisa saja tergilas bahkan hilang dalam catatan sejarah. Perspektif berbeda dijadikan narasi yang mempengaruhi masyarakat pada masa itu, oleh Tan Malaka menjadi semangat juang.
Menurut beliau bahwa dalam kata-kata yang dinamis, dia adalah akibat tertentu dan tak terhindarkan yang timbul dari pertentangan kelas yang kian hari kian tajam. Ketajaman pertentangan yang menimbulkan pertempuran itu ditentukan oleh pelbagai macam faktor: ekonomi, sosial, politik, dan psikologis.
Semakin besar kekayaan pada satu pihak semakin beratlah kesengsaraan dan perbudakan di lain pihak. Pendeknya semakin besar jurang antara kelas yang memerintah dengan kelas yang diperintah semakin besarlah hantu revolusi.
Perbedaan pasti terjadi, kapanpun di manapun bahkan siapapun, namun bagaimana kita mempelajari, memahami sampai akhirnya menyikapi perbedaan tersebut.
Sedangkan beberapa orang dalam satu keluarga pasti berbeda apalagi dalam masyarakat, terlebih dalam satu bangsa. Kini sebagian orang memanfaatkan perbedaan menjadi alat perjuangan untuk satu tujuan yakni kebersamaan.
Demi tujuan itu langkahnya revolusi, jadi jelaslah bahwa revolusi itu bukan sebuah ide yang luar biasa, dan istimewa, serta bukan lahir atas perintah seorang manusia yang luar biasa.
Kecakapan dan sifat luar biasa dari seseorang dalam membangun revolusi, melaksanakan atau memimpinnya menuju kemenangan, tak dapat diciptakan dengan otaknya sendiri.
Sebuah revolusi disebabkan oleh pergaulan hidup, suatu akibat tertentu dari tindakan-tindakan masyarakat, ini yang menjadi kata kunci seorang Tan Malaka.
Hati-hati dengan tujuan atas nama kebersamaan, kita tidak lagi boleh hanya sekadar mengetahui dan memahami, sebelum membuat sikap, kita lebih baik menganalisis, memberi pertimbangan jauh ke depan mengapa mesti bersama padahal memang kita itu berbeda.
Tan Malaka sebelum merdeka telah memberi peringatan kepada kita bahwa; tujuan sebuah revolusi ialah menentukan kelas mana yang akan memegang kekuasaan negeri, politik dan ekonomi, dan revolusi itu dijalankan dengan “kekerasan”.
Kebersamaan itu perlu dan sangat dipentingkan, caranya mari kita pahami diri kita sendiri, analisis peran apa yang dapat kita lakukan. Tidak ada yang sempurna, apakah orang lain terlebih diri sendiri, dari sana kita akan berbagi kelebihan dan saling mengisi kelemahan, ini bukan dengan cara revolusi tetapi lewat evolusi yang terprogram.
Salah satu evolusi dimaksud adalah pendidikan, karena dunia pendidikan selalu menempatkan semua orang adalah bagian dari proses interaksi yang manusiawi.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.


















