Salah satu ciri khas masyarakat industri yang bernuansa sufistik adalah gaya hidup keseharian para pekerja/karyawan. Gaya hidup islami ini menjadi model, world view, metodologi, dan sekaligus merupakan kontrol bagi pribadi para pekerja/karyawan dalam menjalankan tugasnya sehari-hari baik tugas-tugas rutin maupun tugas-tugas pengembangan. (Puspo Wardoyo, 2016:84).
Bekerjalah sekuat tenaga seakan kamu akan hidup seribu tahun lagi, beribadahlah sekhusyuk mungkin boleh jadi kamu akan mati esok pagi. Pernyataan itu mungkin sederhana tetapi mewakili dua dunia yang berbeda, yakni dunia pekerjaan yang memberi kekuatan atau motivasi agar tetap terjaga mencapai hasil maksimal.
Di dunia lain ada pula berdoa seakan kita akan meninggalkan dunia yang sementara ini. Intinya menyerahkan diri kepada sang pemilik alam semesta apapun yang terjadi itu adalah ketentuan darinya.
Lanas ada lagi bekerja sambil berdoa, ternyata ini adalah jembatan yang memberikan inspirasi bagi kedua dunia di atas, bekerja tetap menjadi penting, sementara berdoa adalah mengiring bahkan menuntas dari akhir pekerjaan.
Oleh Puspo Wardoyo seorang pengembang bisnis kuliner mencoba memberikan makna bekerja terkait dengan ibadah hal ini menjadi dasar kita untuk hidup lebih terarah.
Menurut beliau, karakter utama seorang pekerja/ karyawan muslim adalah visinya bahwa hidupnya adalah untuk mengabdi dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Berdasarkan prinsip ini maka dia melihat kerjanya sebagai ibadah untuk mendekatkan diri kepada Tuhannya.
Begitulah bekerja tidak semata hanya untuk duniawi yang terukur dan dapat diprediksi baik proses maupun hasilnya. Namun dalam bekerja yang lebih islami secara umum hal-hal rutin yang menyangkut pribadi seorang karyawan muslim adalah:
Pertama, tidur atau bangun dari tidur. Hidup yang diawali dari istirahat adalah hal yang lumrah maka semua akan menjadi nilai ibadah, dengan doa sebelum tidur akan dilengkapi ketika bangun juga berdoa adalah kesadaran semua ini hanya untuk mengabdi kepadanya.
Kedua, mandi dan buang air. Mandi dianggap membersihkan diri secara lahiriah, begitu juga dengan buang air adalah kepasrahan ada sesuatu yang lebih mengendalikan diri kita dari dalam. Semua itu bila dilakukan dengan niat dan doa maka akan menjadi kebaikan dan terus berkelanjutan.
Ketiga, berpakaian. Ada terhadap diri sendiri, terhadap orang lain, bahkan terhadap alam salah satunya tercermin bagaimana kita memperlakukan badan dengan baik dan nyaman. Adalah berpakaian bila diniatkan untuk menjaga dan memelihara diri lewat doa maka itu akan memberikan kebaikan yang berbeda bagi siapa yang mengenakannya.
Keempat, makan dan minum. Menjaga kesehatan itu penting, makan dan minum adalah bagian dari cara melakukan penjagaan kesehatan tersebut. Bila makan dan minum diniatkan untuk menjaga kesehatan pasti hasilnya berbeda dengan makan untuk kenikmatan yang mengarah pada penguasaan, apalagi minum yang dibalut oleh gaya tanpa pengendalian. Makanlah secukupnya, minumlah sewajarnya dengan niat yang baik maka akan menjadi kesehatan yang penuh keberkahan.
Kelima, menjalankan tugas sehari-hari. Rutinitas itu adalah cara kita menjalankan hidup dalam siklus harian, bulan, maupun tahun. Tetapi setiap saat didalamnya adalah kegiatan yang mengingatkan kita bahwa apapun yang kita lakukan harus selalu sadar itu semua untuk mengabdi kepada Tuhan.
Keenam, istirahat. Sejauh manapun kita berjalan, sekeras apapun kita bekerja, bahkan sebanyak apapun harta yang kita kumpulkan akhirnya kita tunduk pada hukum alam pasti semua akan berakhir. Istirahat adalah kebutuhan, bahkan darinya kita mendapat energi baru untuk bekerja lagi di siklus berikutnya. Maka bila istirahat diniatkan untuk ibadah pada siklus berikutnya ini adalah awal dari kebaikan dalam hidup yang penuh keberkahan.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.



















