Banyak alternatif yang dapat diambil guru dalam mengatasi kesulitan belajar siswanya. Akan tetapi, sebelum pilihan tertentu diambil, guru sangat diharapkan untuk terlebih dahulu melakukan beberapa langkah penting. (Muhibbin Syah, 1999:169).
Praktik belajar selalu berkembang, berubah bahkan kadang sangat kasuistik. Bila belajar dimaknai sebagai sebuah fenomena sosial, maka gerakan masyarakat dapat mengatasinya dengan cara yang sama di tempat yang berbeda sekalipun bahkan sepanjang waktu.
Bila belajar dipercaya adalah kesadaran personal, maka setiap individu berbeda cara melakukan, mendapatkan pengetahuan, bahkan masalah yang dihadapi
Dalam dunia nyata, belajar seorang anak tidak dapat disamakan satu dengan lainnya, walaupun satu kelas 29 anak sedang belajar materi yang sama, dengan sistem pembelajaran yang sama, bahkan evaluasi dan hasilnya dikategorikan sama.
Hal ini sesungguhnya harus dilengkapi dengan pemikiran setiap anak berbeda cara menerima dan menyikapi perlakuan pembelajaran. Bukan tidak banyak masalah yang mereka hadapi tetapi pendidik mengganggap itu adalah kesalahan seseorang secara individual.
Muhibbin Syah, memberikan penjelasan bahwa apabila anak mengalami masalah dalam belajar itu adalah wajar, maka kita sebagai pengembang pendidikan harus mendekati hal ini dalam tiga langkah utama yakni sebagai berikut:
Pertama, menganalisis hasil diagnosis, yakni menelaah bagian-bagian masalah dan hubungan antar bagian tersebut untuk memperoleh pengertian yang benar mengenai kesulitan belajar yang dihadapi siswa. Setiap anak unik, berbeda satu dengan lainnya, mereka mempunyai latar belakang yang sangat beragam, kompleks bahkan berubah setiap saat. Guru harus mengerti mana lingkungan yang memiliki pengaruh besar, mana pula yang tidak dapat dikaitkan dengan belajar anak selama ini.
Kedua, mengidentifikasi dan menentukan bidang kecakapan tertentu yang memerlukan perbaikan. Boleh jadi seorang anak memiliki keahlian pada bidang yang satu tetapi dia memiliki kelemahan pada bidang lainnya. Tidak semua anak harus menjadi ahli pada bidang yang ditawarkan oleh kelas, karena mereka adalah individu yang indevenden terhadap berbagi keputusan. Pendidik dalam hal ini hanya mampu mengidentifikasi, memberi informasi dan alternatif-alternatif yang lebih mungin untuk diraih anak, maka jika ada masalah anak sendiri akan menyadari itu adalah bagian dari keputusannya.
Ketiga, menyusun program perbaikan, khususnya program remedial teaching (pengajaran perbaikan). Pendidikan tidak selesai dalam satu kegiatan pembelajaran, setelah perencanaan, pengembangan ada evaluasi dan kelanjutan. Standar minimal untuk penguasaan kemampuan atau kriteria ketuntasan minimal adalah administrasi kelas, namun untuk pelayanan terhadap individu lebih luas dari itu semua.
Pendidik tidak boleh berhenti dengan angka yang didapat, ia harus memberi apresiasi bagi mereka yang berhasil melewati standar, namun yang utama harus memberi solusi bagi siapa saja yang belum mendapatkannya.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.


















