Bagi sebagian orang, kepercayaan terhadap agama tidak lagi dianggap penting. Karena kemampuannya, manusia merasa cakap untuk membuka berbagai misteri kehidupan. Ini berkonsekuensi pada keraguan orang terhadap agama. Kini banyak orang berasumsi bahwa suatu saat agama akan pudar, kehilangan pengaruh, kemudian lenyap. Agama akan menjadi nostalgia masa lalu dengan simbol-simbol yang dianggap sebagai budaya. (Muhammad Qorib, 2026:1).
Agama adalah budaya, itulah awal dari simbolisasi terhadap pemahaman agama yang dangkal. Dari kedangkalan berfikir akhirnya agama menjadi praktik yang dapat dilakukan, atau ada pilihan lain yakni tidak dilakukan atau ditinggalkan alias mati.
Sungguh ini yang terjadi di tengah-tengah kehidupan kita, bahkan di lingkungan keluarga, mungkin juga di tempat kita bekerja, boleh jadi pada diri sendiri yang kadang tidak disadari.
Ketika berkumpul berbagai orang yang menjadikan agama sebagai praktik budaya semata, maka lahirlah komunitas yang mencoba memerdekakan diri ingin tetap hidup berbudaya tanpa diikat oleh formalitas agama. Namun celakanya mereka tetap ingin diakui dikalangan masyarakat yang beragama, dan merekalah yang menyatakan pahlawan pelestari budaya.
Ego dari kemampuan diri yakni percaya semua bisa didiskusikan, diselesaikan bahkan secara independen dapat merumuskan diri sendiri adalah kepercayaan yang luar biasa atau dianggap kebablasan dalam berfikir.
Pengkaji agama-agama yang secara konsen melihat hal ini adalah Mas Prof.Qorib dari sejak dulu dia tidak berhenti melihat ini sebagai sebuah fenomena masyarakat modern. Untuk mengingatkan agar kita tidak terjerumus lebih jauh ada empat hal penting yang harus diperhatikan yakni sebagai berikut:
Pertama, Misi agama meliputi ketuhanan, kemanusiaan dan kesemestaan. Dasar pemikiran yang kuat disandarkan pada konsep Tuhan, manusia dan alam semesta akan menjadi fondasi yang tak tergoyahkan. Dari awal diskusi akan tetap memiliki ontologi yang kukuh, walaupun selanjutnya ada interpretasi yang berbeda. Inilah bukti bahwa ilmuan dan agamawan selalu menjadi satu dalam sejarah peradaban Islam.
Kedua, Agama sebagai risalah Tuhan harus diperjuangkan dengan mempertimbangkan tiga hal yakni; agama, etika profetik dan keadaban publik. Memperjuangkan yang hak pasti memiliki aturan bahkan etika. Materi dan instrumen menyatu menjadi kekuatan yang luar biasa dalam epistimologi, disinilah maka agama layak diperjuangkan, etika profetik selalu mengadaptasi dalam berbagai keadaan, akhirnya publik selalu menerima walaupun entah siapa yang membawa. Sungguh agama itu bukan tergantung orang, apalagi tempat, tetapi nilai yang terus menghantarkan zaman.
Ketiga, Agar rangkaian etika agama dapat diimplementasikan dengan baik maka perlu tiga pilar utama yakni; humanisasi, liberasi dan transendensi. Epistimologi agama memang perlu mendapat perhatian, dari diskusi lintas disiplin, sampai solusi terhadap berbagai masalah di tengah-tengah masyarakat. Namun ketika agama akan dibawa kearah yang lebih luas, nilai humanisme selalu menjadi dasar tanpa diminta, liberasi bahkan terakomodir diujung perdebatan tanpa disadari, akhirnya semua sadar transendental adalah kesadaran tanpa paksaan. Bila ini diimplementasikan sesungguhnya tidaklah perlu kegiatan yang bersifat formal namun alur berfikir, cara bekerja sampai makna kehidupan nyata selalu hadir ketika kita bicara agama.
Keempat, Misi agama berangkat dari seperangkat ajaran yang ideal menuju kehidupan yang bersifat empirik, inilah cara agar agama menjadi solutif dan senantiasa bertahan melintasi zaman. Menawarkan nilai normatif dengan tiba-tiba adalah jalan pintas tanpa diskusi, tetapi justru agama memilih jalan berbeda untuk mencapai aksiologi. Kesadaran yang tumbuh dan berkembang dari realitas masyarakat bila ditelisik lebih jauh justru menghadirkan nilai-nilai kemanusiaan, ke Tuhanan bahkan kealamsemestaan secara seimbang dan selaras. Dari sini agama dikenalkan, ditawarkan, akhirnya menjadi solusi disetiap ada persoalan.
Sebagian orang ternyata tidak dapat mewakili komunitas yang lebih besar dimana mereka merasa agama akan runtuh secara sosiologis. Agama bahkan melewati batas banyak orang, melampaui tanda lintas zaman dimana ternyata hadir dari kesadaran, praktik kehidupan, dan akhirnya bukan sekedar solusi, tetapi tawaran bagaimana menjanjikan masa depan.
Mr.Prof.Qorib lewat kajiannya sekali lagi telah memberi sinyal itu akan terjadi hari ini, esok hari atau masa mendatang, dan sekali lagi pasti.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.



















