Kearifan Jawa adalah warisan budaya dari leluhur kita yang memiliki pandangan pemikiran monodisiplin yang mempercayai perasaan pribadi bilamana penglihatannya benar-benar berada di luar diri kita, dan mempercayai bahwa manusia itu terdiri dari unsur yang bersifat wadhag/kasar (konkret) berupa jasad (raga/jasmani), dan unsur yang bersifat halus (abstrak-spritual) berupa batin atau kerohanian/kejiwaan. (Soeprapto Nitihardjo,2001:xxxxi).
Sesuatu dapat dikatakan kearifan bila dapat dirasa dan menjadi manfaat pada orang yang menggunakan, terlebih pada orang lain yang ada di lingkungannya. Kearifan Jawa memang warisan budaya dari leluhur kita yang memiliki pandangan pemikiran monodisplin yang mempercayai perasaan pribadi.
Namun hari ini orang Jawa kadang berbeda tampilannya ketika mereka sudah terpragmentasi oleh lingkungan. Lingkungan Sumatera menjadi sintesa baru bagi generasi orang Jawa apakah ini karena sejarah atau boleh jadi alih generasi yang terus berubah.
Ada tiga hal penting terkait dengan fragmentasi ini yakni sebagai berikut:
Pertama; Orang Jawa lahir di Jawa dan tinggal di Jawa. Tanah Jawa bukan sekadar tempat suku bangsa, tetapi terdapat nilai luhur yang ada di seluruh sisi kehidupan, apakah di lingkungan keluarga, masyarakat terlebih dalam bertata krama. Siapapun yang pernah ke Jawa mungkin akan mengerti bahwa ada yang berbeda ketika di Keraton dengan desa-desa. Akan tetapi sebagian kesimpulannya sama mempercayai perasaan pribadi bilamana penglihatannya benar-benar berada di luar diri kita, dan mempercayai bahwa manusia itu terdiri dari unsur yang bersifat wadhag/kasar (konkret) berupa jasad (raga/jasmani). Namun diakui boleh jadi nilai kadar nya berbeda-beda.
Kedua; Orang Jawa lahir di Jawa dan tinggal di Sumatera. Kalem, manut, nurut, lembut itulah kesan kita terhadap sebagian orang Jawa, mungkin mereka adalah orang Jawa yang lahir di Jawa tetapi tinggal di Sumatera. Ini adalah generasi awal dimana perpindahan tempat tinggal apakah lewat kuli kontrak seratus tahun lalu, atau juga hari ini yang pindah tugas antar instansi. Mengapa kita menyematkan orang Jawa seperti kalem, boleh jadi karena membandingkan dengan sikap orang Sumatera di sekelilingnya, begitu juga manut karena sebagian tatanan di Jawa sudah mapan, apa kata Raja rakyat tidak mungkin menyela. Begitu juga nurut hal ini sebagian karena faham bahwa sadar di rantau orang bukan di tanah Jawa maka strategi nurut adalah pilihan, akhirnya lembut sebagai perangai yang tergambar dalam kehidupan sehari-hari menjadi pembeda. Lingkungan Sumatera menjadi tantangan yang sangat kompleks untuk hidup bertahan bahkan berjuang, lembut bukan berarti surut tetapi tidak mampu mengingkari unsur yang bersifat halus (abstrak-spritual) berupa batin atau kerohanian/kejiwaan.
Ketiga; Orang Jawa lahir di Sumatera tinggal di Sumatera.
Hem…dia itu lebih sumatera dari orang sumatera, kadang istilah ini disematkan pada orang Jawa yang berperilaku kasar tidak mencerminkan asilnya orang Jawa. Boleh jadi karena lahir di lingkungan perkotaan yang kompleks atau juga masyarakat yang majemuk, jadi tumbuh dan besar sesuai dengan karakteristik yang ada disekitarnya.
Orang Jawa yang lahir di Sumatera sebagian mereka adalah generasi kedua dan ketiga dan mungkin keempat. Generasi kedua dimana orang tua mereka masih lahir di Jawa, jadi nilai leluhur tercermin dalam kehidupan rumah tangga yang dipertahankan orang tuanya.
Sementara generasi ketiga sedikit kehilangan contoh tauladan. Orang Jawa hanya kakek dan neneknya, sementara mereka justru berbahasa Indonesia dimana instrumen kebudayaan Jawa semakin jauh dari kehidupan sehari-hari.
Bayangkan generasi keempat dimana kakeknya sudah lahir di Sumatera, orang tua sudah dibesarkan oleh masyarakat Sumatera jadi hampir kehilangan budaya leluhurnya.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.



















