Sehat itu penting, bagaimana cara sehat lain orang lain pula caranya, tetapi pada umumnya ada hal yang sama dan dapat dilakukan oleh siapa saja, kapan saja bahkan dimana saja. Ada tujuh kekuatan dalam diri kita sendiri, bila dikenali, dipahami mungkin saja dapat dijadikan kekuatan untuk mengembangkan kemampuan yang luar biasa.
Pertama, Membaca Diri Sendiri.
Saya saat ini adalah seseorang yang memiliki tugas dan tanggungjawab, apapun pekerjaan saya, dimana saya tinggal adalah yang harus saya terima hari ini. Namun saya tetap memiliki harapan atau hayalan, yang selalu terkait dengan apa yang sedang saya kerjakan boleh jadi sesuatu yang selama ini belum saya dapatkan. Saatnya memulai dengan satu kesadaran bahwa saya adalah saya, bukan tergantung orang lain, apalagi terikat waktu maupun tempat yang diluar kendali diri saya. Dari sini saya akan memulai hidup untuk lebih baik lagi.
Kedua, Puasa agar Sehat.
Memang enak makan, lebih nyenyak tidur, apalagi memiliki kesempatan untuk mendapatkan sesuatu. Dapat makan, dapat tidur dan melakukannya secara gratis adalah luar biasa, tidak capek dan terserah kita sendiri. Tetapi Al Ghazali pernah mengingatkan kita untuk menjangkau hal yang lebih jauh dari kebahagiaan adalah mengurangi tiga hal yakni; kurangi makan, kurangi tidur dan kurangi kesenangan.
Boleh saja kita berbuat sesuatu untuk sebuah tujuan, tetapi ternyata kuncinya adalah mengendalikan agar perbuatan kita dapat terukur dan terkendali menuju keberkahan.
Ketiga, Bergaullah dengan Orang yang Lebih Tua.
Banyak makan asam garam, termasuk gula dan pala, itu berarti telah banyak pengalaman hidup yang dijalani dan cerita telah dilalui. Dari sebab lahirlah akibat, bahkan menjadi kisah yang sangat berharga. Orang tua bagi anak muda, sarjana bagi mahasiswa atau senior bagi junior dapat dijadikan teman atau sumber untuk berbagi pengalaman hidup. Bagaimana suka dan duka dijalani, dari rencana sampai evaluasi bahkan dari keberhasilan sampai kegagalan adalah hal yang sangat luar biasa.
Bergaul dengan orang yang telah melalui disanalah orang tua harus dihargai, didengar dan dijadikan pelajaran bermakna. Tidak ada yang salah bila kita tetap dalam lingkaran orang yang lebih dahulu menjalani hidup walaupun pengetahuan kita boleh jadi lebih luas darinya.
Keempat, Ingat Mati.
Paling enak dalam hidup ini salah satunya adalah melihat pemandangan yang belum pernah kita alami. Tapi paling enak dalam hidup ini adalah tinggal di rumah walaupun selalu dilakukan berulang ulang. Setelah pergi jauh kita akan tetap pulang ke rumah. Lebih enak lagi istirahat di rumah adalah di ruang tidur, walaupun itu dilakukan setiap hari, tetapi kenyamanannya tiada banding.
Kita baru sadar ternyata dalam kehidupan sehari-hari, hal yang paling nikmat adalah istirahat di tempat yang tidak ada gangguan orang lain, intinya sendiri bersama apa yang kita inginkan. Konon kata Ebiet G Ade mati adalah tidur panjang. Boleh jadi di atas kenikmatan yang tiada tarra adalah kematian yang disadari tetapi tidak direncanakan.
Kelima, Jam ke-27.
Ketika kita lelah bekerja, belajar, maka berhenti untuk istirahat adalah pilihan. Istirahat di siang hari itu pilihan, tetapi istirahat di malam hari itu adalah siklus yang harus dipatuhi. Memaknai istirahat dengan sekedar berbaring itu adalah aktivitas fisik yang bisa direncanakan, dikontrol dan bahkan di kendalikan.
Padahal kita harus mengerti benar bahwa istirahat itu adalah menyerahkan diri untuk satu siklus dimana kita tidak sadar, dengan menyerahkan diri pada yang lebih mengetahui. Kapan itu terjadi bukan di alam sadar dimana 24 angka ada di jam dinding, bukan di pembaringan ketika kita mulai merebahkan diri, tetapi di angka 27. di saat inilah ketidaksadaran kita memberi informasi bahwa kita masih bersyukur kehidupan baru akan diberikan lagi maka mulailah dengan nol untuk berbuat lebih baik dari hari sebelumnya.
Keenam, Tujuh Detik yang Menentukan.
Semua kita pernah merasakan bahwa kita mempunyai banyak pekerjaan, banyak tuntutan, banyak masalah, dan mungkin tidak tahu apa yang akan terjadi setelahnya. Sehingga kita kadang ingin menyelesaikan tugas sendirian, menghadapi semua cobaan tanpa bantuan, boleh jadi harapan dan kegagalan sulit didapatkan. Dari siklus hidup semua orang ternyata mempunyai tempat yang sama, waktu yang sama serta kesempatan yang sama pula. Hanya sanya persepsi dan sikap terhadap apa yang dihadapi berbeda, karena persoalan pada diri sendiri.
Banyak kita tidak menyadari ternyata ditengah itulah kita kadangkala menjadi cerdas luar biasa, seakan dunia ini dalam genggaman kita, pengendalian diri yang dahsyat. Namun kapan itu terjadi boleh jadi saat kita buang hajat di kamar kecil, atau saat sendiri di sunyi. Disinilah sebenarnya ada tujuh detik yang jarang diketahui, padahal itu muncul setiap siklus hari.
Ketujuh, Menemukan Hakikat Diri.
Yang terbaik dari keinginan adalah mengamalkan, yang menjadi tujuan amal adalah keikhlasan, dari keikhlasan carilah ridha Tuhan. Sesungguhnya diri kita adalah bagian dari apa yang sedang terjadi di dunia yang lebih besar, maka sadarlah bahwa kita bukan sendirian disana, disini bahkan dimana mana ada Tuhan yang siap dihadirkan.
Catatan: Tulisan ini terinspirasi dari berbagai sumber.



















