Literasi adalah kecakapan inti bagi seseorang dalam memahami kehidupan ini. Kekayaan sumber literasi menjadikan kita harus mampu mengembangkan diri dalam memanfaatkan berbagai hal untuk kebaikan, khususnya untuk pengambilan keputusan. Terdapat tujuh tingkatan literasi sebagai sumber pertimbangan yang bermanfaat bagi kita.
Pertama
Anda tahu arti Al Kitab?
Tanya pada seorang nabi, sebagian besar nabi tidak mendapatkan predikat “rasul” karena tidak memiliki kitab. Dan. Dari mereka hanya 4 diantaranya yg terpilih. Merugilah kita yang telah memiliki berbagai kitab/buku tetapi justru hanya menjadi pajangan. Alangkah lebih baik, bila kita memiliki satu kitab/buku dibaca sampai selesai, dari sana kita baru tahu apa tujuah penulisnya.
Kedua
Anda tahu arti Satu Bab?
Tanya pada seorang mahasiswa yang sedang menyusun tugas akhir, sebagian mereka sulit menyelesaikan skripsi karena bab IV yang tidak kunjung selesai. Mahasiswa yang bijaksana ia akan menjadikan bab ini sebagai bacaan utama, karena dengan itu akan mendapatkan ruh dari sebuah naskah akademik.
Ketiga
Anda tahu arti satu pasal?
Tanya pada seorang dosen yang sedang menyusun buku ajar. Sebagian dosen sulit menyelesaikan buku ajar karena pasal tentang latihan untuk mengukur kompetensi mahasiswa atau juga ilustrasi kasus sangat sulit dibuat. Untuk itu dosen yang memiliki keterampilan ia akan tetap mencoba melalui berbagai cara. Ia sadar karena setiap narasi dan pernyataan harus diiringi dengan alat ukur yang tepat.
Keempat
Anda tahu arti satu halaman?
Tanya pada seorang sekretaris negara. Setelah dijajah bertahun-tahun akhirnya dapat merumuskan satu halaman yakni teks proklamasi. Mengapa kita mesti banyak menggunakan kertas untuk berbagai kepentingan yang sama, padahal halaman utama itu yang penting. Kertas dan halaman itu memang berbeda tetapi boleh jadi disana kita diuji apakah itu diperlukan dalam hidup atau tidak.
Kelima
Anda tahu arti satu kalimat?
Tanya pada Albert Einstein. Kalimat terkenal darinya adalah; “ilmu tanpa agama buta, agama tanpa ilmu lumpuh”. Dengan kalimat tersebut ia menjadi ilmuan terkemuka abad XX. Saatnya kini belajar tentang bahasa yang baik, cermat dan hemat. Tidak perlu bertele-tele dalam menyampaikan ide dan gagasan, apalagi banyak kata mubazir berulang hanya untuk menghormati sesuatu atau seseorang.
Keenam
Anda tahu arti satu kata?
Tanya pada anggota dewan dalam menentukan arah pembangunan. Mereka cukup dengan satu kata “setuju” atau “tidak setuju”.
Dengan satu kata tersebut negara menetapkan keputusan formal yang menjadi haluan negara apakah menerima lima tahun yang lalu, atau bahkan menetapkan kemana arah lima tahun yang akan datang. Anda bayangkan diantara kata tersebut sedikit banyak akan memberi pengaruh pada nasib anda dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Ketujuh
Anda tahu arti satu huruf?
Tanya pada seorang penulis kepada penerbit di Perancis pada abad ke XIX.
Sang penulis yang mengirim surat bertuliskan: “!”
Kemudian penerbit menjawab surat bertuliskan: “?”
Sampai hari ini dua surat tersebut tercatat menjadi korespondensi terpendek di dunia.
Tidak mesti sulit untuk menyampaikan banyak hal, kini emoji adalah simbol untuk membantu anda dalam berbagai keinginan, jawaban atau ekspresi terhadap dunia ini.
Bila kita menyadari bahwa kumpulan dari huruf akan menjadi kata, dari rangkaian kata menjadi kalimat, dari susunan kalimat menjadi paragraf atau pasal, dari sanalah kita berharap ada satu halaman. Susunan halaman yang rapi kemudian jadilah bab, akhirnya ini yang disebut buku.
Mari kita sadari bahwa literasi boleh diidentikkan dengan buku. Buku adalah abstraksi suatu keadaan diawali dari sebuah titik yang membentuk garis untuk sebuah huruf yang telah kita sepakati dalam hidup ini. Dari sini kita bukan hanya tahu tetapi menyadari, dimana posisi kita pada tingkatan literasi?
Catatan: Tulisan ini diinspirasi dari berbagai sumber.


















