Berbincang di teras masjid adalah sesuatu yang selalu dilakukan oleh jamaah setelah shalat subuh apalagi hari Ahad. Seperti menjadi komunitas tersendiri, empat orang jamaah seperti kompak, tak beranjak dari tempat duduk, cerita dari hal yang sepele sampai rekomendasi mau kemana kita pekan ini. Itulah yang dialami oleh Pak Marmuj pada pekan kedua bulan Februari tahun ini.
Setelah sarapan bersama, ternyata ada kesepakatan yang dilahirkan oleh keempat teman kompak bersama Pak Marmuj, mereka setuju berangkat ke ladang meninjau tempat untuk persiapan panggang lemang. Hem… sudah membayangkan, meriah, seru dan yang paling ditunggu adalah makan bersama dengan adonan selai.
Sampai di ladang sambil menunjuk luasnya rerumputan yang hijau, tumpukan kayu yang belum dibersihkan, Pak Marmuj menyampaikan bahwa di bawa ladang ada serumpun bambu untuk dijadikan tempat pembakaran lemang.
Mereka pun berjalan, namun salah seorang diantara mereka sedikit terburu ke jamban mungkin buang hajat, sementara tiga teman kompak meneruskan perjalanan untuk melihat dimana cocoknya tempat pembakaran.
Oke sepakat acara panggang lemang disetujui, hari ahad, kita semua setuju membawa peralatan dan pembiayaan harus ditanggung bersama untuk menunjukkan kekompakan sesama teman. Sedikit terburu mereka pun menyudahi survei awal lokasi pembakaran lemang.
Setelah berjalan pulang tak sadar ternyata pak Marsa kebingungan lantas ditanya oleh Pak Marmuj.
Pak Marmuj; ada apa pak Marsa, sepertinya ada masalah tak bicara, bingung tak berujung?
Pak Marsa; hemmm. Maaf jam tangan saya hilang tadi mungkin di ladang.
Pak Marmuj; tepatnya dimana biar kita cari.
Pak Marsa; saya tidak tahu kalau tahu saya ambil jam itu.
Pak Mardu; ok. Sebentar ayo kita ulangi kedatangan kita, mari sama-sama kita ingat, kita pertama dari simpang masuk ke ladang, kemudian kita ke gubuk, lalu ke ladang sebelah kiri, ayo sama kita cari,
Hasilnya nihil.
Pak Marti; ok, begini sebentar saya buat alat dulu, dengan membuat kumpulan magnet, pak Marti mencoba meletakkan di beberapa tempat yang dicurigai kemungkinan jatuhnya jam tangan, apakah di semak, di bawah gubuk, sampai di tempat pencucian.
Hasilnya nihil.
Mar Marsa; sudahlah saya pasrah, walau itu jam kesayangan saya, merek yang paling saya senangi sejak kecil dulu.
Pak Marmuj; merek apa jam bapak?
Pak Marsa; merek Alba, saya senang sekali dengan jam itu.
Pak Marmuj; ok… pak kalau memang rezeki pasti masih milik bapak, sabar pak mungkin nanti malam kita perlu berdoa agar jam itu dapat kembali.
Pak mardu; ah…Pak Marmuj ini ada-ada saja, memang nya jam itu punya kaki.
Pak Marmuj; sabar-sabar.
Setelah pasrah, dan semua pulang ke rumah masing-masing. Walaupun dengan harapan ingin tetap mendapatkan jam merek Alba. Di sisa perjalanan pulang Pak Marsa sedikit menjelaskan bahwa Alba lahir pada tahun 1979 di Jepang dan meraih kesuksesan dalam waktu singkat.
Nama Alba sendiri memiliki arti fajar (atau cahaya; harapan dalam bahasa spanyol/italia) dan menjadi simbol instan dari nilai dan kualitas yang diharapkan konsumen dari merek yang dibuat oleh Seiko Watch Corporation. Ketenarannya menyebar dengan cepat di seluruh Asia dan Timur Tengah dan sampai dengan hari ini, Alba adalah nama yang dihormati dalam jam tangan, dengan lebih dari jutaan pelanggan baru yang puas setiap tahun.
Nah.. jutaan pelanggan bapak-bapak, salah satunya saya di sini…
Pak Marmuj setelah shalat isya entah apa yang menggerakkan dirinya, iapun langsung berangkat ke ladang lagi, sesampai di sana ia terdiam, sedikit bingung baru pertama membawa teman-teman yang kompak, malah ada yang kehilangan jam tangan. Pak Marmuj pun…seperti putus asa, ia melangkah pelan dan balik kanan dan pulang.
Namun ketika dua langkah..Pak Marmuj mendengar suara “tik….tik….tik….tik.” curiga dengan suara tersebut, maka Pak Marmuj pun mendekati, ternyata ada benda kecil mengeluarkan cahaya di balik pohon dekat pancuran air. Ternyata benar adalah Jam Alba miliki Pak Marsa yang tergantung di tiang jamban.
Keesokan harinya. Pak Marmuj dengan sedikit semangat menyampaikan dan sekaligus memberikan Jam Alba kepada pak Marsa.
Pak Marsa; terima kasih pak…. syukur jam saya kembali….. dimana bapak dapatnya.
Pak Marmuj; ya….kan sesuai dengan namanya Alba maka dari cahaya malam…
Ah…..ada ada saja pak Marmuj….Pak Marmuj….memanglah.
Tiga hal hikmah yang dapat kita ambil dari cerita ini adalah:
Pertama; jam tangan adalah alat untuk penunjuk waktu, apapun mereknya yang utama adalah fungsi dari jam tersebut bukan pada harga apalagi gengsi mengenakannya untuk sekedar gaya.
Kedua; ketika kita kehilangan ada dua kemungkinan yang pertama adalah teguran mungkin ada harta orang lain yang masih kita simpan baik disadari atau tidak, kedua cobaan apakah kita mengerti bahwa semua harta adalah titipan, dan boleh jadi kita belum siap untuk menjaga apalagi melepaskannya .
Ketiga; untuk mendapatkan sesuatu tidak mesti dengan ilmu dan teknologi apalagi sekedar pengalaman atau imajinasi, kembalikan bahwa bila rezeki maka semuanya akan menjadi yang masih pantas dititipkan oleh kita yang amanah.
Ketujuh kita setuju berkolaborasi mengeksplorasi sejarah, lewat kisah kita mencari ibrah.
Catatan; kisah ini diinspirasi dari berbagai sumber.


















