Menjelang akhir tahun masehi, selalu ditandai dengan berbagai kegiatan, sebagian saudara kita yang beragama kristen sibuk dengan ibadah. Sementara masyarakat umum selalu melihat kalender. Kalender sebagai penanda telah berapa lama usia dilalui, berapa lama lagi waktu akan dijalani. Begitulah setiap pergantian tahun bermacam aktivitas, dari kalender harian, bulanan, dua bulanan, tiga bulanan ada pula yang sampai tahunan.
Pembicaraan di kelas tampak serius, sebelum keluar dari jam mengajar Pak Marmuj mendengar diskusi kecil dari tiga orang siswa yang duduk di sudut ruang.
Siswa pertama; Usia saya sudah 16 tahun berarti sudah 16 kali ulang tahun tetapi ingat saya dirayakan baru dua kali itupun waktu usia 13 tahun dan ini yang ke 16.
Siswa kedua; usia saya sudah 17 tahun berarti sudah 17 kali hari raya, banyak yang lupa tentang hari raya, waktu kecil rasanya senang berhariraya karena ramai, banyak yang memberi, ini semakin berusia rasanya semakin tidak ramai.
Siswa ketiga; Usia saya 17 tahun saya tapi saya baru empat kali ulang tahun.
Siswa pertama; Lho kenapa empat kali mestinya sudah 17 kali.
Siswa kedua; mungkin kamu tak sempat, atau tak punya uang untuk syukuran hari ulang tahun ya….atau kamu yang lupa.
Siswa ketiga; iya benar, saya baru empat kali ulang tahun, saya pun tidak tahu mengapa demikian.
Siswa kedua semakin penasaran mengapa usia sudah 17 tahun mestinya sudah 17 kali ulang tahun namun ini hanya empat kali. Mungkin kalender yang diterapkan apakah berbeda, tanda tanya semakin menjadi-jadi.
Sambil melirik ke depan, tampak Pak Marmuj yang duduk menyiapkan berkas akan keluar kelas, siswa spontan bertanya kepadanya.
Siswa kedua; Pak ini ada teman kami usia 17 tahun kok ulang tahunnya baru 4 empat kali, apa dia bohong, atau bagaimana pak.
Pak Marmuj; oh…..itu berarti sudah dapat ditebak kapan dia lahir.
Siswa pertama semakin penasaran; lho…..kok bapak guru bahkan lebih tahu lagi kapan lahirnya dari mana jalannya pak.
Pak Marmuj; ia dia pasti lahir tanggal 29 Februari benar kan?
Siswa tiga; ya benar pak.
Pak Marmuj; ya…ya…… dalam empat tahun sekali ada tahun dimana bulan Februari penanggalan sampai 29, itu disebut dengan tahun kabisat.
Semua siswa mengangguk, tetapi mereka juga penasaran, apa itu tahun kabisat.
Tak lama kemudian Pak Marmuj seperti biasa mengeluarkan ponselnya, seraya menjelaskan sedikit tentang tahun kabisat.
Tahun kabisat adalah tahun yang memiliki 366 hari, bukan 365 hari seperti tahun biasa. Ini terjadi karena Bumi membutuhkan waktu 365,24 hari untuk mengorbit Matahari.
Mengapa Tahun Kabisat Dibutuhkan?
Tahun kabisat dibutuhkan untuk menjaga keselarasan kalender dengan peredaran Bumi mengelilingi Matahari. Jika tidak ada tahun kabisat, maka kalender akan bergeser sekitar 6 jam setiap tahun, yang dapat menyebabkan kesalahan dalam penanggalan.
Cara Menentukan Tahun Kabisat
Tahun kabisat ditentukan dengan aturan berikut:
1. Tahun yang habis dibagi 4 adalah tahun kabisat.
2. Namun, tahun yang habis dibagi 100 bukan tahun kabisat, kecuali jika tahun itu juga habis dibagi 400.
Siswa pertama; pak contohnya supaya lebih jelas pak.
Pak Marmuj; ini dia…..
Contoh Tahun Kabisat
– 2020 adalah tahun kabisat karena habis dibagi 4.
– 2000 adalah tahun kabisat karena habis dibagi 400.
– 1900 bukan tahun kabisat karena habis dibagi 100, tetapi tidak habis dibagi 400.
Dampak Tahun Kabisat
Tahun kabisat memiliki dampak pada penanggalan, seperti:
– Bulan Februari memiliki 29 hari, bukan 28 hari.
– Tanggal 29 Februari hanya ada pada tahun kabisat.
Dengan memahami tahun kabisat, kita dapat memahami lebih baik tentang penanggalan dan peredaran bumi mengelilingi matahari.
Pak Marmuj; jelas ya…inilah kalau kita pandai menggunakan Meta AI dari aplikasi WhatsApp, disana semua ada jawabannya.
Siswa kedua; pak tahun depan ini kan 2026, apa ini tahun kabisat?
Pak Marmuj; coba kita lihat apakah 2026 habis dibagi empat?
Siswa pertama; tidak pak.
Pak Marmuj; nah…jelas berarti ini bukan tahun kabisat maka tidak ada tanggal 29 Februari, yang ada hanya sampai tanggal 28 saja.
Baru saja menjelaskan Pak Marmuj dan siswa kebingungan karena siswa ketiga hilang tak permisi, dan tak ada di kelas.
Siswa pertama; lho….kemana dia.
Pak Marmuj; sabar itulah maksudnya dia tidak ada ulang tahun pada tahun 2026 ini, tidak seperti kalian setiap tahun bisa merayakannya. Bersyukurlah….. boleh jadi siswa ketiga tadi dia sedih bila dibanding dengan kalian berdua. Karena dia tidak dapat merayakan ulang tahun di tahun 2026 ini.
Pak Marmuj; apa kalian tahu, ada juga zaman sekarang orang tua yang secara sengaja minta ke dokter agar anaknya lahir operasi sesar tepat tanggal 29 Februari.
Kedua siswa bingung; hah…………yang benar pak…
Tiga hal hikmah yang dapat kita ambil dari cerita ini adalah:
Pertama; Hari kelahiran adalah tanda penanggalan diperlukan untuk menjadi pengingat bahwa bukan hanya waktu yang berjalan, tetapi sesungguhnya manusia yang mengalaminya terus berubah.
Kedua; hakikat waktu adalah masa yang kita buat sendiri ukurannya dari abad, tahun, bulan, pekan, hari, jam, sampai menit dan detik. Ingat detik demi detik punya arti tidak mesti menunggu menit untuk memaknai setiap waktu dan seterusnya. Lakukan apa yang bisa dilakukan sekarang juga.
Ketiga; berganti waktu ditandai dengan kalender tahunan, namun pada hakikatnya adalah ada saat di mana kita harus mengingat masa lalu untuk diperbaiki, menata masa kini untuk perbaikan, dan menatap masa depan untuk berbuat yang lebih baik lagi.
Ketujuh kita setuju berkolaborasi mengeksplorasi sejarah, lewat kisah kita mencari ibrah.
Catatan; kisah ini diinspirasi dari berbagai sumber.



















