Oleh Prof Dr Mardianto MPd
Pengertian tasawuf adalah kesadaran murni yang mengarahkan jiwa secara benar kepada amal shalih dan kegiatan yang sungguh-sungguh, menjauhkan diri dari keduniaan dalam rangka pendekatan diri kepada Allah untuk mendapatkan perasaan berhubungan erat dengan-Nya. (Ahmad Bangun Nasution, 2013).
Seseorang dalam menuntut ilmu dapat saja melakukan apa yang ada di depannya, memaknai segala hal yang terjadi, dan berguru kepada orang yang dipercayainya. Mendapatkan ilmu dengan pengukuhan seorang guru, memperoleh hikmah dari yang dipelajari dengan praktik dari hal-hal yang sederhana adalah sebuah perjalanan memperoleh ilmu pengetahuan yang mengandung hikmah.
Para ahli tasawuf tentu memulai perjalanan mencari ilmu adalah dengan menemui guru, karena tidak dibenarkan memperoleh sesuatu tanpa sanad atau silsisah, ditakutkan belajar tanpa guru sama dengan murid syetan. Bila mendapatkan guru yang tepat, maka belajar berlanjut, dan sampai menemukan hikmah dan terangkailah sanad sampai kepada si empunya ilmu pengetahuan.
Para ahli pendidik, melakukan sesuatu adalah dengan cara paling sederhana, dari bangun tidur dapat dijadikan bagian dari belajar, melangkah adalah melakukan pemahaman, dan duduk adalah merenungkan, dan akhirnya menjelang tidur ia dapat sesuatu pengetahuan baru.
Setiap detik punya arti, dan setiap saat harus berkarya, dan pada gilirannya memang hidup ini adalah untuk belajar dan mengajarkan sesuatu bagi orang di sekitarnya.
Bagi para ilmuwan sesungguhnya tidak terbatas mendapatkan ilmu pengetahuan hanya di ruang kelas yang kecil, sebatas dinding dan papan tulis. Lebih dari itu pengetahuan adalah hamparan yang ada di depan mata, semua orang adalah guru atau pendidik, dan setiap saat adalah waktunya peneltiian untuk pembelajaran.
Pendidik inspiratif tidak pernah berhenti dan terjebak dalam taksonomi pendidikan, apa saja yang ada dalam kehidupannya, ia tetap belajar untuk diajarkan. Tetapi pendidik inspiratif menyadari, semua yang dilakukan adalah disandarkan untuk pengabdian kepada Tuhan. Tidak ada pendidik yang tidak takut kepada Tuhan, bila kita mendidik bukan karena takdir Tuhan, maka saya tidak mendidik.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.

















