Things may come to those who wait, but only the things left by those who hustle. (Sesuatu mungkin datang kepada mereka yang menunggu, tetapi hanya hal-hal yang ditinggalkan oleh mereka yang bergegas) (Abraham Lincoln 1861–1865).
Di dunia ini tidak ada yang berhenti, semua bergerak maju, apapun siapapun ikut dalam hukum kapan yakni sekarang menuju yang akan datang. Jadi jelas siapapun yang memaknai bahwa dunia ini ada yang diam dan berhenti maka inilah awal dari kematian, karena ia tidak dapat mengikuti hukum alam yang sebenarnya.
Kesuksesan adalah sesuatu yang dianggap selesai, tetapi kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda.
Apakah hari ini kita telah sukses, atau melampaui sukses, maka hidup ini telah selesai, yang ada adalah kita semua sedang menuju kepada satu tujuan yakni sukses di akhir cerita, bahkan pasca kematian.
Kesuksesan kabarnya hanya milik orang-orang tertentu, berarti ada tempat yang terbatas, sekaligus manusia pilihan yang dapat mencapainya.
Bagaimana cara mendapatkan kesuksesan maka segeralah menentukan apa yang dimiliki, bagaimana mendayagunakan, dan arahkan tujuan untuk mencapainya.
Bagaimana posisi diri kita saat ini, mungkin ada ditiga pilihan ini:
Pertama menunggu, sebagian kita saat ini adalah menunggu dengan berpangku tangan, boleh jadi karena sudah tidak ada lagi harapan yang kan dinanti, semua usaha telah dicoba, semua orang telah dimintai pertolongan. Pasrah dan mendefinisikan diri bagian dari dunia yang gagal adalah kemudahan dalam menentukan pilihan dan ini adalah persepsi diri terhadap apa yang sedang terjadi. Sekali lagi persepsi seperti inilah yang menjadikan diri kita tidak serta dalam perkembangan gerak maju dunia ini.
Kedua melaju, sebagian kecil orang orang masa lalu masih terus bergerak maju, namun mereka yang ada di usia produktif, adalah terus bergerak. Seakan dunia ini akan ditaklukkan dengan segala macam usaha, tidak ada batasan waktu, kapanpun bisa bekerja, bahkan membalik sisi dunia, siang untuk bekerja, malam juga untuk bekerja, dan istirahat hanya ketika ingat diantaranya. Mempersepsi diri memiliki potensi dan terus mengomptimalkan diri sebenarnya perlu interopeksi.
Ketiga mengendalikan masa depan. Puncak dari keberhasilan kita adalah bagaimana menjalani hidup dengan memberi makna detik demi detik penuh arti. Tidak ada yang berulang, dan terus mencapatkan hal baru, dengan itulah maka kita selalu ada digaris depan kehidupan. Perjalanan waktu memang pasti, tetapi mengendalikan dengan cara mengendalikan kapan harus bekerja, berfikir, dan menikmati adalah pilihan kita. Kekuasaan diri adalah hal utama, menatap masa depan itu penting diiringi dengan perhitungan yang matang serta usaha untuk mencari berkah itu lebih utama. Saat seperti ini persepsi diri kita telah menjadi bagian dari dunia yang penuh dengan keberkahan, apalagi untuk menemukan kepuasan diri yakni dengan senang berbagi.
Semangat satu abad lalu yang dikobarkan oleh Abraham Lincoln dengan kalimatnya yang terkenal; sesuatu mungkin datang kepada mereka yang menunggu, tetapi hanya hal-hal yang ditinggalkan oleh mereka yang bergegas, fantasi menjadi pengadilan diri kita hari ini.
Apakah kita hanya penikmat warisan orang-orang masa lalu, atau kita akan menciptakan yang baru lagi.
Bila masih ingin menjadikan kata sukses menyatu dalam diri kita, maka jadikan diri kita berkerja untuk berbagi, masa depan akan hadir untuk bersama dinikmati, dan tidak ada kata untuk diri sendiri
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.


















