Prinsip kekinian menyatakan bahwa saat ini adalah titik awal dari langkah kehidupan yang akan kita tempuh. Kita beroperasi dengan pengetahuan, pengalaman, pemahaman, prinsip hidup, dan kebijaksanaan yang berhasil kita kembangkan hingga saat ini. (Adi W.Gunawan, 2009:15).
Kadangkala kita diam duduk termenung, tidak tahu kemana ujung dari renungan. Kadang kala kita terlalu sibuk entah apa yang dikejar, toh sama saja hasilnya.
Tetapi kadang justru di tengah-tengah waktu yang tidak direncanakan ada hal yang memberi inspirasi tentang sesuatu yang menjadi semangat untuk diraih, dicapai dan sangat mungkin dijalankan. Sungguh itulah kehidupan, ada yang terjadi sesuai perencanaan, tetapi ada pula yang tidak diinginkan justru menghampiri, bahkan menghantui.
Sebagian orang kadang memikirkan masa depan, ada pula yang tidak peduli, jalani saja karena jarum jam pasti berputar, apalagi tanggal, bulan maka berikutnya kalender pasti berubah.
Di sinilah ada sesuatu yang harus dilihat sebagai hal yang berbeda, seorang Adi W.Gunawan memberi tawaran tentang makna masa depan.
Menurut beliau, mengapa masa depan disebut potensi? Karena masa depan tergantung pada apa yang kita tetapkan saat ini. Masa depan ditentukan oleh impian yang berani kita putuskan untuk diraih. Masa depan tergantung pada apa yang kita rencanakan saat ini.
Adi W.Gunawan memberi solusi bagaimana hidup harus semangat meraih masa depan dengan membuat berbagai pilihan. Diskusi yang dilontarkan sebagai bagian dari pikiran kita adalah; apa yang akan kita putuskan untuk menjadi masa depan kita? Ini semua tergantung pada diri kita sendiri.
Perencanaan masa depan setiap orang tidak sama. Itulah sebabnya jalan hidup setiap orang juga berbeda. Buktinya kita sendiri selalu berbeda pendapat tentang masa depan, berbeda dalam merencanakan, apalagi memaknai nasib masa depan kita sendiri.
Bila di masa sekarang kita tidak membuat keputusan tentang masa depan seperti apa yang akan kita jalani, kita akan menjalani masa sekarang di masa depan. Tidak ada yang berubah di masa depan. Kita tinggal mengulang apa yang telah kita jalani saat ini.
Sesungguhnya inilah ciri kita telah mati sebelum saatnya, karena kita hanya menjalani apa yang terjadi, tidak ada rencana, apalagi mengevaluasi, bahkan apapun yang terjadi kita anggap itulah nasib, dan selesai.
Tetapi kita diajak untuk merubah hal di atas, apa yang harus kita lakukan lewat pengetahuan, pengalaman dan prinsip kehidupan tiga hal penting adalah sebagai berikut:
Pertama; Kita tidak membiarkan masa lalu mendikte hidup kita. Boleh jadi masa lalu kita kaya dengan pengalaman tetapi itu adalah telah terjadi, hari ini kita harus berubah dan tataplah masa depan itu ada dan mungkin kita ubah.
Kedua; Kita mengenang masa lalu hanya sebagai sejarah hidup kita. Sejarah boleh dicatat, masa lalu boleh dihargai, tetapi ada batasnya, bukan menjadi pertimbangan utama. Tidak ada hidup ini yang tak punya masa lalu, maka tidak istimewanya masa lalu bila dijadikan kebanggaan oleh seseorang.
Ketiga; Kita belajar dari masa lalu dan menjadi lebih bijaksana. Boleh jadi kita telah mempersiapkan masa depan dengan baik, akurat dalam perhitungan, optimis dalam pencapaian, tetapi perlu kendali dan disinilah kebijaksanaan memutuskan diperlukan.
Akhirnya kini kita bisa duduk dengan tenang, menikmati diam, karena kita telah mengetahui bahwa prinsip kekinian dapat dijadikan titik awal dari langkah kehidupan yang akan kita tempuh.
Pelajaran dari bacaan kita terus kita tingkatkan, dengan itu pula banyak pengetahuan kita peroleh, berbagai pengalaman kita jalani, dan kaya akan pemahaman kita jadikan pertimbangan.
Akhirnya itulah yang menjadi prinsip hidup, dan kebijaksanaan yang akan menghasilkan hari esok lebih baik lagi. Semangat.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.


















