Tasawuf adalah ilmu yang lebih menekankan rasa (taste) dari pada rasio. Oleh sebab itu, filsafat dan tasawuf sangat distingsif. Tasawuf sebagai sebuah ilmu yang prosesnya diperoleh dari rasa, ilmu tasawuf bersifat sangat subjektif, yakni sangat berkaitan dengan pengalaman seseorang. (Ali Usman, 2022:13).
Dalam banyak hal kadang kita berpikir rumit, tetapi dalam hal tertentu justru kita berfikir simpel sederhana. Mengapa mesti dipersulit, mulai dari yang sederhana, pertimbangan kemungkinan lain, dan kita pun mengambil keputusan, hasilnya seperti yang diharapkan. Bila kita jumpa pengalaman di atas ini dapat dikategorikan intuisi.
Ketika kita duduk diam sendiri, kadang ada sesuatu seperti bisikan atau bayangan untuk melakukan, dan kita pun semangat untuk melakukannya, dan selanjutnya kita lakukan. Bila hal itu kita tanya pada ahli agama mungkin ini yang disebut ilham.
Pada waktunya kita melakukan sesuatu dengan semangat, bahkan seakan tidak terlalu memikirkan hasilnya namun yang utama telah melakukan sesuai dengan perasaan, keinginan dan taat pada aturan.
Namun kadang kita mencari banyak jalan, mencoba berbagai pilihan, bahkan membuat pilihan itu sendiri, sungguh hasilnya diserahkan kepada orang lain untuk menilainya dan inilah kreatif. Bagian-bagian dari keadaan ini bila kita konsultasi dengan ahli psikologi selalu disebut dengan inspirasi.
Dari intuisi, ilham sampai inspirasi semua ada dalam pengalaman kita, namun kita kadang tidak sadar kapan kita lakukan, atau bahkan mungkin saja itu menjadi kebiasaan setiap menghadapi masalah.
Ali Usman dalam hal ini justru menyebutnya bagian dari tasawuf. Karena sebagian pendapat mengatakan bahwa metode ilmu tasawuf adalah intuisi, ilham, atau inspirasi yang datang dari Tuhan. Makanya kita juga dipaksa setuju bahwa bahasa tasawuf sering tampak aneh bila dilihat dari aspek rasio.
Teruslah pergunakan perasaan untuk menjadi dasar dalam tindakan, karena memang rasa itu penting, bukan saja menjadi awal untuk memberi semangat bertindak. Bahkan berpikir sekalipun boleh jadi diawali dari adanya perasaan untuk melakukan sesuatu, perasaan untuk mengelola hal tertentu, dan perasaan untuk menyelesaikan setiap masalah yang kita hadapi.
Tempat perasaan adalah utama dalam psikologi kita, bahkan dengan perasaan kita diberi ruang untuk membuat berbagai pertimbangan, utamanya pertimbangan tentang diri sendiri dan lingkungan bahkan untuk setiap pengambilan keputusan.
Sungguh perasaan yang dikelola dengan baik akan menghasilkan kekuatan luar biasa dalam diri seorang individu, walupun diingatkan jangan terlalu berlebihan alias “baper” bawa perasaan.
Mulai hari ini, ketika kita mengarungi hidup sendiri, berkeluarga, bertetangga, bahkan dalam pekerjaan atau profesi semua harus diawali dari rasa senang, positif, bahagia.
Mungkin saja intuisi sedang mengawali pemikiran kita, dan kemudian kemudahan akan dibimbing oleh ilham dari yang kuasa, dan akhirnya kita menjadi inspirasi bagi semua siapa saja yang melihat.
Hal di atas menurut Ali Usman juga diakui dalam ilmu pengetahuan, karena model pengetahuan ini lazim dikenal dengan istilah ilmu hudhuri, yaitu suatu kebenaran yang objeknya datang dari dalam diri subjek sendiri.
Dalam sains dikenal istilah objeknya swa-objek, atau objeknya tidak objektif. Sebanyak apapun ilmu, setinggi apapun pangkat yang ada pada dirimu, serta selengkap apapun gelar dan titelmu, kalau engkau tidak percaya diri (percaya pada diri sendiri) maka tidak berarti apa-apa.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.


















