Kitab suci Al Qur`an memberikan keterangan yang sangat jelas bahwa perempuan mempunyai status individualnya sendiri dan tidak diperlakukan sebagai pelengkap bagi ayah, suami atau saudara laki-laki mereka. Mereka mendapatkan semua hak-hak sebagai individu, tidak hanya karena mereka adalah ibu, isteri atau anak perempuan, walaupun status tersebut akan dipakai untuk tujuan pemberian harta warisan. (Ashar Ali Engineer,1994:203).
Perempuan itu lahir sebagai perempuan dan akan menjadi perempuan yang sebenarnya ketika berbagai peran ditampilkan selama hidupnya. Jelas bahwa perempuan lahir beda dengan laki -laki baik dari fisik, mental maupun perlakuan kita terhadapnya.
Secara fisik perempuan memiliki kelamin berbeda, secara mental ia memiliki sensibilitas yang lebih dibanding laki-laki, dan akhirnya eksistensinya tampak ketika lingkungan keluarga, atau masyarakat memberi peran khusus kepada mereka.
Perjalanan perempuan dalam hidup menjadi penting apakah ita memerankan diri dengan perbedaan yang dimiliki atau justru sebaliknya. Perempuan dalam Islam dimuliakan bukan karena dia kebetulan menjadi ibu atau orang yang melahirkan anak anak, tetapi karena dia adalah makhluk manusia yang sempurna.
Pandangan ini begitu penting, maka ada beberapa pandangan yang dapat dijadikan rujukan tentang hal di atas.
Pertama, betapa banyak perempuan dalam Islam tampil sebagai pelopor, penulis, penyair bahkan politikus. Tetapi ada juga catatan kita bahwa perempuan yang mengaku nabi setelah wafatnya rasul juga ada dalam sejarah. Mereka adalah perempuan yang memang memiliki kemampuan untuk mengembangkan bakat dalam berbagai situasi. Karya mereka diakui, bahkan menjadi rujukan para pengikutnya, pengaruh yang luar biasa menjadi perempuan tidak membatasi diri dalam berbagai tindakan.
Kedua, menjadi ibu adalah sesuatu yang bersifat insidental bagi eksistensinya sebagai seseorang individu. Pilihan untuk berkeluarga saat ini adalah lumrah, tidak ada yang harus dipaksan, boleh jadi latar belakang pilihan tersebut bukan semata karena ia ada perempuan tetapi karena memang kemampuannya memaknai hidup. Konon pula menjadi ibu, bahkan tidak semua pilihan menjadi seorang istri diiringi otomatis menjadi seorang ibu. Jadi menjadi ibu juga ada pilihan dalam hidup bukan hal yang dilarang apalagi disalah artikan ketika perempuan memilih jalan hidupnya.
Ketiga, status sebagai ibu bagi seorang perempuan, tidak diragukan lagi, merupakan sebuah kehormatan tetapi yang justru lebih penting adalah individualitasnya. Sampai saatnya ketika pilihan menjadi seorang ibu, maka harkat dan martabat sebagai istri adalah pasti, dan nilai dari perempuan yang dimiliki secara otomatis ada dibelakangnya.
Memilih untuk menjadi ibu berarti ia mendapatkan satu peran peradaban yang lebih besar untuk regenerasi umat manusia. Bukan sekadar melahirkan, tetapi mendidik dan membesarkan menjadi umat yang lebih baik dari sebelumnya, di sinilah letak kehormatan mereka akan diberikan.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.



















