Guru harus memperhatikan betul apa yang disenangi siswa dalam pembelajaran dan siswa akan mendapatkan keuntungan jika faktor-faktor yang berhubungan langsung dengan kualitas interaksi guru dapat saling terpenuhi di antara keduanya. Humor diperlukan dalam pembelajaran. Siswa menyenangi humor, karena dapat membantu mencairkan suasana dalam kelas yang terkadang harus mereka alami dalam waktu yang relatif lama.. (Darmansyah, 2010:102).
Belajar sebagai kegiatan rutin bagi peserta didik kadang menyenangkan tetapi bukan tidak banyak pula yang membosankan. Hal ini ditandai dengan perhatian mereka yang kadang konsentrasi kadang hilang seketika, bahkan kelelahan fisik dari luar kelas selalu memaksa diri menyerap pengetahuan ketika masuk kelas.
Begitu juga dengan pendidik dengan beban kurikulum kadang justru memaksakan target agar tercapai, akhirnya komunikasi pembelajaran hanya sebatas mengajar dan belajar.
Pendidik inspiratif tidaklah hanya menyelesaikan tugas administrasi ketika masuk kelas, dia sadar bahwa lebih dari 27 generasi emas sedang melakukan tugas untuk mendapatkan ilmu pengetahuan.
Memberikan kebaikan dengan menyenangkan mereka berinteraksi dengan gembira adalah hal utama. Selera humor baik pada pendidik maupun peserta didik juga memiliki ruang dalam setiap kali pertemuan, bagaimana caranya tentu ini penting untuk diketahui prinsip-prinsipnya.
Darmansyah setelah melakukan berbagai penelitian, kemudian menerapkan humor sebagai bagian dari kegiatan pembelajaran di kelas ternyata percaya bahwa antara pendidik dan peserta didik memiliki selera yang sama tetapi bermanfaat bila difungsikan dengan baik.
Menurut beliau ada lima hal penting dalam hal ini yakni sebagai berikut:
Pertama, humor sebagai pemikat perhatian siswa. Konsentrasi itu penting dalam belajar, tetapi serius yang berlebihan kadang menyulitkan untuk mendapatkan pengetahuan baru, maka humor dapat dilakukan untuk mengkaitkan agar kesan dapat dengan mudah diterima dan tahan lama.
Kedua, humor membantu mengurangi kebosanan dalam belajar. Belajar secara rutin itu adalah jadwal formal, namun kebiasaan yang pasrah terhadap keadaan adalah tidak baik. Maka humor memberi penyegaran agar rutinitas dapat diatasi dengan kegiatan yang tetap menyenangkan tetapi bermanfaat lewat humor.
Ketiga, humor membantu mencairkan ketegangan di dalam kelas. Bukan tidak banyak masalah terjadi di kelas, cara mengatasinya selalu dikembalikan pada peraturan ataua SOP. Bagi pendidik inspiratif justru humor adalah instrumen bagaimana mencarikan suasana kelasa menjadi gembira dan semua setuju dengan hal ini.
Keempat, humor membantu mengatasi kelelahan fisik dan mental dalam belajar. Benar bila rutinitas yang padat boleh jadi akan mengakibatkan kelelahan, dan pendidik harus mampu mengatasinya sebelum melakukan pembelajaran lebih lanjut. Humor adalah salah satu cara bagaimana menjadikan peserta didik duduk tenang, rileks tetapi ia menikmati apa yang disajikan.
Kelima, humor untuk memudahkan komunikasi dan interaksi. Pembelajaran adalah proses komunikasi, hambatan selalu terjadi didalamnya, dan cara mengatasinya dengan homur adalah pilihan bijaksana. Karena memang humor ini disenangi oleh semua orang bukan hanya pendidik, dan peserta didik, bahkan tenaga kependidikan sekalipun ingin turut menikmatinya.
Pembelajaran dan humor tidak dapat dipisahkan, bukan hanya mendapatkan tempat dan ruang untuk melakukannya di kelas, tetapi tujuan dan keberlangsungannya akan bertahan lama untuk dikenang.
Boleh saja humor dilakukan di awal, tengah atau akhir pembelajaran, asalkan terkait dengan tema atau tujuan pembelajaran terlebih menyesuaikan dengan usia psikologis peserta didik yang ada dihadapan kita.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.



















