Pendidikan kecakapan hidup dapat digali dan identifikasi tentang kebutuhan kecakapan hidup apa yang dibutuhkan dalam kehidupan nyata dari masyarakat saat ini. Kemudian diidentifikasikan ilmu pengetahuan, keterampilan dan sikap yang mendukung pembentukan kecakapan hidup tersebut. Selanjutnya diklasifikasikan dalam bentuk tema atau pokok/sub pokok bahasan yang dikemas dalam bentuk mata pelajaran (mata kuliah). (Djoko Hartono, 2012:40).
Bagaimana kita mempersepsi hidup, biasanya selalu beriringan dengan pandangan kita tentang masa depan yang sekaligus menjadi dasar apa yang harus kita lakukan untuk ke sana. Masa depan itu harus diraih lewat keahlian tertentu, atau hanya mencari selah kesempatan semata, boleh juga hanya sekedar meneruskan sebuah warisan.
Sungguh otak atik masa depan tidak ada habisnya, apalagi dikaitkan dengan kemampuan diri, teori peluang bahkan keberuntungan. Sekolah dan tidak sekolah hampir tipis bedanya, apalagi dilihat dari orang sukses yang ada disekitar kita.
Mau jadi akademisi maka belajar dan kuliahlah sampai perguruan tinggi, mau jadi praktisi maka cukuplah masuk diploma atau akademi karena banyak praktik terus langsung mendapatkan keterampilan.
Ingin menjadi manusia seutuhnya boleh jadi ada jalan lain salah satunya menghafal Al Qur`an dari sana mungkin akan memperoleh kebaikan dalam sikap dan kepribadian.
Sungguh hidup ini adalah pilihan, mendapatkan tujuan juga terbentang berbagai jalur atau langkah perjalanan, mau sekolah, mau berlatih atau ingin mengabdi semuanya tidak ada yang salah.
Melihat berbagai persoalan tentang masa depan dan keadaan hari ini, Djoko Hartono tidak mau kompromi tetapi harus ditegaskan bahwa perlu persiapan dengan perencanaan.
Salah satu persiapan yang penting adalah dengan keahlian terampil atau keterampilan yang mumpuni life skill, dan ini harus diberikan kepada peserta didik sejak dini.
Menurut beliau dalam kajian yang lebih luas bahwa model pengembangan life skills dalam pendidikan Islam hendaknya bertitik tolak dari lima pengklasifikasian life skills. Sehingga dari sini peserta didik dalam proses pendidikan benar-benar memiliki berbagai kecakapan yakni:
1.Kecakapan mengenal diri (self awarness)
Mengenal potensi, bahkan dan kemampuan adalah awal dari pendidikan yang berkelanjutan, terlebih mengidentifikasi keahlian apa yang akan dipilih. Sekolah kepribadian itu memang sederhana tetapi ternyata dari sana kita akan mendapatkan banyak hal khususnya tentang kepercayaan diri sampai pada kepribadian tangguh dan siap untuk memilih tentang jalan menuju kehidupan di masa depan.
2.Kecakapan berpikir rasional (thinking skills)
Hidup ini tidak hanya berjalan normal, tetapi kadang ada masalah maka kemampuan memecahkannya adalah hal penting, paling tidak bukan menghindar apalagi lari dari masalah. Berpikir rasional merupakan kemampuan dasar untuk menjadi bagian dari cara kita mengidentifikasi sampai menganalisis bahkan mengevaluasi satu keadaan.
3.Kecakapan sosial (social skills)
Hidup ini tidak sendiri tetapi ada orang lain apakah yang lebih tua atau mereka yang lebih muda. Boleh jadi di depan kita ada orang yang lebih pintar dan dibelakang kita banyak yang membutuhkan keahlian. Untuk itu diperlukan cara berkomunikasi terlebih bersosial secara bijak agar mendapatkan keberuntungan dari interaksi terhadap semua orang di sekeliling kita.
4.Kecakapan Akademik (academic skills)
Sesungguhnya berbeda cara pandangan anak sekolahan dengan orang biasa, perbedaanya terdapat pada cara melihat sesuatu apakah itu kejadian atau keadaan. Bila kejadian adalah satu hal yang luar biasa dan harus diselesaikan, mungkin mereka baru saja mengenal sekolah, tetapi orang cerdas yang telah mendapatkan pendidikan tinggi akan melakukan beberapa langkah untuk mengenali, memahami akhirnya mencari solusi.
5.Kecakapan vokasional (vocational skills).
Hidup ini tidak melulu hanya kebaikan apalagi utopis, ada tuntutan hari ini, ada pula kebutuhan kecil di sekitar kita yang harus segera diatasi. Berbagai teori boleh jadi adalah alternatif untuk menjadi pertimbangan, tetapi keahlian kecil yang praktis justru selalu jadi solusi.
Dari kelima hal di atas, kita dapat belajar bahwa untuk siap mengarungi kehidupan tidaklah mesti sendiri, bukan harus mengetahui semua hal, dan tak perlu berlama-lama dalam diam untuk berencana.
Kita menyetujui benar bila memang pendidikan kecakapan hidup dapat digali dan identifikasi tentang kebutuhan kecakapan hidup apa yang dibutuhkan dalam kehidupan nyata dari masyarakat saat ini.
Sekali lagi apa yang ada di depan mata adalah lebih utama, kemudian diidentifikasikan ilmu pengetahuan, keterampilan dan sikap yang mendukung pembentukan kecakapan hidup tersebut.
Dari sini life skill bukan barang mewah, bukan pula milik orang kaya di kota, tetapi siapa saja yang ingin hidupnya siap menghadapi hari esok dan sigap dengan berbagai solusi dari diri sendiri.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.

















