Dalam pelaksanaan dakwah, baik dakwah yang dikelola oleh sebuah lembaga maupun dakwah yang dilakukan oleh orang perorangan, persiapan atau mempersiapkan tenaga da’i mutlak perlu. Maksudnya, da’i sebagai orang yang menyampaikan pesan dakwah kepada mad’u (sasaran dakwah) haruslah bekerja secara profesional sesuai bidang tugasnya. Berdasarkan argumen inilah, maka penempatan da’i yang berkualitas atau profesional adalah hal yang mutlak dilakukan. (Efi Brata Madya, 2022)
Bila kita berdiri di atas panggung, sampaikan bahwa kita akan mulai menyampaikan satu hal, berilah apa yang akan kita sampaikan kepada khalayak, dan beritahu kita telah selesai menyimpulkan pesan. Setelah berdiri tidak adalagi waktu untuk melihat kebelakang mengapa saya harus berdiri, menyesal atau mencari jalan keluar dari penggung.
Tiga hal penting di atas tadi adalah persoalan persiapan, pelaksanaan dan akhir dari kegiatan. Itulah dakwah, itulah kegiatan komunikasi di sanalah ada ilmu dan keterampilan menyatu menyelimuti bakat menjadi sebuah profesi dan akhirnya kondang sebagai dai. Dakwah itu kegiatan profesional bukan amatir atau sekadar yang terkesan asalan.
Menurut Dr Efi Brata Madya MSi, hal itu disebabkan karena berdakwah tidak bisa dilakukan hanya sekadar sambil lalu. Sebelum dakwah dilaksanakan perlu dibuat persiapan yang matang, termasuk penempatan orang-orang yang tepat sesuai bidang keahliannya masing-masing.
Sebab tidak mungkin seseorang untuk menuliskan tulisan (pesan) Islami jika ia tidak berkompeten sebagai seorang penulis. Sama halnya tidak mungkin disuruh seseorang untuk berceramah sementara ia tidak berkompeten sebagai seorang muballigh.
Jelaslah bahwa kita harus benar-benar menyadari kegiatan dakwah membutuhkan personil-personil yang profesional untuk ditempatkan pada tempat yang sesuai, dibutuhkan kompetensi setiap personil untuk menjalankan tugas yang diembankan kepadanya.
Tidak terkecuali seorang da’i, ia harus memiliki kompetensi untuk menjalankan tugasnya dalam berdakwah. Berarti pula bahwa berdakwah seharusnya dikelola secara profesional oleh tangan-tangan profesional pula.
Profesionalisme terkadang tidak akan serta merta didapatkan oleh suatu lembaga ketika ia merekrutnya. Apalagi lembaga yang dimasuki seseorang yang direkrut tadi masih asing baginya, tentu ia butuh adaptasi dan pembinaan. Adaptasi dan pembinaan-sekalipun dapat berjalan secara alamiah seiring dengan waktu berjalan, tetapi tentu akan tidak sebaik apabila ia dibina atau dikader.
Pembinaan melalui serangkaian kegiatan, seperti pelatihan, praktik langsung, dan upaya-upaya lainnya akan jauh lebih cepat membawa seseorang ke arah profesional, ketimbang berlangsung secara alamiah, yang sudah pasti di sana-sini banyak kendala, baik internal maupun eksternal, yang mungkin dihadapi.
Kita baru sadar bahwa apa yang kita lakukan selama ini apakah sudah bagian dari profesional seorang da`i atau tidak. Paling tidak kita mengetahui selama ini diperlukan adanya ketepatan di dalam penempatan orang. Siapa yang harus jadi perencana dakwah, penyampai, pemetaan dan penganalisis kegiatan dakwah dan sebagainya.
Dengan demikian, memang manajer-manajer dakwah yang berada di lembaga-lembaga dakwah penting memahami bahwa petugas dakwah (da’i) harus selalu diberikan pembinaan.
Mereka adalah sumber daya manusia yang berada di garda terdepan dalam mengiklankan Islam di tengah-tengah masyarakat. Oleh karena itu, perlu bekal sehingga mereka profesional dalam melaksanakan tugas-tugasnya.
Jelas tidak ada alasan untuk menolak sertifikasi da`i yang dilakukan oleh otoritas pemerintah, kita yakin bila manajemen dakwah dilakukan secara profesional, maka akan lahir para da`i profesional pula.
Hati-hati mengundang da`i yang tidak memiliki rekam jejak formal atau abstrak, paling tidak koordinasilah dengan otoritas seperti Kantor Urusan Agama, Majelis Ulama Indonesia, Ikatan Da`i Indonesia dan lainnya.
Ummat telah lama menunggu standardisasi ini, dan semua kita bisa ambil bagian dari program da`i profesional, dengan belajar, berkolaborasi atau berempati terhadap program-program dakwah yang menghasilkan da`i profesional.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.



















