Komponen ikhlas yang terdiri dari sikap syukur, sabar, fokus, tenang dan bahagia, justru dianggap sikap yang lemah. Sikap itu dikhawatirkan akan membuat mereka kurang dihargai orang, tidak tercukupi secara materi, atau tidak tercapainya tujuan hidup karena tidak adanya ambisi. Padahal yang terjadi justru sebaliknya. Dalam kondisi ikhlas—yang sekarang telah dibuktikan secara ilmiah—manusia justru akan menjadi sangat kuat, cerdas dan bijaksana. Kita bisa berpikir lebih jernih, mampu menjalani hidup dengan lebih efektif dan produktif untuk mencapai tujuan. Bahkan hubungan kita dengan siapa pun akan terjalin semakin menyenangkan. (Erbe Sentanu, 2007:xxvii).
Bayangkan sekarang kita sedang menghirup udara segar, tetapi tetap diiringi dengan mengeluarkan atau menghembuskan udara dari dalam secara bergantian. Yang sulit dibayangkan kita hanya menghirup tetapi tidak mengeluarkan, apa jadinya, mungkin paru-paru menggelembung, atau bahkan kita mati. Itulah siklus menarik napas, dan mengeluarkan menjadi bagian dari proses yang berkelanjutan.
Siklus pernapasan disadari atau tidak adalah contoh mendapatkan sesuatu dengan mudah, semudah itu pula melepaskannya. Bila kita dengan senang hati menghirup udara segar, kemudian tanpa beban pula kita mengeluarkan.
Konsep ikhlas sesungguhnya sedang terjadi dalam siklus pernapasan yang dialami seseorang setiap saat disadari atau tidak, buktinya saat ia beraktivitas bahkan tidur sekalipun.
Berabad-abad manusia mencoba mempelajari hubungan antara pernapasan, kehidupan dan kekuatan hati salah satunya persoalan ikhlas.
Di sini Erbe Sentanu mencoba memberikan gambaran bahwa semua dapat dibuktikan dengan kajian ilmiah. Menurut beliau bahwa Quantum Ikhlas adalah sebuah metode sukses paripurna yang dengan sejuk memadukan kekuatan budaya timur dan barat.
Kekuatan ilmu pengetahuan terkini seperti neuroscience, quantum physics, evolutionary biology, chaos theory, brain science dan science of the mind, dengan tuntunan bijak falsafah hidup dan keagamaan.
Dari berbagai kalangan telah terbukti menjadikan ikhlas sebagai terapi untuk membangun diri sampai tingkat kepribadian, dari kepercayaan sampai keyakinan bahkan dari pelatihan sampai kebiasaan yang menjadi habit. Ini adalah jawaban dimana sebagian manusia masih bergumul dalam kekhawatiran tentang sikap terhadap dunia ini.
Ditegaskan bahwa sikap itu dikhawatirkan akan membuat mereka kurang dihargai orang, tidak tercukupi secara materi, atau tidak tercapainya tujuan hidup karena tidak adanya ambisi.
Oleh Erbe meyakinkan bahwa justru yang terjadi sebaliknya dalam kondisi ikhlas yang sekarang akan menjadi sangat kuat, cerdas dan bijaksana. Kita bisa berpikir lebih jernih, mampu menjalani hidup dengan lebih efektif dan produktif untuk mencapai tujuan.
Akhir dari cerita ikhlas yang dilakukan dengan jujur dan berani tetapi konsisten adalah hubungan kita dengan siapa pun akan terjalin semakin menyenangkan. Inilah benih kebahagiaan sebagai awal dari apa yang disebut proses pencapaian kesuksesan menjadi lebih sederhana sekaligus menenteramkan.
Ternyata untuk mendapatkan kesuksesan adalah dari kebahagiaan batin, dan tidak jauh dan sulit resepnya. Bernapas dengan tenang, nikmati apa yang dimiliki, maka ikhlas pun akan lahir dengan sendirinya.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.


















