Pekerjaan keras yang kamu keluhkan itu adalah impian orang yang menganggur.
Anak nakal yang menguji kesabaranmu adalah impian orang yang tidak bisa memiliki anak. Kamar kecil yang kamu anggap sempit adalah impian orang yang tinggal di jalan. Tabungan sederhana yang kamu anggap tidak cukup adalah impian orang yang tenggelam dalam hutang. Masalah kesehatan yang kamu abaikan, adalah impian orang yang berjuang untuk hidupnya. Ketenangan pikiran yang kamu miliki, tidur nyenyak, makanan favorit yang bisa kamu nikmati dengan mudah semua itu adalah impian bagi orang yang tidak bisa memiliki itu.
Kita harus menghargai semua yang kita miliki, karena pada akhirnya tidak ada yang tahu apa yang akan dibawa oleh hari esok. (Jackie Chan).
Hari ini kita telah melampaui hari kemarin, dan hari ini kita akan merencanakan hari esok. Apakah hari kemarin, hari ini dan hari esok ada hubungannya?
Jelas dapat saja dihubung-hubungkan apakah lewat kalender, atau kegiatan, bahkan sebab akibat. Semua yang terjadi pada kita hari ini adalah hasil pekerjaan kita kemarin, dan hari esok tidak akan dapat diraih bila kita tidak mempersiapkannya hari ini.
Pandangan sebagian orang yang sangat memperhitungkan hubungan antara dua hal seperti waktu dan pekerjaan itu memang penting, tetapi pandangan lain juga harus diperhatikan bahwa terdapat faktor lain yang menjadi penentu bahkan berkuasa atas segala sesuatu.
Di antara kedua pandangan tersebut kita boleh saja berusaha sedapat mungkin tetapi menyandarkan hasil kepada yang lebih mengetahui itu adalah bijaksana.
Apapun yang ada pada diri kita hari ini itulah keadaan yang patut dimengerti, dengan apa yang kita miliki bekerjalah sesuai dengan kemampuan, tidak perlu melihat bagaimana orang lain bekerja bila memang berbeda bidang keahlian. Sama-sama memiliki dua tangan tetapi sepuluh jari boleh jadi berbeda cara melakukannya.
Kehidupan keluarga apapun keadaan kita itulah kekayaan sesungguhnya, tidak mesti membandingkan dengan keluarga lain untuk membangunnya. Buku nikah boleh sama, tetapi peran masing-masing anak bisa saja berbeda, di sinilah uniknya manusia.
Mengapa kita mesti mencari tempat yang lebih nyaman dengan menghayal tentang istana, padahal perasaan itulah yang menjadikan diri lebih bahagia dengan memaknai rumah yang sedang kita tempati. Pintu dan jendela rumah itu sama, namun kehangatan menyambut tamu selalu mempunyai cerita yang berbeda.
Berapapun harta yang tercatat di pemerintah atas nama kita, itulah tanggungjawab yang harus dipikul sebagai beban warga negara. Tidak mesti sibuk menambah apalagi menerima sebanyak-banyaknya, justru yang diberkahi adalah mereka yang dapat memberi sebanyak-banyaknya.
Kembalilah pada diri kita sendiri, tempatkan kepala bukan hanya di atas badan dan kaki, tetapi pertimbangan mana yang harus didahulukan mana pula yang harus diprioritaskan lewat pikiran dan perasaan.
Boleh saja kita memikirkan ummat atau orang lain yang lebih membutuhkan, tetapi dalam diri kita ada hak yang harus dipenuhi dan ingat itu adalah kewajiban.
Tidak perlu membeli kasur empuk dengan harga paling mahal untuk dapat tidur nyenyak, justru dari kata membeli selalu diiringi banyak masalah, darimana uangnya, bagaimana perasaan tetangga, sampai insomnia memikirkan membayar kredit.
Jadilah diri sendiri, mensyukuri apa yang anda miliki hari ini, dengan itu kita akan mendapatkan arti kehidupan yang sesungguhnya.
Benar kata Jackie Chan esok hari itu masih misteri, jadi jangan terlalu memperhitungkan apalagi meramal dengan menghubung-hubungkan segala sesuatu tanpa dasar yang dapat dipertanggungjawabkan.
Kita harus menghargai semua yang kita miliki, karena pada akhirnya tidak ada yang tahu apa yang akan dibawa oleh hari esok.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.


















