Al Qur`an sebagai peringatan bagi orang-orang yang berakal, yang di dalamnya memuat berbagai bidang ilmu dan hikmah yang sangat menakjubkan, yang menjadikan al Qur`an sebagai kitab samawi yang paling mulia kedudukannya, paling luas serta dalam ilmunya, paling rapi susunan katanya, serta paling menyentuh tutur katanya. Ia bukanlah makhluk, tiada syubhat di dalamnya, tiada pula keraguan. (Jalaluddin al Suyuthi, 2021:5).
Dalam hidup ini kita boleh saja meragukan satu hal, karena dengan keraguan itu mendorong untuk mendalami lebih jauh tujuannya agar tidak ragu lagi alias yakin bahkan sampai haqqul yakin.
Boleh saja dalam kegiatan sehari-hari kita merasa semuanya biasa-biasa saja, tetapi kadangkala pada saat tertentu ada hal yang sedikit berbeda, apakah tentang kemampuan, kekuasaan, kendali hidup atau bahkan kesadaran yang semuanya tanpa kita sadari.
Dari sini bila ditelusuri lebih jauh maka ada satu keadaan pada diri kita memerlukan teman, meminta pertolongan atau bahkan mencari tempat untuk ketenangan, salah satu jawabannya adalah agama.
Agama memberi bimbingan kepada ummatnya dengan cara menurunkan bacaan atau kitab yang dapat dibaca, dimaknai dan kemudian dijadikan teman bila diperlukan, dijadikan penolong bila ada yang meminta, atau juga disediakan tempat (maqam) bila ada yang ingin mendapatkan ketenangan.
Salah satu cara kita mendapatkannya adalah dengan mengetahui secara benar apa itu kitab suci sehingga benar-benar hadir dalam kehidupan kita. Dalam hal ini seorang ulama Jalaluddin ingin mengungkap ilmu yang dapat memberikan pemahaman kita terkait Al Qur`an;
Pertama, tentang Mawathin an Nuzul yakni tempat-tempat turunnya ayat, waktu dan berbagai peristiwa yang mengikutinya. Ilmu ini dirasa penting karena mengetahui konteks saat kapan ayat diturunkan, bagaimana kondisi dan situasi masyarakat adalah menjadi dasar kita memahami pesan ayat demi ayat dalam cerita Al Qur`an.
Kedua, tentang as Sanad, betapa penting nya ilmu dan ilmuan, agama dan agamawan, serta alim dan ulama yang terangkai dari sejak masa Rasul sampai sekarang sebagai sebuah jejak yang tak terputus. Ini dapat dikaji lebih dalam bila sanad mereka memiliki garis yang kuat, karena ilmu itu akan mendapat legalitas bila disandarkan pada gurunya, dan keberkahan bila direstui.
Ketiga, tentang al Ada` Menurut istilah al-Ada‘ adalah sebuah proses menyampaikan, mengajarkan (meriwayatkan) hadits dari seorang guru kepada muridnya. Ilmu ini menjadi penting, karena untuk memahami Al Qur`an kita harus merujuk dan memahami siapa orang-orang yang terdahulu mengetahui, mengajarkan sampai menyampaikan bahkan membenarkan apa yang kita ketahui saat ini.
Keempat, tentang al Alfazh adalah bagian dari ilmu Lafadz artinya suara yang keluar dari lisan manusia yang mengandung huruf Hijaiyah. Arti mengandung huruf hijaiyah berarti dalam ucapan tersebut harus mengadung huruf-huruf hijaiyah dari alif sampai ya. Baik Lafadz itu Muhmal (tidak digunakan) maupun Musta’mal (digunakan). Kita harus ingat beda bangsa, beda pula bahasanya, bahkan setiap orang adalah unik termasuk suara dan lughahnya, maka diperlukan ilmu tentang al Alfazh ini dalam memahami Al Qur`an.
Kelima, tentang al Ma`ani al Muta`alliqah bil Ahkam (makna makna yang berhubungan dengan hukum-hukum).
Keenam, tentang al Ma`ani al Muta`alliqah bil Alfazh (makna makna yang berhubungan dengan kata-kata). Al Qur`an adalah kitab yang tersusun dengan sempurna, semua isinya mengandung tujuan yang jelas, setiap surah memiliki riwayat yang tercatat dengan pasti, bahkan setiap ayat memiliki pesan yang bermakna, sampai-sampai setiap huruf pun memiliki kekuatan ilmu pengetahuan. Ini adalah luar biasa, makna dari setiap kali kita membaca akan didapatkan bila dipahami hubungan antar kata, sehingga satu ayat sekalipun dibaca dapat menggetarkan jiwa yang memahaminya.
Tentu masih banyak lagi ilmu lain yang diperlukan untuk menggali keluasan Al Qur`an dimasa lalu, hari ini dan terlebih untuk masa mendatang. Semua kita memiliki kemampuan yang berbeda, setiap individu tidak sama keadaan dan situasi jiwanya, namun bila dihadirkan Al Qur`an sebagai kitab suci semuanya tunduk dan setuju.
Tunduk terhadap ayat yang diperintahkan, setuju dari semua pesan yang harus dijadikan pedoman, dari sinilah lahir kepercayaan, meningkat menjadi keyakinan menghapus keraguan.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.

















