Tujuan para guru yang melatih ialah membantu para siswa untuk; menemukan kekuatan diri dalam diri dan hasrat agar menumbuhkan kepantasan diet dan identitas diri, punya suara dalam pembelajaran mereka dan bernegosiasi secara kolektif dengan guru untuk menciptakan maksud dan tujuan. Terlibat dengan penuh gairah dalam pembicaraan untuk meningkatkan daya ingat dan motivasi yang utuh dalam belajar, dan menggunakan bakat terpendam mereka untuk membawa usaha mereka kepada tingkat pencapaian beasiswa tertinggi. (Longenecker & Pinkel, 1997:19-21).
Guru hadir di depan kelas, bukan hanya membawa persiapan seperangkat pembelajaran, tetapi ia mengerti dan memahami apa yang dibutuhkan oleh peserta didik.
Perangkat pembelajaran itu memang penting, tetapi menerapkannya itu lebih utama, mengerti peserta didik itu adalah penting tetapi mengembangkan bakat dan kemampuan yang diinginkan itulah yang luar biasa. Ternyata guru bukan hanya sesosok manusia yang berdiri kemudian mengajar akhirnya pulang, banyak hal yang harus dilakukan bahkan dipertanggungjawabkan.
Bagiamana seorang guru dapat menjadi bagian penting dari perjalanan kehidupan peserta didik, ini memang tampak sederhana, namun dari sana sesungguhnya makan guru baru dimulai.
Longenecker & Pinkel memahami bahkan kemampuan guru tentang peserta didik harus benar-benar dijalan, agar arah pendidikan tidak lari dari yang diharapkan. Ada lima hal penting terkait hal ini yakni sebagai berikut:
Pertama, menumbuhkan hasrat yang pantas. Guru memang mengerti apa yang dihadapannya, tetapi yang tidak tampak seperti hasrat yang bergelora dalam diri anak itu harus diidentifikasi sejak awal. Bermacam keinginan anak memang wajar, tetapi mengerti mana yang harus diutamakan, bahkan ini perlu pertimbangan disinilah guru harus berperan.
Kedua, negosiasi dengan para guru yang menerima. Kemampuan anak memang sangat beragam, kompleks dan bahkan fluktuasi. Guru sebaiknya menerima apapun yang terjadi pada anak, boleh jadi dari kekurangannya mungkin akan menjadi kelebihan di satu saat nanti.
Ketiga, keterlibatan dalam dialog peningkatan daya ingat. Tidak satupun anak dapat menyelesaikan tugasnya, namun kemampuan menerima orang lain, terlebih mau memberikan apa yang ia miliki itu adalah hal utama. Dialog adalah pintu bagaimana kita menjadi bagian dari sebuah komunitas karena dengan itu daya ingat akan semakin bertambah.
Keempat, menggunakan bakat untuk mencapai beasiswa tertinggi. Kadang kita sendiri tidak mengetahui apa yang menjadi kelebihan pada seseorang, atau justru orang lain yang mengerti dan memahaminya. Namun demikian selalu melakukan kegiatan, maka bakat akan muncul dan bila ini dicatat secara rapi, dari sana guru akan mudah mengarahkan, bahkan mendapat penghargaan seperti beasiswa.
Kelima, pelatihan yang menemukan kekuatan diri. Sesungguhnya guru dan anak sama-sama sedang belajar tentang peran dalam pendidikan. Hal yang bersifat kebiasaan maka harus dicatat agar tetap ada rekaman. Kemungkinan hal baik yang menjadi kekuatan maka beri ruang dan waktu agar nyaman dilakukan secara berkelanjutan. Dari sini kita baik sebagai guru maupun anak sesungguhnya telah menjalankan pelatihan tentang kekuatan diri.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.


















