Kuasa bahasa juga mampu membuat sebuah budaya kekerasan di masyarakat. Budaya kekerasan yang dilakukan oleh masyarakat melalui bahasa jauh lebih membekas dan berbahaya dibanding dengan kekerasan yang dilakukan secara fisik, karena kekerasan melalui bahasa akan masuk kedalam sendi-sendi pemikiran dan mempengaruhi cara berfikir yang kemudian menimbulkan gejolak-gejolak aksi yang lebih dahsyat lagi. (Maslathif Dwipurnomo, 2017:7).
Mulutmu harimaumu, pepatah ini sudah lama kita dengar mungkin saja sebelum kita lahir telah lama diketahui, dipahami dan dijadikan etika berkomunikasi di lingkungan kita.
Mulutmu harimaumu adalah sebuah ungkapan hati-hatilah dengan mulut, karena ia akan menjadi petaka, bahkan ancaman setiap saat.
Untuk itu hati-hatilah dalam berbicara karena setiap kata yang kita ucapkan akan menuntut pertanggungan jawab kepada tuhan, kepada orang lain dan yang paling utama untuk diri sendiri.
Dari kata yang sederhana, namun ketika diucapkan pada tempat dan saat yang tidak pada tempatnya, tidak pada waktunya akan menjadi marabahaya.
Memang setiap kata yang ada di dunia ini, hak semua orang untuk menggunakannya, di saat yang sama kewajiban seseorang untuk memeliharanya, dan di tempat tertentu orang lain akan mengontrol penggunaannya.
Satu kata yang kita anggap baik pada daerah tertentu belum tentu sama artinya dengan daerah lain, begitu juga kata tersebut belum tentu sama diterima bila moment nya berbeda.
Kata yang tampil dalam ucapan akan terlahir dari apa yang ada dalam pikiran seseorang. Karena ucapan atau bicara adalah berfikir bersuara, sementara berfikir adalah berbicara yang tak bersuara.
Jadi jelas ucapan tentang satu kata dari seseorang adalah perwakilan atau gambaran bagaimana orang berpikir, bertindak dan bersikap terhadap sesuatu. Boleh jadi apa yang dibaca selama ini apa yang dialami selama ini dan apa yang diketahui selama ini menjadi cerminan bagimana cara dia bicara dan menyampaikan sesuatu.
Maslathif Dwipurnomo dosen Bahasa Inggris memberi pencerahan kepada kita bahwa kata, kemudian kalimat dan akhirnya menjadi budaya akan memberikan efek terhadap apa yang terjadi di tengah-tengah masyarakat.
Untuk itu beliau menegaskan, budaya kekerasan yang dilakukan oleh masyarakat melalui bahasa jauh lebih membekas dan berbahaya dibanding dengan kekerasan yang dilakukan secara fisik.
Sungguh ini suatu hal yang tidak banyak kita menyadarinya, mungkin saja itu terjadi pada diri kita sendiri, di lingkungan keluarga, dan kemudian di tengah-tengah masyarakat.
Mengapa demikian, karena kekerasan melalui bahasa akan masuk kedalam sendi-sendi pemikiran dan mempengaruhi cara berpikir yang kemudian menimbulkan gejolak-gejolak aksi yang lebih dahsyat lagi.
Ini adalah kenyataan karena masalah sosial biasanya terjadi akibat dari masalah kecil, bahkan masalah pribadi yang tidak dapat disampaikan kepada orang lain secara baik dan benar.
Bagaimana kita mengelola kata menjadi bahasa yang baik, maka dimulai dari diri sendiri, pertama; bila kita ingin menjadi pembicara yang baik, maka mulailah menjadi pendengar yang baik.
Kedua, mendengarlah dua kali, lalu pertimbangkan dengan baik baru bicara sekali untuk menyampaikan pesan secara efektif.
Ketiga, pelajarilah budaya orang lain, dengan itu kita akan mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan yang tidak merusak hubungan. Dengan cara ini kita akan terhindar dari bahayanya bahasa yang juga mampu membuat sebuah budaya kekerasan di masyarakat.
Mulutmu harimaumu dapat kita bungkam sebelum menjadi harimau, dengan bicara penuh dengan pertimbangan akhirnya menjadi kata sarat dengan kebijaksanaan.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.


















