“Sekurang-kurangnya para wartawan adalah jari-jemari Al-Khabir, yang maha mengabarkan. Para wartawan menyayangi dinamika komunikasi masyarakat, Ar-Rahman. Mereka memperdalam cinta kemasyarakatannya itu, Ar-Rahim. Mereka memelihara kejujuran, kesucian, dan objektivitas setiap huruf yang diketiknya, Al-Quddus. Mereka berkeliling ronda menyelamatkan transparansi silaturahmi, As-Salam. Mereka mengamankan informasi, Al-Mu`min. Mereka mengemban tugas untuk turut menjaga berlangsungnya keseimbangan nilai kebenaran, kebaikan dan keindahan, dalam kehidupan masyarakat: Al-Muhaimin. Mereka menggambar indahnya kehidupan dengan penanya, Al-Mushawwir. Serta berpuluh-puluh lagi peran Tuhan yang didelegasikan kepada kaum jurnalis atau para wartawan” (Muhammad Ainun Nadjib).
Ketika kehidupan masyarakat berjalan dengan baik, di sana berlangsung interaksi yang saling menguntungkan dan membahagiakan. Dalam masyarakat tersebut terjadi keseimbangan dalam membangun kebenaran, mereka juga berbuat kebaikan antar sesama, kemudian menikmati keindahan yang sangat personifikasi tanpa gangguan.
Salah satu pemeran utama dalam kegiatan masyarakat tersebut adalah pegawai pena atau wartawan. Sungguh wartawan yang mempunyai ideologi dan visi besar tentang kehidupan masyarakat adalah cita idealnya sebuah profesi.
Itulah yang dibayangkan, atau diidamkan atau bahkan telah dijalani oleh seorang Muhammad Ainun Nadjib (Cak Nun) dalam sejarah kehidupannya.
Menurut beliau wartawan sama dengan profesi lain, tetapi jemari tangannya menulis untuk mengabarkan tentang kebaikan. Walaupun kita menyadari adanya kesalahan yang harus diluruskan, tetapi wartawan menyayangi dinamika komunikasi masyarakat. Ia bertanggungjawab memberi solusi setiap berita yang apa saja yang ditulisnya.
Wartawan pada umumnya menulis di balik meja baru konfirmasi ke lapangan atau orang tentang satu berita, tetapi Cak Nun sedikit berbeda. Menurut beliau memelihara kejujuran akan data, kesucian fakta, dan obyektivitas setiap pesan menjadi dasar dalam setiap berita.
Ini akan terjadi bila wartawan kerja adalah dengan niat silaturahmi berkeliling ronda menyelamatkan transparansi setiap apapun kejadian di lapangan.
Dalam catatan wikipedia bahwa; lima tahun (1970-1975) Cak Nun menggeluti dunia kewartawanan. Berbeda dengan wartawan modern dalam mendefinisikan peran dan tugasnya sebagai penyiar berita, Cak Nun memiliki prinsip kewartawanan yang niscaya berhubungan dengan transendental.
Sepertinya jauh hubungan antara wartawan dan spritual ya, tetapi kenyataannya dapat dibuktikan dan menyatu dalam riwayat sejarah Cak Nun ini.
Sampai akhirnya menulis dengan pena, memberitakan setiap fakta memang menjadi profesi, lebih lanjut kepuasan Cak Nun berbeda dengan wartawan lainnya, ia justru menyampaikan lewat media lain yakni puisi. Puisi adalah satu cara penyampaian semua hal yang ada didunia ini lewat prasa atau narasi yang berbeda dengan profesi lainnya.
Bahkan Cak Nun sendiri membuat hal berbeda dimana pembacaan puisi yang diiringi musik gamelan Jawa pada masa itu merupakan bentuk musikalisasi puisi yang tidak lazim. Karena itu, Cak Nun menyebut pementasan seperti itu sebagai “musik puisi”, bukan musikalisasi puisi.
Inti dari wartawan dan puisi adalah berkabar tentang sesuatu dengan cara yang baik untuk kebaikan bersama. Apakah itu menjadi profesi atau menjadi alat dakwah dan komunikasi semua yang pasti adalah pekerjaan yang sungguh luar biasa bila ditekuni apalagi kita nikmati.
Benarlah bila setiap langkah keluar rumah adalah berniat ibadah, maka apapun yang dilakukan akan berkah, dan kita tidak takut keluar rumah untuk cari inspirasi lagi semua yang ada di dunia ini adalah menjadi alat untuk meningkatkan ibadah dan ketakwaan kita kepada sang Ilahi.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.


















