Keberadaan psikologi pendidikan Islam dengan berbagai aspeknya masih dalam perdebatan. Tidak hanya dari segi namanya, keberadaannya, metode dan pendekatannya, ruang lingkupnya, dan lainnya masih berada dalam perdebatan. Al Qur`an dan hadis yang digunakan sebagai sumber pengembangan psikologi pendidikan Islam tidak diakui sebagai sebuah pendekatan yang bersifat saintifik. Sementara itu, bagi yang mengakui psikologi pendidikan Islam berpendapat, bahwa sumber ilmu bukan hanya yang fenomena alam atau fenomena sosial, melainkan juga wahyu dan intuisi yang berasal dari Tuhan. (Abuddin Nata, 2018:9).
Al Qur`an itu normatif tetapi juga realistis, buktinya ajaran Al Qur`an memberikan berbagai pedoman, panduan bahkan tuntunan teknis tentang bagaimana hidup sendiri, hidup berkeluarga, bahkan sampai hidup bermasyarakat.
Bukti realistis adalah sejarah dibentangkan, konteks dijadikan asbabunnuzul, bahkan kehadiran setiap ayat sebagian langsung menjadi hiburan bagi Nabi. Apakah normatif atau realistis keduanya boleh dijadikan perbedaan pendekatan tetapi tidak mesti mengalfakan satu di antaranya ketika menghadapi satu keadaan apalagi persoalan.
Pada kasus psikologi pendidikan Islam masih banyak di antara ilmuwan empirisme yang meragukan nilai normatif menjadi dasar dalam pengembangan ilmu pengetahuan.
Statement mereka sangat jelas bahwa; Al Qur`an dan hadis yang digunakan sebagai sumber pengembangan psikologi pendidikan Islam tidak diakui sebagai sebuah pendekatan yang bersifat saintifik. Mereka meragukan Al Qur`an menjadi dasar ontologi untuk dijadikan obyek baik formal maupun material.
Sebenarnya hal ini memberikan gambaran bahwa tidak semua yang bersifat empiris dapat dinarasikan dalam bentuk realistis, contohnya aliran listrik, gelombang suara dan lain sebagainya.
Maka tidak ada alasan untuk menjadikan kebahagiaan, kesusahan apalagi merasa bersalah tidak dapat dalam ontologi pendidikan Islam.
Dari cara memahami ontologi ini, psikologi yang didasarkan pada obyek formal yakni perilaku seseorang, kemudian memiliki obyek material yang jelas dan nyata yakni manusia yang sedang belajar.
Apa materi yang dipelajari adalah tentang agama Islam yang bersumber dari Al Qur`an dan Sunnah, dari sejarah, dari pengalaman, bahkan fakta sampai harapan.
Selanjutnya epistimologi psikologi pendidikan Islam terus melakukan kajian dan konsisten menjadikan Al Qur`an bahkan Sunnah Nabi Muhammad adalah obyek kajian yang memenuhi syarat keilmuan. Walaupun dipihak lain disadari bahwa dari segi namanya, keberadaannya, metode dan pendekatannya, ruang lingkupnya, dan lainnya masih berada dalam perdebatan.
Memang ini pekerjaan yang membutuhkan konsistensi dan kontiniuitas agar psikologi pendidikan Islam tidak surut apalagi mundur kebelakang. Apabila epistimologi ini berjalan sesuai dengan kaidah keilmuan, maka tidak ada alasan sebenarnya untuk menolak psikolog pendidikan Islam.
Bayangkan salah satu azas dalam epistimologi adalah kejujuran, kebenaran dan universal, semuanya dapat dipenuhi.
Sampai akhirnya ke tujuan, di mana aksiologi psikologi pendidikan Islam secara gamblang dan nyata adalah untuk memberikan tuntunan bagaiman orang mempelajari Islam dengan utuh, dengan benar, dan untuk mendapatkan keberkahan.
Ilmu dimulai dan diproses serta diakhiri tiada lain adalah untuk mencari keridhaan Allah SWT sebagai pemilik. Ini yang menjadi dasar makanya bagi yang mengakui psikologi pendidikan Islam berpendapat, bahwa sumber ilmu bukan hanya yang fenomena alam atau fenomena sosial, melainkan juga wahyu dan intuisi yang berasal dari Tuhan.
Apa yang harus dilakukan oleh para akademisi, pertama; penelitian baik literatur maupun studi lapangan tentang psikologi pendidikan Islam harus mendapat perhatian serius ditampilkan ke jurnal yang mampu dibaca oleh banyak orang.
Kedua, pelaksanaan forum ilmiah yang bersifat formal seperti konferensi, kongres atau workshop harus dilakukan secara berkala tujuannya untuk menjaga konsistensi perhatian terhadap psikologi Pendidikan Islam.
Dan ketiga mentransformasikan psikologi pendidikan Islam untuk masyarakat hari ini, dimana generasi masa lalu, hari ini, dan masa depan harus menjadi obyek kajian yang serius dalam pengembangan psikologi pendidikan Islam.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.


















