Dalam rangka pembangunan ekonomi yang berkelanjutan, kita tidak dapat lagi mengandalkan pada tersedianya tenaga kerja yang banyak dan murah, seperti yang selama ini telah dianggap sebagai suatu keuntungan kompetitif. Tenaga kerja yang diperlukan dalam era perubahan ini ada mereka yang terdidik dan terlatih dengan baik, serta menguasai informasi (well educated, well trained, and informed). Perubahan oganisasi untuk menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan merupakan azas dari organisasi belajar (Andi Kristanto,2016).
Manusia ingin hidup seribu tahun lagi, alam semesta akan memberi sumber kehidupan bagi siapa yang menginginkan, teknologi memberi kemudahan bagi mereka yang mampu mengembangkan. Manusia, alam dan teknologi akan menjadi satu dalam sistem pendidikan, untuk itulah maka pendidikan dijadikan satu instrumen manusia untuk menguasai alam, dengan memanfaatkan teknologi.
Dengan teknologi hidup ini akan semakin mudah, dengan menguasai sumber daya alam hidup ini serba ada, dan lewat pendidikan kita dapat merancang apa saja yang akan kita lakukan untuknya.
Sungguh itulah pernyataan dan sekaligus persoalan yang dihadapi oleh umat manusia, di satu sisi pendidikan dibuat untuk mempersiapkan sumber daya manusia di masa depan, tetapi disisi lain, semakin pintar tetapi justru merusak sebagian alam.
Alam tidak lagi menjanjikan kekayaan tetapi justru kehancuran, teknologi bukan lagi alat mempermudah, tetapi untuk berseteru adu kekuatan dan jadilah kekhawatiran. Sesungguhnya inilah awal kita mulai sadar bahwa pendidikan harus selalu diingatkan tentang ontologi dan aksiologinya adalah untuk kemaslahatan ummat yang lebih besar lagi.
Prof Andi Kristanto menyadari hal ini, bahwa untuk menata masa depan manusia agar tetap menjadi bagian dari pembangunan yang berkelanjutan maka lewat teknologi pendidikan adalah sebuah keniscayaan.
Menurut beliau ada empat hal penting yang harus kita perhatikan yakni;
Pertama, Teknologi pendidikan memungkinkan adanya perubahan kurikulum. Dari sinilah kita memulai mengerti, menata dan merancang apa yang harus kita siapkan terkait sumber daya manusia. Kurikulum akan menjadi adaptif bila teknologi memberikan konstribusi yang seimbang bahkan menjadi pertimbangan.
Kedua, teknologi pendidikan menghilangkan, kalaupun tidak secara keseluruhan, pola pengajaran tradisional. Generasi terus berubah, lingkungan semakin kompleks dan tuntutan pekerjaan sangat jauh bergeser dari pakem sebelumnya. Maka pengajaran berubah menjadi belajar mengajar, bahkan menjadi pembelajaran, kini pun telah dirumuskan menjadi membelajarkan.
Ketiga, teknologi pendidikan membuat pengertian kegiatan belajar menjadi lebih luas. Belajar hari ini bukan dibatasi oleh dinding kelas, interaksi guru dan murid, jauh dari itu adalah proses mendapatkan pengetahuan baru, dalam mengasah bakat menjadi keterampilan yang kompetitif serta menjadi sikap yang unggul.
Keempat, aplikasi teknologi pendidikan dapat membuat peranan guru berkurang. Kita harus ingat kata bijak “teknologi tidak akan dapat menggantikan peran guru, tetapi guru yang tidak memanfaatkan teknologi maka perannya akan segera digantikan”. Pengajaran tradisional bukan disisihkan tetapi teknologi akan memberi arah bagaimana pengajaran menjadi pemberdayaan belajar yang lebih fleksibel untuk masa depan.
Prof Andi Kristanto tidaklah berlebihan bila mengkhawatirkan praktik pendidikan yang masih mengandalkan melimpahnya sumber daya manusia tanpa perubahan. Dan beliau dengan tegas membenarkan bahwa; tenaga kerja yang diperlukan dalam era perubahan ini ada mereka yang terdidik dan terlatih dengan baik, serta menguasai informasi (well educated, well trained, and informed).
Oke…kita setuju ingin hidup seribu tahun lagi karena bekal sudah disiapkan, bukan tidak mungkin ini menjadi bagian dari mimpi para teknolog pendidikan hari ini untuk masa depan yang lebih baik lagi.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.



















TEKNOLOGI PENDIDIKAN; mempermudah orang belajar, dan membelajarkan orang agar hidup lebih mudah.