“Kerudung Putih”
Di balik kerudung wajahmu tersembunyi
Kau cantik alami anugerah Ilahi
Tapi bukan karena itu aku cinta padamu
Juga bukan karena itu aku sayang padamu
Kau hiasi diri dengan budi pekerti
Kau hambakan diri ke hadirat Ilahi. Itulah yang menyebabkan aku cinta padamu
Itulah yang menyebabkan aku sayang padamu
Di balik kerudung wajahmu tersembunyi
Kau cantik alami anugerah Ilahi.
(Rhoma Irama, 1980).
Manusia diciptakan oleh Tuhan lahir dari rahim ibu tanpa busana sehelai pun. Namun ajaran kita memberikan petunjuk bahwa menutup aurat adalah kewajiban. Dari sini maka anak manusia diberi pakaian, dengan berbagai fungsi dalam kehidupannya.
Ternyata pakaian dimaksud bukan sekadar penutup aurat, di samping melindungi diri, bernilai ibadah, dan akhirnya secara artistik menjadi mode dalam diri seseorang.
Pakaian manusia secara fisik tampak dalam tiga hal yakni; pakaian adalah untuk menutup badan dari kepala, badan sampai kaki, songkok atau topi adalah untuk melindungi kepala dari atas, dan sendal atau sepatu adalah untuk memberi kenyamanan di muka bumi.
Lingkungan, dan alam kita pastikan memberi pengaruh bagaimana manusia harus melindungi dari lewat pakaian apakah tebal, tipis, atau bahkan jumlah kancing.
Begitu juga apakah menggunakan songkok, kopiah, atau helm memiliki tujuan apakah karena alasan keamanan lebih dari itu mungkin juga karena ajaran agama. Dan akhirnya mengapa kita mesti menggunakan sendal atau sepatu bukan karena harga, tetapi lebih dari persoalan keamanan dan kenyamanan.
Hak kepala mendapatkan perlindungan dari segala macam ancaman, tetapi kita harus menyadari kerudung atau penutup kepala diajarkan untuk disematkan pada seorang wanita lebih dari sekadar anjuran.
Rhoma Irama sang legenda dan raja dangdut Indonesia menulis lirik lagu tentang kerudung ini. Menurut beliau bahwa di balik kerudung wajahmu tersembunyi, memang inilah yang kita lihat sehari hari. Lebih dari itu kita diajak untuk jujur pada hati kita, bahwa kau cantik alami anugerah Ilahi, di sinilah nilai ibadah akan diuji.
Selanjutnya dalam syair tersebut dituliskan bahwa; Tapi bukan karena itu aku cinta padamu, Juga bukan karena itu aku sayang padamu. Stop….. setebal apapun kerudung, semahal apapun bahan semuanya tidak berarti apa-apa, karena memang itu adalah bagian dari perhiasan dunia.
Menurut Rhoma Irama yang penting adalah; kau hiasi diri dengan budi pekerti. Kau hambakan diri ke hadirat Ilahi Itulah yang menyebabkan aku cinta padamu
Itulah yang menyebabkan aku sayang padamu.
Hari ini kerudung bukan saja berfungsi sebagai penutup kepala, atau isyarat patuh pada ajaran agama bagi wanita yang mengenakan, lebih dari itu nilai dan kehormatan selalu mengiringi dalam penampilan.
Bayangkan situs fashion online, berjamuran menawarkan model jilbab dalam berbagai aliran, siap menyesuaikan sesuai dengan selera bahkan patron individualis.
Tetapi di sisi lain kita juga boleh mengingat jilbab bahkan ada yang menjadi alat politik, atau bahkan indikasi rasis pada file situs yang lain.
Boleh jadi di sekitar kita saat ini banyak hal yang perlu mendapat perhatian tentang kerudung atau jilbab.
Wanita, jilbab dan keindahan ciptaan Tuhan menjadi satu dalam kehidupan maya. Di sekitar inilah kita diajak mengakui bahwa; tiada lelaki yang membantah kecantikan wajahmu, kelembutan sikapmu keindahan senyummu. Tapi yang menyilaukan mata sinar keimananmu yang selalu kau pancarkan dalam setiap langkah. Gadis seperti kamu yang aku dambakan.
Hari jilbab yang kita peringati setiap tahunnya, semoga bukan hanya mengingatkan kita perlunya menutup aurat, atau berganti mode karena tahun telah berbeda.
Bila hati telah berkomitmen untuk menjadi hamba Allah yang benar, maka berkerudung itu dilakukan dengan keikhlasan, apapun lingkungan dan tantangan yang terjadi.
Rhoma Irama memberi makna yang sangat mendalam tentang hal ini yakni; Di balik kerudung wajahmu tersembunyi,
kau cantik alami anugerah Ilahi.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.


















