Menghafal adalah suatu aktivitas menanamkan suatu materi verbal di dalam ingatan, sehingga dapat memproduksikan (ingatan) kembali secara harfiah sesuai dengan materi yang asli. (Rohmalina Wahab, 2015:22).
Salah satu kompetensi dalam pendidikan adalah menghafal, karena apa yang dipelajari harus diketahui dan dapat dilafalkan sesuai dengan apa yang diterima atau dipelajari.
Menghafal sebagai kata kerja untuk mendapatkan sesuatu maka hasilnya adalah hafalan, dalam hal ini hafalan menjadi tujuan bagi mereka yang melakukan sesuatu agar ia mendapatkan satu kompetensi tertentu. Bahkan hafalan sejak dulu menjadi bagian penting bagaimana seseorang belajar, menghafal akhirnya ia membentuk kepribadian.
Menurut Rohmalina Wahab, menghafal tidak seperti yang dibayangkan oleh orang awam bahwa membaca kemudian diulang-ulang dan didengarkan ia dapat menyampaikan persis tanpa membaca ulang.
Menghafal memiliki makna lebih dalam dari yang sebenarnya, untuk itu menurut beliau pemaknaan tentang manghafal selalu ada kaitannya dengan strategi pembelajaran, penciptaan suasana atau lingkungan bahkan membentuk kepribadian.
Dalam menghafal ada beberapa syarat yang harus diperhatikan, yaitu mengenai tujuan, pengertian, perhatian dan ingatan. Efektif tidaknya dalam menghafal diperanguhi oleh syarat-syarat tersebut.
Ini jelas sangat berbeda orang yang hanya sekadar menghafal untuk mempelajari sesuatu dengan mereka yang menghafal untuk mendapatkan makna atau hikma dari apa yang dipelajarinya. Jadi sebelum menghafal memang harus dipelajari terlebih dahulu apa yang dihafal, bahkan apa kaitannya dengan kehidupan seseorang yang menghafal.
Sedikitnya ada empat hal penting terkait dengan menghafal dalam pembelajaran, yakni sebagai berikut:
Pertama, Menghafal tanpa tujuan menjadi tidak terarah. Seseorang yang melakukan kegiatan menghafal tetapi tidak tahu tujuannya maka ia akan kehilangan arah. Apapun dihafal tetapi tidak ada maknanya dalam kehidupan, boleh jadi bila tujuannya tidak baik, maka selalu tidak mendapat ridha dari yang memiliki ilmu pengetahuan.
Kedua, Menghafal tanpa pengertian menjadi kabur. Sesuatu yang akan dihafal sebaiknya diketahui pengertiannya lebih dalam. Setelah itu maka seseorang akan mengetahui bahwa hal tersebut pantas untuk dihafal dan akan menjadi bagian dari kehidupannya. Inilah yang menjadi kejelasan atau tidak kabur karena mengafal memiliki makna yang lebih dari sekedar membaca ulang.
Ketiga, Menghafal tanpa perhatian menjadi kacau. Menyediakan waktu secara khusus untuk menghafal berarti secara serius melakukan proses menghafal dengan baik. Jadi jelas memilih waktu, metode serta tempat untuk menghafal adalah penting, bukan hanya sambilan atau justru pelampiasan dalam strategi pembelajaran.
Keempat, Menghafal tanpa ingatan menjadi sia-sia. Hasil dari hafalan adalah adalah sesuatu yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari yang memiliki hafalan. Jadi ingatan itu akan lahir dan bermakna ketika pengetahuan yang dimiliki dapat dijadikan kekayaan dalam hidup. Akan sia-sialah bila orang yang menhafal tetapi tidak dapat menerima atau menggunakan hafalannya untuk kehidupan.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.



















