Ketika wahyu pertama adalah pendidikan. Wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad bukan perintah shalat, bukan hukum, bahkan bukan iman. Ia adalah satu kata yang sederhana, tapi mengguncang sejarah manusia: Iqra’—bacalah.
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ
Ini pesan yang sangat filosofis. Islam tidak memulai peradabannya dari kepatuhan buta, tetapi dari kesadaran berpikir. Membaca di sini bukan sekadar membaca teks, tetapi membaca diri, membaca realitas, membaca zaman—semuanya bismirabbik, dalam bingkai nilai dan tanggung jawab.(Rohmani.id:2025).
Manusia memiliki asal usul dari mana ia lahir, sedang di mana ia hidup dan kemana ia menuju. Kesadaran ini dapat diawali dari pengetahuan kita bahwa kita diciptakan dari sesuatu yang lemah dan melekat. Dari sinilah kemudian bukan untuk merendahkan manusia, tapi untuk mendidik kita agar rendah hati. Posisi awal ini harus menjadi fondasi bagaimana kita menerima diri kita dalam arti yang sesungguhnya, karena dengan itu kita dapat memaknai apa yang kita lakukan sehari-hari.
Kesadaran berikutnya adalah memahami bahwa manusia adalah makhluk bertumbuh, bukan produk jadi. Dengan demikian kegiatan, pengalaman sangat penting untuk meneruskan dan melanjutkan apa yang ada dalam kehidupan kita, maka pendidikan sejati bukan mencetak keseragaman, melainkan menemani pertumbuhan fitrah.
Pemahaman pesan dari surah Al Alaq yang dilakukan oleh Rohman sangat sarat dengan pendidikan. Beberapa hal penting menurut beliau adalah sebagai berikut:
1.Belajar hanya mungkin dalam relasi yang memuliakan.
2.Tak ada pengetahuan yang tumbuh dari ketakutan, intimidasi, atau penghinaan.
3.Ilmu lahir dari rasa aman dan penghargaan terhadap martabat manusia.
4.Lahirlah kata simbolik yakni pena yang membawa Islam sejak awal berdamai dengan metode, tradisi ilmu, dan teknologi.
5.Ilmu harus dicatat, diwariskan, dan diuji—itulah peradaban.
6.Allah mengajarkan manusia apa yang sebelumnya tidak ia ketahui, artinya, manusia selalu mungkin belajar.
7.Ketidaktahuan bukan dosa, melainkan titik awal pendidikan.
Akhirnya kita diajak merenung bahwa ternyata kehadiran manusia dalam hidup di dunia ini tiada lain adalah untuk mengabdi kepada Allah SWT.
Rohman sekali lagi mengatakan bahwa:
pertama; pendidikan adalah ibadah siapapun yang terlibat didalamnya maka setiap derap langkah bahkan denyut jantungnya bernilai ibadah.
Kedua, bahwa ketika mendapatkan ilmu maka itu adalah amanah, ilmu pengetahuan yang ada pada diri manusia harus disyukuri, dikendalikan bahwa itu semua adalah untuk pengabdian bukan sekedar menjelajah.
Ketiga, manusia adalah subjek yang dimuliakan—bukan objek yang ditundukkan. Ketika menyadari bahwa pada diri kita terdapat potensi manusia yang dapat dimuliakan, dari sana kita sadar semua harus diawali dari usaha, niat yang bersih dan akhirnya menuju keberkahan.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.


















