There’s a reason that God gave us two ears, two eyes, and one mouth. It’s so you can listen and watch twice as much as you talk. Best of all, listening costs you nothing”. (Sir Alex Ferguson, 2025).
Alam yang terbentang tampak nyata baik di hadapan kita maupun ketika semua orang menyaksikannya. Tetapi di balik bentangan alam terselip beragam persepsi manusia, di sinilah perbedaan individu antara satu dengan lainnya tentang apa itu alam semesta.
Jadi apapun yang ada di hadapan kita semua tergantung bagaimana kita mempersepsi, mengeksplorasi sekaligus merefleksi apa makna dibalik itu semua.
Sir Alex Ferguson adalah pelatih sepak bola legendaris dari Skotlandia berkiprah lewat Liga Inggris untuk tontonan dunia telah memberikan pernyataan penting tentang diri kita dalam mempersepsi dunia ini.
Berbagai ucapan beliau seakan lenyap dibanding tindakan, bahkan itu semua sirna ketika dilaga dengan karya nyata tropi yang diraih. Dari mana ini semua kami melihat ada empat hal penting dalam prinsip yang beliau lakukan dan dapat dibagikan untuk kita semua;
Pertama; ada alasan mengapa Tuhan memberi kita dua telinga, dua mata, dan satu mulut. Sungguh siapapun memiliki, tetapi sebagian orang yang mampu mensyukuri dari pemberian Tuhan tersebut. Ditegaskan lagi, ini agar anda dapat mendengarkan dan menonton dua kali lebih banyak dari yang anda bicarakan. Sungguh di sinilah letak pemaknaan yang harus diresapi dengan baik dalam kehidupan sehari-hari bagi siapa saja yang ingin belajar tentang hidup. Pesan beliau selanjutnya adalah, yang terbaik dari semuanya, mendengarkan tidak membebani Anda. Bukan hanya alasan waktu dan hobi, tetapi kegiatan olahraga dengan menonton adalah hal luar biasa khususnya kesehatan jiwa atau psikologis.
Kedua; tidak ada ruang untuk kritik saat latihan. Untuk pemain, dan untuk manusia mana pun, tidak ada yang lebih baik daripada mendengar kata ‘sangat bagus’. Alam semesta itu banyak tampilan, salah satunya kegiatan olahraga yang dapat dinikmati dijadikan bagian dari kegiatan pengelola waktu untuk kesehatan. Sebagai manajer satu komunitas khususnya olahraga, maka kata di atas adalah dua kata terbaik yang pernah ditemukan dalam olahraga. Hargailah apa yang semua yang telah dilakukan, tidak ada bangun tidurnya seseorang untuk melakukan kesalahan. Motivasi yang luar biasa menjadikan kita adalah bagian dari tim, bagian dari membangun komunitas, bahkan peradaban.
Ketiga; menggerakkan berarti kombinasi dari kesediaan untuk bekerja keras, ketabahan emosional, kekuatan konsentrasi yang sangat besar, dan penolakan untuk mengakui kekalahan. Motivasi itu penting, tetapi saat kapan kita memberikannya, dan moment apa yang menjadikan suasana tersugesti dari motivasi, adalah hal yang lebih utama. Bukan menghindar dari kekalahan, tetapi kemenangan yang terencana adalah luar biasa, karena disanalah letak ilmu, skill serta nasib yang dijadikan harapan.
Keempat; dalam jangka panjang, prinsip lebih penting daripada kemanfaatan. Inilah simpul dari sebuah kepribadian kita dalam merefleksikan makna hidup ini. Seseorang yang telah mendapatkan alur logika yang kuat, manajemen yang akurat, maka hasil tidak akan mengingkari. Kebermanfaatan hari ini (aji mumpung) ternyata tidak dapat diakui sebagai prestasi, karena di atasnya ada warisan yang menjadi habit bahkan mental yang membeku seperti baja itulah prinsip hidup. Sebuah prinsip yang diimplementasikan dalam perencanaan, pengelolaan serta pengembangan berkelanjutan akan menghasilkan kebaikan, dan itulah yang tercatat sebagai warisan.
Semua kita memiliki mata, mulut dan telinga, tinggal bagaimana kita mensyukuri dan memaknai apa yang telah kita miliki hari ini. Olah raga adalah salah satu jalan yang mampu memberi ruang terhadap pengelolaan raga.
Tetapi lebih jauh dari itu ia telah mewariskan bagaimana jiwa mampu menembus semangat hidup, beraga sehat, dan yang utama menyadari ini semua untuk mengabdi kepada sang pencipta.
Sir Alex Ferguson telah membuktikan bukan hanya dengan kata-kata tetapi melalui klasemen sementara setiap pertandingan yang kita jalani dalam hidup ini.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.


















