Salah satu hal yang penting dalam bimbingan dan konseling ialah memahami individu secara keseluruhan baik masalah yang dihadapi maupun latar belakanganya. Dengan demikian individu akan memperoleh bantuan yang tepat dan terarah. Dengan kata lain perlunya pemahaman individu dalam layanan bimbingan dan konseling adalah agar individu memperoleh bantuan yang sesuai dengan kemampuan dan potensinya agar apa yang diharapkannya dapat tercapai (artinya individu dapat mencapai penyesuaian diri dengan dirinya sendiri, lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat). (Susilo dan Gudnanto, 2016:3).
Menjadi seorang pendidik diperlukan ilmu pengetahuan dan keterampilan, di samping bakat dan kemampuan, keduanya menjadi satu. Itulah keahlian atau kompetensi. Makanya ilmu pengetahuan dan keterampilan diajarkan secara akademik di fakultas ilmu pendidikan dan keguruan dapat diukur jadilah kompetensi lulusan.
Sementara bakat dan kemampuan boleh jadi lahir sebelum belajar, atau setelah mendapatkan pengetahuan bahkan bukan tidak banyak mereka yang menyadarinya setelah berdiri di depan kelas.
Pendidikan itu boleh jadi ilmu namun juga seni. Sebagai ilmu dapat dipelajari, sebagai seni adalah kemampuan diri untuk menjalankan peran diri. Inilah yang diperlukan ketika kita memahami peserta didik yang sangat ragam, kompleks dan progresif di kelas maupun di luar kelas.
Memang yang dipelajari yang baik-baik, tetapi yang di lapangan sungguh kadang jauh berbeda, kadang kala yang disebut peserta didik adalah orang-yang mau sadar patuh dan takut, ternyata di kelas sungguh luar biasa.
Mengatasi berbagai masalah tentang pendidikan dan pembelajaran yang terpusat pada peserta didik, disiplin ilmu bimbingan dan konseling memberi catatan penting. Dalam hal ini mengerti dan memosisikan peserta didik secara baik dan benar adalah awal dari memahami kompleksitasnya persoalan mereka.
Menurut Susilo Rahardjo dan Gudnanto ada tiga hal utama tujuan dari bimbingan dan konseling yang harus dimengerti oleh seorang pendidik yakni sebagai berikut:
a.Kita semakin mampu menerima keadaan individu (siswa) seperti apa adanya dan sekaligus keberadaan siswa baik dari segi kelebihan maupun kekurangannya.
Menerima apa adanya, itu sangat penting, mengerti latar belakang, lingkungan, dan situasi yang sedang dan terus terjadi itu lebih utama, karena dari sana kita dapat diterima oleh peserta didik sebagai bagian dari masalah yang ia hadapi.
b.Kita semakin mampu memperlakukan siswa sebagaimana mestinya dalam arti lain mampu memberikan bantuan seperti yang dikehendaki oleh siswa.
Tidak terlalu terburu-buru memberi batasan, apalagi memutuskan satu keputusan tentang masalah adalah tindakan bijaksana. Setelah mendengar, mengerti dan memahami, maka berbagai alternatif tentang kemungkinan untuk dilakukan sangat disarankan. Pilihan dengan risiko terbaik, atau lebih baik lagi beri sebagai pilihan yang harus diputuskan tanpa tekanan, dan berilah ini pada peserta didik senyaman mungkin.
c.Kita terhindar dari gangguan komunikasi, sehingga mampu menciptakan relasi yang semakin baik.
Tugas guru sebagai pembimbing dan konselor bukan berhenti dalam satu masalah, apalagi untuk satu tindakan saja.
Bila ingin berjalan dan berkelanjutan secara baik, maka cara komunikasi menjadi prioritas utama, jadikan mereka mitra pada saat tertentu, minta pula perannya pada momen yang lain, atau bahkan apresiasi ketika ada hal yang luar biasa. Nyaman di keluarga, nyaman di sekolah terlebih nyaman untuk teman sebayanya.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.


















