Value as a driving force in life, which gives meaning and validation to one’s actions. Values held in both intellectual and emotional terms. The combination of these two dimensions determines something that is worth functioning in life. If in giving meaning and validation to an action, it is not small, while not more intellectual, the combination is called the norm or principle. Norms or principles such as faith, justice, brotherhood and others become values that are agreed upon in the patterns of behavior and patterns of thinking of a group, while universal norms are determined, while special and comparable values for each group. Value is the essence that is attached to something that is very important for human life, especially regarding the goodness and acts of kindness of a thing, the value of the meaning of the traits or things that are important or useful for welfare. (Uqbatul Khair Rambe,2020).
Seorang yang tinggi bukan berarti ia memiliki kedudukan paling utama, seseorang yang gemuk tidak mesti paling dipertimbangkan, boleh jadi kulit putih tidak menjadi alasan mendapat tempat di depan, tidaklah ada alasan fisik menjadi pertimbangan dalam hal tertentu.
Tetapi ada pertimbangan lain yang selalu menjadi bagian penting ketika kita akan menempatkan kumpulan individu yakni nilai. Nilai dalam hal ini adalah sematan makna yang menjadi kebaikan, kebenaran atau mungkin kesetujuan kita dalam pandangan yang lebih umum.
Uqbatul Khair mencoba memberikan makna tentang nilai dalam kehidupan sehari-hari. Menurut beliau nilai adalah hakikat yang melekat pada sesuatu yang sangat penting bagi kehidupan manusia, terutama mengenai kebaikan dan tindakan kebaikan suatu hal, nilai makna sifat-sifat atau hal-hal yang penting atau berguna bagi kesejahteraan.
Semua kita harus mengerti, bahkan memahami nilai sebagai sesuatu yang penting khususnya untuk dasar tindakan dalam hidup bersama atau berkomunitas. Sedikitnya ada tiga hal penting yang harus diperhatikan tentang nilai dalam kehidupan yakni sebagai berikut:
Pertama, nilai sebagai penggerak dalam kehidupan, yang memberikan makna dan validasi terhadap tindakan seseorang. Ini memberi gambaran kepada kita bahwa seseorang itu melakukan sesuatu karena didorong oleh nilai yang akan dipertanggungjawabkan. Apakah memiliki nilai positif atau tidak kadang tergantung bagaimana cara pandangnya terhadap hidup ini, bahkan nilai agama, pendidikan selalu menggambarkan tindakannya.
Kedua, nilai dipegang baik dalam hal intelektual maupun emosional. Setinggi apapun tingkat pendidikan maka adab yang menjadi ukuran kebaikan, disinilah nilai para intelektual diukur dan diuji oleh komunitasnya. Terlebih ketika menghadapi masalah apakah mampu bersikap baik atau tidak, maka nilai emosional selalu menjadi ukuran. Hal ini penting karena kombinasi kedua dimensi antara intelektual dan emosional menentukan sesuatu yang layak berfungsi dalam kehidupan. Jika dalam memberikan makna dan validasi terhadap suatu tindakan, itu tidak kecil, sementara tidak lebih intelektual, kombinasi itu disebut norma atau prinsip.
Ketiga, norma atau prinsip seperti iman, keadilan, persaudaraan dan lain-lain menjadi nilai-nilai yang disepakati dalam pola perilaku dan pola pikir suatu kelompok, sementara norma universal ditentukan, sementara nilai-nilai khusus dan sebanding untuk setiap kelompok. Biasanya nilai akan menjadi teruji ketika seseorang hidup dari kelompok kecil meluas kepada kelompok yang lebih besar, apakah ia bertahan dengan nilai yang menjadi pandangan hidupnya atau justru luluh menjadi altruis dalam komunitas.
Mari jalani saja hidup ini seperti apa adanya, kita boleh saja memperjuangkan sebuah nilai baik untuk diri sendiri atau untuk kelompok tertentu, namun penuh dengan risiko sebagai bentuk tanggung jawab.
Nilai adalah bagian dari apa yang ada dalam kehidupan, tetapi bila kita terperangkap dalam sistem nilai yang kita definisikan sendiri, maka sama saja perjuangan kita tidak ada nilainya.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.


















