Indonesia is a very pluralistic society in which people from various backgrounds of tribe, race, and religion live together. In terms of religion, there exist in this country the great world religions, namely Hinduism, Buddhism, Christianity, and Islam. 1 Given this religious diversity, relations between the religious groups fluctuate. Sometimes the complexity of religious identities can bring harmony, but it can also lead to conflicts. In fact, in the past Indonesia with its diverse character was known as a model of a tolerant country in which people of different religious backgrounds could live together harmoniously.2 However, with the appearance of a number of conflicts between religious groups since the last decade, Indonesia is now more known for its history of conflict. (Zainul Fuad, 2007).
Di mana kita tinggal di sanalah kita berkeluarga dan bermasyarakat, apakah di kompleks, atau di perumnas bahkan di perdesaan sekalipun kita memiliki tetangga yang berbeda. Perbedaan tersebut sangat beragam, beda garis keturunan itu pasti, beda suku sangat banyak kita jumpai, beda agama justru selalu terjadi di masyarakat hari ini.
Perbedaan inilah yang menjadi bagian dari bagaimana kita sebagai individu atau keluarga apakah menerima, menolak, kompori, harmoni atau justru kita merasa sendiri di tengah mereka. Padahal masyarakat Indonesia sangat pluralistik, di mana masyarakatnya hidup berdampingan dengan berbagai latar belakang suku, ras, dan agama.
Melangkah keluar rumah, tetangga kita sudah pasti berbeda keluarga, namun justru dengan itu kita bisa saling berbagi untuk kebaikan, bahkan makanan dan pacitan atau kudapan menjadi alat untuk berkomunikasi. Tidak ada alasan karena pagar dan tembok rumah menjadikan kita tidak berhubungan dengan tetangga, justru orang paling bahagia adalah mereka yang memiliki tetangga baik.
Lebih jauh sedikit dari lima rumah kita menjumpai saudara beda suku, namun mereka memiliki ketekunan yang berbeda bahkan konsen pada bidang tertentu. Apakah mereka memiliki kedai penyuplai bahan pokok makanan, atau justru pemilik jasa transportasi. Intinya tetangga jauh ini, kita sangat butuhkan karena profesi dan pekerjaan mereka sangat terkait dengan kebutuhan dan pelayanan yang kita alami sehari-hari.
Sekali lagi tidak ada alasan untuk menempatkan mereka berbeda suku, yang ada adalah justru kita harus menempatkan mereka menjadi bagian dari upaya membangun keberhasilan diri, bersama dan bahkan berkerjasama.
Lebih jauh lagi di luar kompleks kediaman, kita menjumpai saudara kita yang berbeda agama, memiliki cara ibadah yang berbeda, bahkan makanan dan minuman kadang harus disela.
Posisi dan kondisi seperti ini bukan untuk dijadikan jalan lain dalam membina dan membangun kerja sama, bayangkan ketika kita liburan hari raya kita butuh mereka untuk menjaga. Layanan yang lebih besar seperti rumah sakit, kepolisian maupun transportasi akan sangat efektif dengan kehadiran saudara kita yang berbeda agama ketika berliburan atau hari raya.
Memahami perbedaan sebagai sebuah anugerah adalah keniscayaan yang luar biasa, siapa saja yang tidak ingin mengikuti maka boleh jadi dia akan sendiri dalam keramaian.
Dalam catatan penelitian Prof.Zainul Fuad, M.Phil, Ph.D bahwa dari segi agama, di negeri ini terdapat agama-agama besar dunia, yaitu Hindu, Buddha, Kristen, dan Islam.
Namun perlu dicatat ada dua hal penting yakni; pertama dengan adanya keberagaman agama tersebut, hubungan antar kelompok agama menjadi fluktuatif. Penelitian ini memberi gambaran bahwa terkadang kompleksitas identitas agama dapat mendatangkan kerukunan, tetapi juga dapat menimbulkan konflik.
Padahal, di masa lalu Indonesia dengan karakternya yang beragam dikenal sebagai model negara yang toleran, di mana masyarakat yang berbeda latar belakang agama dapat hidup berdampingan secara harmonis.
Catatan yang kedua adalah bahwa dengan munculnya sejumlah konflik antarkelompok agama sejak dasawarsa terakhir, kini Indonesia lebih dikenal dengan sejarah konfliknya.
Sebagai peneliti tentu obyektifitas dari data dan fakta menjadi hal utama untuk disampaikan dan diungkap ke khayalak dan pastilah ada analisis mendalam untuk tawaran solusi di masa mendatang.
Anehnya justru fluktuatif dari konflik tersebut tidak terindikasi sebagai perlawanan atas nama agama, bangsa, suku dan ras yang lebih besar lagi.
Artinya gejolak lokal yang dipicu oleh hal-hal kecil selalu mendominasi konflik, dan ternyata ada lembaga formal dan non formal yang siap dan sigap mengatasinya.
Prof Zainul Fuad menyadari hal di atas telah lama bahkan lebih dari 20 tahun, akhirnya beliau pernah dipercaya menggawangi rumah moderasi beragama. Wadah ini diharapkan menjadi katalisator terkait perbedaan adalah fakta, kebersamaan adalah harapan, dan keharmonisan adalah anugerah.
Dari mana dimulai, dari kampus, dari kalangan intelektual memberikan pemikiran yang terformalkan baik dalam bentuk kegiatan, pembinaan maupun kajian perspektif.
Itulah Indonesia, di sanalah ada keluarga kita, dari rajutan tetangga yang berbeda, akhirnya semua kita dapat menikmati perbedaan sebagai anugerah yang berkah.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.



















