Konsep bermain sambil belajar harus dikondisikan dalam suasana belajar aktif dan kreatif. Selain untuk mengembangkan konsep belajar sambil bermain juga untuk menunjang perkembangan inteligensi anak secara tepat. Anak usia dini memiliki inteligensi laten (potensial intelegence) yang luar baisa. Selain itu, anak-anak memiliki rasa ingin tahu yang luar biasa serta kemampuan menyerap pengetahuan yang tinggi. Semua hal yang baru selalu diidentifikasi anak dengan menggunakan kelima indranya dengan melihat, mendengar, meraba, mencium dan mengecapknya. (Popy Nugraha dkk, 2008:iv).
Ada masa di mana anak ingin melakukan sesuatu apa saja yang diinginkan, tentu ini bukan tidak beralasan. Secara psikologis mungkin saja karena anak memperoleh rangsangan untuk melakukan sesuatu, begitu juga dari sisi pertumbuhan memberi rangsangan untuk terus berbuat.
Dari sinilah kita sebagai orang dewasa boleh memerankan diri menjadi lingkungan untuk memberi suasana agar anak tumbuh dan berkembang sesuai dengan apa yang kita inginkan.
Popy Nugraha melihat bahwa anak memang tumbuh dan berkembang sesuai dengan iramanya masing-masing, namun lingkungan yang ada disekitarnya sangat besar berpengaruh bahwa memiliki peran terhadap kemajuan perkembangan tersebut.
Dalam perspektif belajar ada lima hal penting untuk merangsang perkembangan tersebut terkait kemampuan inteligensi yakni sebagai berikut:
Pertama, melihat pemandangan yang unik.
Bila anak melihat hal yang berbeda dari biasanya maka jangan dilarang, selagi pemandangan tersebut masih dalam kenormalan maka itu adalah hal baik. Maksudnya anak tidak mesti diberi pengalaman yang biasa-biasa saja, tetapi berilah kebebasan untuk mengetahui hal-hal baru bahkan diluar dunia anak sekalipun. Ini menjadi bagian penting untuk merangsang kognitif atau mendapatkan pengetahuan baru.
Kedua, mendengar suara yang aneh.
Sehari-hari anak boleh saja mendengar panggilan orang tua, teman atau orang lain. Namun ketika ada lingkungan yang berbeda dia akan mendengarkan sesuatu yang aneh, disinilah kita harus memberi pengertian bahwa semua itu adalah hal lumrah. Sebaiknya kita memberi penjelasan bahwa suara itu adalah bagian yang ada di lingkungan kita dan harus dimengerti dan dinikmati. Boleh jadi anak justru tertarik pada satu jenis suara dan menghantarkan dia menjadi penyanyi, atau pemain musik dikemudian hari.
Ketiga, meraba benda yang aneh.
Setiap keadaan memiliki hal yang berbeda, setiap saat ada saja yang dapat diperbuat, maka tidak ada yang sama dalam hidup ini kapanpun, dan dimanapun. Benda yang baru dijumpai dianggap aneh dan memberi ransangan pada anak untuk ingin mengetahui lebih jauh. Dari sini anak dapat diarahkan bukan untuk menakuti benda tersebut, tetapi justru menjadikannya pengetahuan yang berbeda dan bila dikembangkan ia akan menjadi peneliti atau boleh jadi pencinta benda aneh untuk dibisniskan.
Keempat, mencium aroma yang semerbak.
Pengetahuan dapat diperoleh dari mana saja bahkan dari penciuman sekalipun. Dengan mencium aroma yang berbeda dari sebelumnya justru hal tersebut merancang anak ingin mendapatkan informasi yang lebih lengkap. Biasanya diawali dari penasaran mengapa ada aroma yang semerbak, dan dari sini bukan harus dihindari tetapi diajak untuk mengetahui asal muasal, disinilah anak dibiasakan untuk mengetahui lebih jauh lebih lengkap.
Kelima, mengecap rasa yang menggiurkan.
Rasa adalah bagian yang melekat dari benda yang ada disekitar kita. Tetapi seseorang harus melakukan dengan cara mengecap sehingga mengetahui apa rasa yang sampai ke otak anak, dengan itu pula ia akan dapat mengendalikan dengan respon tertentu. Inteligensi diawali dari kegiatan mengetahui, memahami kemudian memberi respon dengan cara konsisten.
Kelima hal di atas kadang tidak disadari dilakukan anak ketika di rumah, di sekolah dan lebih banyak saat bermain dengan teman-temannya. Disinilah kita harus menyadari bahwa bermain tidak selamanya tanpa makna, tetapi justru dari sana kita dapat memberikan lingkungan anak agar tumbuh secara fisik, dan berkembang secara psikologis. Bila ini berlangsung berulang dalam perhatian orang tua maka rancangan untuk mengembangkan inteligensi anak akan menjadi nilai positif.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.


















