wartagarudaonline-Medan | Pencopotan Musa Rajekshah (Ijeck) dari jabatannya sebagai Ketua DPD Partai Golkar Sumut semakin membenarkan dugaan tentang rendahnya kualitas dan karakter kepemimpinan Bahlil Lahadalia di dalam memimpin Partai Golkar.
Sebab, pencopotan Ijeck tersebut berarti membuang kader berprestasi demi memenuhi ‘permintaan’ pihak luar yang tidak ada kaitannya dengan kepentingan Partai Golkar.
Tokoh senior Golkar Sumut, Dr KRT H Hardi Mulyono Surbakti MAP menegaskan hal itu berkaitan dengan kebijakan DPP Golkar yang mencopot Ijeck dan menggantikannya dengan Ahmad Doli Kurnia sebagai Plt Ketua DPD Golkar Sumut.
Hardi Mulyono menyebutkan, berdasarkan informasi diperolehnya dari beberapa sumber di DPP Golkar, bahwa pencopotan tersebut karena Ijeck tidak mau melaksanakan Musda Golkar Sumut dengan calon tunggal Hendriyanto Sitorus, Ketua Golkar Kabupaten Labuhanbatu Utara yang juga bupati.
Sebagaimana dipahami masyarakat Sumut, munculnya nama Hendriyanto itu diduga kuat merupakan usulan dari Bobby Nasution yang kini menjabat sebagai Gubernur Sumut.
“Dengan demikian, sangat kuat dugaan, pencopotan Ijeck tersebut atas permintaan dari Bobby Nasution,” ujar Sekretaris Dewan Pertimbangan Golkar Sumut 2020-2025, yang mengundurkan diri setahun lalu.
Memalukan
Karenanya, Hardi Mulyono menyimpulkan, pencopotan Ijeck tersebut semakin membenarkan dugaan banyak orang tentang rendahnya kualitas dan karakter kepemimpinan Bahlil Lahadalia di dalam memimpin Partai Golkar.
“Bahlil mencopot kader Golkar berprestasi, semata untuk memenuhi permintaan orang luar. Hal itu sungguh sangat memalukan,” ujar Hardi, Sekretaris Golkar Sumut periode 2009-2012 tersebut.
Sebagaimana diketahui, Golkar Sumut di bawah kepemimpinan Ijeck berhasil menjadi partai pemenang pada Pileg 2024. Untuk DPR-RI, Golkar Sumut meraih delapan kursi atau meningkat seratus persen dibanding Pileg 2019 yang henya memperoleh empat kursi. Jumlah ini menjadikan Golkar Sumut sebagai partai yang memperoleh suara terbanyak di DPR-RI.
Sedangkan untuk DPRD Sumut, Golkar Sumut meraih 22 kursi dan berhak menduduki kursi Ketua DPRD Sumut. Jumlah ini jauh meningkat dibanding pileg sebelumnya yang hanya memperoleh 15 kursi.
Sedangkan untuk DPRD di 33 kab/kota se-Sumut, Golkar Sumut meraih 208 kursi dan jauh dibandingkan perolehan pada Pileg sebelumnya sebanyak 184 kursi.
“Semua prestasi Golkar Sumut itu, berkat kualitas kepemimpinan Ijeck yang mumpuni dalam memimpin Golkar Sumut. Jujur mesti diakui, bahwa Ijeck adalah kader Golkar terbaik di Sumut sepanjang belasan tahun saya di Golkar,” tegas Ketua Fraksi Golkar DPRD Sumut tahun 2014-2019, yang juga Rektor Universitas Muslim Nusantara (UMN) Al-Washliyah Medan 2018-2023 tersebut.
Ditegaskan Hardi, Keputusan Bahlil Lahadalia mencopot Ijeck dengan jelas telah mengancam soliditas Golkar Sumut yang selama ini telah terbangun secara baik.
Apalagi alasan pencopotan tersebut sungguh sangat tidak bisa diterima akal sehat oleh masyarakat dan para kader Golkar di Sumatera Utara.
“Bahlil telah merusak soliditas Golkar Sumut, sekaligus membunuh akal sehat para kader Golkar di Sumut,” tegas Hardi Mulyono. (Uj)



















