Kabar mengejutkan datang dari klub asal London Barat, Chelsea, yang mendadak sontak memutus hubungan kerja dengan manajer mereka Enzo Maresca. Klub yang bermarkas di Stamford Bridge itu secara resmi berpisah dengan Maresca pada Kamis (1/1/2026).
Kabar ini dianggap mengejutkan, sebab dalam waktu relatif singkat (18 bulan melatih Chelsea), Enzo Maresca sudah mempersembahkan dua trofi bergengsi, Conference League dan Piala Dunia Antarklub 2025 kepada klub berjuluk The Blues tersebut.
Bahkan jika dibandingkan dengan Mikel Arteta yang sangat nyaman duduk di kursi kepelatihan Arsenal, prestasi Enzo Maresca justru lebih baik. Sebab, Arteta yang sudah enam tahun lebih menangani skuad The Gunners, justru baru bisa mempersembahkan dua trofi yang kurang bergengsi, FA Cup dan Community Shield.
Konon, pemecatan pelatih asal Italia tersebut, karena dianggap memiliki visi yang tidak sejalan dengan para petinggi klub saat ini. Mulai dari soal penanganan cedera hingga pemilihan pemain di setiap pertandingannya.
Lalu, apa kaitan pemecatan Enzo Maresca dengan politisi Partai Golkar, Musa Rajekshah atau akrab disapa Ijeck ? Kaitan secara tidak langsung memang tidak ada, tetapi modus operandi pemecatan itu, memiliki pola yang relatif sama.
Seperti halnya Enzo Maresca, Ijeck juga tercatat sebagai sosok yang sangat sukses menakhodai Partai Golkar Sumatera Utara, yakni kembali membawa partai berlambang beringin itu menjadi numero uno di Sumatera Utara pada Pileg 2024 lalu, mengalahkan PDI Perjuangan, sekaligus meraih kursi Ketua DPRD Sumut.
Tak cuma itu, Ijeck juga ikut berkontribusi dalam meningkatkan raihan kursi DPR RI Partai Golkar dari daerah pemilihan Sumatera Utara. Selain itu, fasilitas kantor Partai Golkar di Sumut juga sebagai salah satu yang terbaik selama berada di bawah kepemimpinan Ijeck.
Tolok ukur keberhasilan menjadi pimpinan partai adalah adanya peningkatan raihan kursi pada Pemilu legislatif serta mampu mewujudkan sarana dan prasarana perkantoran yang representatif. Dalam hal ini, Ijeck sudah mampu merealisasikannya.
Sedangkan, acuan keberhasilan menjadi pelatih sepak bola adalah hadirnya raihan trofi yang dipajang di almari klub. Dalam hal ini, Enzo Maresca juga sudah mampu mewujudkannya hanya dalam tempo kurang dari 2 tahun, dengan raihan dua trofi bergengsi.
Saat ini Chelsea juga tidaklah buruk-buruk amat, karena kompetisi masih panjang dan diyakini cukup mampu bersaing di papan atas dengan Arsenal, City, Villa dan Liverpool. Tetapi, Enzo tetap dipecat, hanya karena ketidaksukaan pihak manajemen klub kepadanya.
Nah, pertanyaannya, mengapa setelah keberhasilan bisa ditorehkan, Ijeck dan Enzo tetap dipecat. Faktor manajemen suka atau tidak suka (like or dislike) patut diduga menjadi alasan di balik pencopotan Ijeck sebagai ketua DPD Partai Golkar Sumatera Utara, selain tentu akibat adanya (dugaan) intervensi dari pihak luar partai.
RESISTENSI
Tidak mengherankan, jika pencopotan Ijeck memunculkan resistensi dari para senior dan kader partai, yang menganggap keputusan ketua umum DPP Partai Golkar tidak bijaksana, serta cenderung semena-semena dan bertentangan dengan akal sehat. Demikian halnya pemecatan Enzo mengundang keheranan para fans dan pundit sepak bola
Sungguh aneh,..orang berprestasi seperti Ijeck dan Enzo kok malah dicopot. Tetapi, apa hendak dikata, begitulah fenomena yang umum terjadi, ketika kekuasaan dikelola oleh orang-orang yang tidak terlalu peduli dengan reward and punishment atau urgensi merrit system.
Yang dominan saat ini, seseorang akan memiliki posisi aman dan nyaman di partai jika dia memiliki cantolan alias dekat dengan pimpinan partai. Tidak terlalu penting, apakah dia becus bekerja atau tidak. Jauh lebih penting, loyalitas tanpa batas dan kemampuan menerapkan sikap asal ketua senang (AKS).
Sejatinya, penerapan manajemen like or dislike, secara politis mungkin sah-sah saja. Tetapi dalam perspektif moralitas dan pentingnya pendidikan politik serta keteladanan, hal itu akan menjadi preseden buruk bagi generasi muda bangsa.
Untuk itu, para elite politik diimbau supaya segera menghentikan tindakan yang terkesan semena-mena dan mengabaikan rasa keadilan serta membuat kadernya merasa tidak diuwongke, yang bisa jadi membuatnya terpaksa berpaling ke partai lain.
Para ketua partai and his gank tidak boleh terlalu kejam dan memperturutkan syoor mereka saja. Para ketua umum partai juga berkewajiban mendengar aspirasi kader di bawah, grass root. Ketua partai jangan sampai mengejawantah menjadi si Raja Tega dan Machiavellis. Ingat ketua, Gusti ora sare ! (**)


















