Seseorang yang benar-benar yakin pada kekuasaan Allah maka ia tidak akan mudah berputus asa. Ia akan menerima segala bentuk ujian dengan hati yang lapang. Ia mengetahui bahwa semuanya berasal dari Allah dan akan kembali pada Nya. Prinsip seperti ini yang akan membuat seseorang berpikir positif. Dan ketahuilah, pikiran positif akan membawa hasil yang positif pula. (Amr Khaled, 2008:62).
Diketahui seorang murid harus mendapatkan nilai A untuk mata pelajaran tertentu agar dapat masuk ke sekolah negeri pada tingkat selanjutnya.
Suatu ketika apa yang dialaminya, murid tersebut mengikuti ujian akhir semester, terlalu lama ia memulai menuliskan jawaban, sampai akhir waktu yang ditetapkan ia tetap menulis karena mungkin semua jawaban sudah ada di kepalanya, tinggal memindahkan untuk menjadi tulisan.
Dia ini pantas kita beri istilah “sulit memulai lebih sulit mengakhiri”. Kita tidak tahu persis apa yang terjadi pada diri murid tersebut, tetapi yang lebih sulit dipahami, mengapa ia mesti memikirkan apa hasil dari pekerjaannya.
Hal ini diketahui oleh seorang guru, dan guru pun bingung, mengapa seorang murid harus memikirkan nilai yang akan diperoleh, padahal nilai itu adalah prerogatif guru untuk memberikan dengan dasar pertimbangan dan akhirnya sebuah keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Begitulah kita dalam kehidupan ini, kalau kita terlalu memikirkan apa hasil dari kegiatan kita, mungkin kita terkuras waktu akhirnya mengganggu proses yang sedang kita laksanakan, bisa saja proses yang tidak optimal, maka hasilnya pun tidak maksimal.
Dalam beribadah kepada Tuhan, mengapa kita mesti terlalu khawatir diterima atau tidak pengabdian kita, ada memang kapling atau ranah di mana Tuhan memberi kuasa, dan itu menjadi bagian dari keyakinan.
Bukan tidak banyak orang-orang menawarkan bagaimana tiket masuk surga, investasi akhirat dan lain sebagainya memakai target atau hitung-hitungan seperti dunia manusia.
Orang yang terlalu memikirkan surga dan neraka, maka berkurang waktunya untuk melakukan ibadah mencapai surga dan menghindari neraka. Kita harus percaya tugas makhluk adalah berakhlak kepada khalik, dengan cara ibadah sesuai dengan kesanggupan titik.
Soal diterima atau tidak, apakah bernilai berkualitas sampai pada imbalan yang akan diberikan itu adalah prerogatif sang Khalik, jangan sekali-kali kita pikirkan secara berlebihan, apalagi turut menentukan.
Pekerjaan orang yang menawar-nawarkan surga dan neraka dengan berbagai jalan sesungguhnya tidak lebih dari logika terbalik, ini surganya cara ini mencapainya, itu nerakanya cara itu pula menghindarinya.
Sungguh ibadah bukan menggunakan logika tujuan baru kegiatan, tetapi beramallah sesuai dengan kemampuan, maka Tuhan akan memberi imbalan sesuai dengan kesanggupan.
Cara berpikir yang diawali dengan positive thinking terhadap apa yang dimiliki, sebagai sebuah kekuatan dan kemampuan adalah hal yang luar biasa. Dengan cara ini, kita akan selalu optimis melakukan sesuatu dan akan bernilai ibadah bila semua diserahkan pada yang maha kuasa.
Lakukanlah apa yang ada didepan mata, jangan terlalu jauh memikirkan apalagi menggapai angan-angan yang belum tentu ada. Sesungguhnya ibadah rutin, dari yang kecil dan bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari itu akan lebih bermakna.
Memang ada ibadah besar hanya diwajibkan bagi yang mampu seumur hidup itupun pada orang-orang tertentu, tetapi sesungguhnya nilai yang diberikan oleh Tuhan adalah kemampuan kita sendiri mengukur apakah punya niat atau tidak.
Jadi niat itu kecil, dekat dan dapat dilakukan dilatih setiap saat dan mulailah melakukannya dari diri sendiri, dari apa yang kita sanggup saat ini.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.


















