Setiap bangsa atau suku bangsa memiliki kebudayaan sendiri-sendiri yang berbeda dengan kebudayaan bangsa atau suku bangsa yang lainnya. Demikian pula suku bangsa Jawa. Ia memiliki kebudayaan khas di mana dalam sistem atau metode budayanya digunakan simbol-simbol atau lambang-lambang sebagai sarana atau media untuk menitipkan pesan-pesan atau nasehat-nasehat bagi bangsanya. (Budiono Herusatoto, 1991:1).
Bila kita berjumpa dengan seseorang kemudian berkomunikasi, selanjutnya bertransaksi, bahkan ada yang sampai pada kesepakatan untuk saling berbagi.
Dalam berkomunikasi selalu ada simbol yang disepakati paling tidak lewat bahasa, begitu juga ketika bertransaksi mungkin sudah ada kesepakatan di antara mereka, dan akhirnya mengapa terjadi kesepakatan tidak lebih karena saling percaya diiringi saling menghargai. Itulah yang terjadi setiap hari pada diri kita dalam kehidupan yang semakin lama semakin kita nikmati.
Berjumpa dengan orang lain semakin hari semakin banyak yang kita lakukan, bertambah orang, bertambah pula proses saling berbagi, bahkan bertambah luas pula jangkauan komunitas.
Dari sini kita akan mengalami masa di mana dari individual menuju sosial, tentu berbagai konsekuensi menanti dan disetujui. Ingin diterima dalam satu komunitas, bahkan bangsa, maka ada aturan yang harus disetujui bahkan diikuti bila tidak maka ada yang membatasi.
Kita selalu memperhatikan mengapa seseorang selalu menggunakan bahasa yang khas, bahkan cara menyampaikan melalui kiasan, bahkan simbol tertentu.
Begitu kita menjumpai seorang dengan identitas suku Jawa, maka ia memiliki kebudayaan khas di mana dalam sistem atau metode budayanya digunakan simbol-simbol atau lambang-lambang sebagai sarana atau media untuk menitipkan pesan-pesan atau nasihat-nasihat bagi bangsanya dan orang lain.
Sebagai contoh dalam adat Jawa tidak boleh mendahului sebelum diminta atau diperintah oleh yang berkuasa. Simbol “Pakewuh” bukan basa basi, tetapi menunjukkan tata krama yang harus dihormati disana ada pihak yang lebih pantas, dan mungkin lebih membutuhkan.
Simbol “Mengalah” untuk mendapatkan yang lebih berkah diperlukan strategi bagaimana cara memperoleh sesuatu dengan tidak menyakiti orang lain, mungkin persoalan waktu dan tempat maka perlu strategi. Dan banyak lagi simbol-simbol lainnya mengiringi tata cara pergaulan khususnya dalam berinteraksi, bahkan sampai transaksi.
Satu kali kita berinteraksi, maka satu nilai harus dipraktikkan bahkan setiap saat harus dievaluasi, apakah berjalan atau justru hilang tidak ada yang menggunakan.
Sungguh simbol bukan sekadar bagian dari adat atau budaya, tetapi memberi rambu-rambu bahwa kita hidup harus menjaga nilai yang memelihara keharmonisan dalam setiap transaksi.
Kita setuju bahwa setiap bangsa atau suku bangsa memiliki kebudayaan sendiri-sendiri yang berbeda dengan kebudayaan bangsa atau suku bangsa yang lainnya. Untuk itulah maka Budiono berani menuliskan bahwa dari data sejarah ternyata penggunaan simbol ini telah mulai sejak zaman prasejarah.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.


















