Seorang pengajar yang baik tidak hanya cukup bermodalkan keahlian ilmu tertentu yang ditata menjadi suatu mata ajar. Dalam komunikasi, pengajar adalah komunikator. Tugas dia tidak hanya berbicara di hadapan peserta didik, melainkan ia harus mampu mengolah materi sebagai pesan yang memenuhi persyaratan komunikasi yang baik.
Untuk itu teknologi pendidikan mendukung penyelesaian tugas pengajar ini dengan upaya belajar dalam pola inservice training. Tidak hanya itu, teknologi pendidikan mendorong pengajar untuk mampu mendesain belajar yang menyelenggarakan pembelajaran berlandaskan teori belajar dan pembelajaran. Pembekalan ini dapat dilaksanakan oleh calon pengajar dalam perservice training. (Dwi Salma, 2012:123).
Yang sudah mampu mengajar, maka mengajarlah, yang belum mampu maka belajarlah. Belajar bagaimana cara mengajar itu perlu, karena pengajar yang baik adalah mereka yang terus menerus menjadikan belajar adalah bagian dari kehidupannya.
Inilah salah satu risiko bagi seorang guru dosen sebagai pengajar, di mana ia terus belajar baik belajar tentang cara mengajar, terlebih belajar bagaimana menjadikan orang lain senang belajar.
Pemaknaan mengajar terus progresif apakah alasan psikologi, edukasi, training dan lain sebagainya, kini mengajar itu memang terkesan satu arah atau juga disebut dengan one way communication, belajar mengajar adalah dua arah two way communication dan pembelajaran itu proses interaksi banyak arah atau multi way communication.
Pertama komunikasi satu arah, adalah para pengajar yang masih mengandalkan apa yang dimiliki untuk disampaikan kepada orang lain. Mati-matian mengumpulkan bahan untuk dipresentasekan, persiapan matang sampai mengabaikan kesehatan, merekalah yang jam mengajarnya tidak boleh diganggu. Banyak jam mengajar banyak pendapatan, mungkin rezekinya sangat tergantung dari kemampuan mengajarnya selama ini. Risiko lain yang didapatkan adalah hampir tidak peduli pada peserta didik yang penting banyak mengajar.
Kedua komunikasi dua arah, memperhatikan peserta didik sebagai lawan bicara, adalah penting. Dialog atau berdebat tentang satu masalah sampai pada menyiapkan peserta didik untuk panggung seminar dijadwalkan dengan baik. Bahkan membuat buku, hand out sampai video adalah adalah bantuan penting. Jadilah belajarnya peserta didik adalah tujuan utama, disini juga mengajarnya sipendidik akan terlaksana.
Ketiga komunikasi banyak arah, dimana ahli mengajar akan menyadari bahwa sumber ilmu pengetahuan bukan pada dirinya, tetapi ada di dunia nyata, maka tugasnya adalah memfasilitasi orang lain agar mau belajar. Semakin semangat dan ambisi peserta didik untuk belajar maka disaat itulah pengajar semakin melepaskan perannya. Hasilnya ketika peserta didik sudah tidak membutuhkan pendidik, dimana belajar sudah menjadi habit, maka tinggal pengarahan dan pemberian berkah sebagai penutup dalam mengajar kemudian selesai.
Tugas utama mengajar dalam kelompok pertama adalah mereka yang takut digantikan oleh teknologi pendidikan, sementara mengajar dalam kelompok kedua mulai terasa perlunya teknologi membantu efektifitas mengajar. Tetapi pada kelompok ketiga justru teknologi pendidikan menjadi paradigma utama yakni memberi kemudahan orang belajar, dengan tidak membuat ketergantungan.
Sumber belajar begitu kaya di seantero dunia, kita pun sepakat bila teknologi pendidikan membantu melayani semua orang bisa belajar, dan semua berhak mendapat keberhasilan.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.



















